<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483</id><updated>2012-02-16T15:00:37.079-08:00</updated><category term='Psikopathologi'/><category term='Bimbingan Konseling'/><category term='Analisis Jabatan'/><title type='text'>corat-coret</title><subtitle type='html'>coretan RM</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-4892963273398497731</id><published>2010-07-13T20:45:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T20:46:05.197-07:00</updated><title type='text'>komunikasi</title><content type='html'>Komunikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk sosial, yang hanya bisa berkembang dan mampu bertahan hidup melalui interaksi dan bekerja sama dengan orang lain, begitu pula dengan santri yang belajar, menuntut ilmu di pondok pesantren dan terbiasa hidup jauh dari keluarga. Kalangan santri di domunasi oleh remaja yang memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi di masa remaja. Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak - kanak ke masa dewasa. Havighurst (Monks dkk, 1999) salah satu tugas perkembangan yang harus dipenuhi di masa remaja yaitu dapat memperluas hubungan antar pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan orang lain, untuk itu remaja dituntut memiliki kemampuan berhubungan dan bekerja sama dengan orang lain secara efektif. &lt;br /&gt;Komunikasi dikatakan efektif apabila dalam melakukuan komunikasi tercipta rasa saling menyukai antara individu satu dengan yang lainnya, namun sebaliknya jika tidak ada rasa saling menyukai dan membuat hubungan antar individu menjadi tidak baik maka individu akan mengalami kegagalan dalam berkomunikasi. Oleh karena itu komunikasi memiliki arti yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan seseorang dalam berinteraksi dengan dunia sosialnya (Rakhmat, 2001).&lt;br /&gt;Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi sosial secara efektif merupakan hal terpenting bagi seseorang, terutama bagi remaja. Hal ini dikarenakan masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Pada masa ini remaja mengalami perubahan, baik perubahan fisik maupun psikologis, dan memiliki tugas perkembangan yang harus dipenuhi salah satunya dapat memperluas hubungan antar pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan teman sebaya, baik pria maupun wanita. Begitu pula dengan remaja yang tinggal di pondok pesantren atau biasa disebut dengan santri, diharapkan mampu memenuhi tugas-tugas perkembangannya. Pada umumnya remaja yang tinggal di pondok pesantren berusia antara 12 sampai 22 tahun. Usia tersebut sesuai dengan batasan umur remaja yang dikemukakan oleh Haditono (Monks dkk, 1994). &lt;br /&gt;Namun dalam komunikasi pada umumnya dan khususnya pada komunikasi interpersonal terdapat adanya gangguan–gangguan dalam berkomunikasi yang dikenal dengan nama communication apprehension, yaitu reaksi negatif dalam bentuk kecemasan yang dialami seseorang dalam pengalaman komunikasinya (Rakhmat, 2001).&lt;br /&gt;Menurut Burgoon dan Ruffner (Rosna, 2005), kecemasan dalam komunikasi interpersonal adalah suatu keadaan individu yang tidak menentu dan tidak berdaya dalam berkomunikasi sehingga menyebabkan individu gemetar, takut, banyak mengeluarkan keringat dan kehilangan kata-kata saat berhadapan dengan teman baru, guru, dosen, orang penting atau orang yang tidak dikenal. &lt;br /&gt;Pada saat ini masih banyak remaja yang merasa takut, khawatir, ragu-ragu, dan terlihat gemetar serta mengeluarkan banyak keringat ketika berkomunikasi dengan orang lain, termasuk remaja yang tinggal di pondok pesantren. Pernyataan tersebut didukung dari hasil wawancara dengan salah satu kepala pondok pesantren yang ada di jawa tengah. Kurang lebih 10 – 15 %, remaja di pondok pesantren mengalami kecemasan saat berkomunikasi.&lt;br /&gt;Penelitian yang dilakukan oleh Croskey (Rakhmat, 2001) di Amerika memperlihatkan hasil bahwa 15 – 20 % mahasiswa di Amerika Serikat menderita communication apprehension, yang artinya individu dalam berkomunikasi merasa cemas dan takut, baik dalam situasi umum ataupun khusus, kondisi formal maupun informal. Hurt dkk (Wulandari, 1991) menyatakan, penelitian di beberapa perguruan tinggi di Amerika Serikat, menunjukkan 10 – 20 % mahasiswa di Amerika Serikat, mengalami kecemasan dalam melakukan komunikasi dengan orang lain dan adanya rasa khawatir terhadap dirinya mengenai respon dari orang lain. Burgoon dan Ruffner (Wulandari, 1978) yang melakukan penelitiannya di Amerika Serikat mengemukakan bahwa 10 – 20 % populasi di Amerika Serikat mengalami kecemasan berkomunikasi yang sangat tinggi, dan sekitar 20 % yang mengalami kecemasan komunikasi yang cukup tinggi.&lt;br /&gt;Dinyatakan oleh Burgoon dan Ruffner (Mariani, 1991) bahwa ciri-ciri kecemasan dalam komunikasi interpersonal meliputi kontrol yang kurang atau rendahnya pengendalian terhadap situasi komunikasi yang terjadi karena individu tidak mampu menyesuaikan diri dengan orang lain. Kontrol yang kurang atau tidak mampu mengendalikan diri dalam situasi komunikasi mengakibatkan individu tertekan, sulit untuk berkomunikasi dan tidak berani mengungkapkan pendapat secara optimal, yang diwujudkan dalam perilaku seperti bicara agak gugup, jantung berdebar dan berkeringat dingin saat berinteraksi dengan orang lain sehingga kalimat yang diucapkan ketika berbicara kurang jelas dan sulit dimengerti orang lain. Individu yang mengalami kecemasan dapat dilihat dari kurang minat (keengganan) berkomunikasi dan menghindar untuk terlibat dalam komunikasi, yang ditandai oleh usaha individu untuk tidak berbicara di depan banyak orang, menutup diri dan kurang berpartisipasi dalam berbagai komunikasi yang ditunjukkan dengan perilaku seperti ragu-ragu, was-was dan tidak bisa berkonsentrasi ketika berkomunikasi dengan orang lain. &lt;br /&gt;Kecemasan dalam berkomunikasi terjadi karena remaja memiliki penilaian yang negatif terhadap situasi dan kondisi komunikasi sehingga memunculkan rasa takut, minder dan kurang terbuka dalam berkomunikasi dengan orang lain. Ketegangan yang muncul saat seseorang berkomunikasi dapat dikarenakan ketidakyakinan seseorang akan kemampuannya untuk menyampaikan sesuatu. Hal ini dapat dikarenakan pengalamannya dalam berkomunikasi tidak selalu mulus atau tidak semua ide diterima oleh pasangan komunikasinya.&lt;br /&gt;Individu yang cemas akan mengungkapkan sesuatu yang berarti ganda atau ambigu (Burgoon &amp; Ruffner 1978). Hal ini dijelaskan oleh Croscy (Rakhmat (1986) bahwa informasi yang disampaikan oleh individu yang mengalami kecemasan dalam komunikasi interpersonal akan diterima oleh orang lain sebagai informasi yang kacau, misalnya saat berkomunikasi individu kurang jelas menyampaikan isi pesan karena terbata-bata saat berbicara dan merasa takut sehingga kalimat yang diucapkan menjadi kurang jelas dan membuat penerima pesan kurang mengerti apa yang disampaikan. Begitu juga apabila individu yang mengalami kecemasan dalam komunikasi menjadi penerima informasi, maka akan mendapatkan informasi yang kabur atau tidak jelas karena individu merasa minder dan kurang terbuka sehingga tidak dapat memberi umpan balik. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa timbulnya kecemasan dalam komunikasi interpersonal pada remaja akan menghambat kemampuan individu sebagai komunikator dalam menjalankan komunikasi yang efektif. &lt;br /&gt;Rakhmat (1986) mengemukakan bahwa kecemasan yang timbul pada saat seseorang berkomunikasi dapat menyebabkan individu menarik diri dari pergaulan serta menghindari suasana komunikasi. Dampak lebih lanjut akibat minimnya komunikasi menyebabkan remaja mengalami kesulitan dalam menerima informasi, sulit untuk menyesuaikan diri, kurang teman untuk diajak bekerja sama dan akhirnya kurang dapat membina hubungan yang akrab dengan orang lain. Padahal sebagai remaja harus mampu berinteraksi agar dapat berhubungan dengan orang lain, sehingga remaja mempunyai ketrampilan sosial dan kemampuan menyesuaikan diri (Mu’tadin, 2002). Safarina (2005) menjelaskan, bahwa hubungan pertemanan merupakan tempat individu untuk bertukar perasaan dan pengalaman selain dengan orangtuanya, karena tidak semua hal dapat diungkapkan remaja pada orangtuanya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa individu membutuhkan lingkungan sosial untuk mengembangkan identitasnya, meningkatkan ketrampilan sosialnya, dan belajar untuk berbagi dengan orang lain. Khusus bagi remaja yang tinggal di pondok pesantren, hal ini menjadi lebih penting lagi mengingat remaja tinggal terpisah dari orangtua dan hanya bersama dengan teman-teman sebaya, senior dan orang-orang yang lebih tua darinya seperti pengasuh dan pembimbing di pondok pesantren yang sebelumnya tidak dikenal atau baru dikenalnya&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecemasan dalam komunikasi interpersonal masih banyak ditemukan di kalangan remaja, khususnya pada remaja yang tinggal di pondok pesantren. Kecemasan dalam komunikasi pada remaja perlu dicegah keberadaannya, mengigat remaja memiliki tugas - tugas perkembangan yang harus dipenuhi pada masa remaja, dan salah satu tugas perkembangan itu adalah mencapai hubungan yang baik dan matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita, sehingga diharapkan remaja mampu bergaul dan dapat berkomunikasi secara efektif tanpa mengalami hambatan saat berkomunikasi dengan orang lain.&lt;br /&gt;Sumber bacaan&lt;br /&gt;Psikologi Perkembangan Karya Havighurst &lt;br /&gt;Human Communication Karya Burgoon, M. &amp; Ruffner&lt;br /&gt;Komunikasi antar Manusia Karya Joseph A. DeVito&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-4892963273398497731?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/4892963273398497731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=4892963273398497731&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/4892963273398497731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/4892963273398497731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2010/07/komunikasi.html' title='komunikasi'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-6108329436452188551</id><published>2010-07-13T20:40:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T20:42:09.221-07:00</updated><title type='text'>Modivikasi Perilaku</title><content type='html'>A. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Bab ini mempelajari tentang pemahaman arti modifikasi perilaku, landasan pemikirannya dan etika profesional dalam penerapannya. Seperti yang telah dipahami sebelumnya bahwa manusia dilahirkan dengan segenap potensi dan seperangkat kemampuan dari Tuhan untuk dimanfaatkan dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Perilaku merupakan salah satu perantara manusia untuk mencapai tujuan dalam memenuhi kebutuhan manusia. Perilaku dalam psikologi, dipandang sebagai sesuatu yang dapat diubah dan dipelajari. Kelompok behaviorisme menyatakan bahwa perilaku yang dipelajari (learned) dapat pula dihilangkan (unlearned).&lt;br /&gt;Kata-kata kunci: behavior modification, behavior assessment, etika pengubahan perilaku.&lt;br /&gt;1. B. PENGERTIAN MODIFIKASI PERILAKU&lt;br /&gt;Modifikasi Perilaku (Behavior Modification) adalah usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip psikologi hasil eksperimen pada manusia. Belajar adalah suatu proses yang mana perubahan–perubahan yang bersifat relatif permanen terjadi dalam potensi perilaku sebagai suatu akibat pengalaman. Gangguan perilaku terjadi karena pengalaman yang salah (faulty learning). Misalnya belajar dengan benar tentang contoh perilaku yang tidak baik atau belajar dengan salah contoh perilaku yang baik.&lt;br /&gt;Pandangan behaviorist:&lt;br /&gt;v           Klasik&lt;br /&gt;Modifikasi perilaku sebagai penggunaan secara sistematik teknik kondisioning pada manusia untuk menghasilkan perubahan frekuensi perilaku tertentu atau mengontrol lingkungan perilaku tersebut. Jika teknik kondisioning diterapkan secara ketat, dengan stimulus, respon dan akibat konsekuensi diharapkan terbentuk perilaku lahiriah yang diharapkan.&lt;br /&gt;v           Operant coditioning&lt;br /&gt;Modifikasi perilaku akan terbentuk ketika penguat atau pengukuh diberikan berupa reward atau punishment.&lt;br /&gt;v           Behavior Analist&lt;br /&gt;Modifikasi perilaku merupakan penerapan dari psikologi eksperimen seperti dalam laboratorium. Proses, emosi, problema, prosedur, semua diukur. Pengubahan perilaku dilaksanakan dengan rancangan eksperimen dibuat dengan cermat. Perilaku dihitung secara cacah untuk mendaparkan data dasar. Variabel bebas dimanipulasi, metode statistik digunakan untuk melihat perubahan perilaku, pengulangan jika perlu dilakukan hingga terjadi perubahan perilaku secara jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAPAT  LAIN&lt;br /&gt;Eysenck   :     Modifikasi Perilaku adalah upaya mengubah perilaku dan emosi manusia dengan cara yang menguntungkan berdasarkan teori yang modern dalam prinsip psikologi belajar.&lt;br /&gt;Wolpe    :  Penerapan prinsip-prinsip belajar yang telah teruji secara eksperimental untuk mengubah perilaku yang tidak adaptif, dengan melemahkan atau menghilangkannya dan perilaku adaptif ditimbulkan atau dikukuhkan&lt;br /&gt;Gestalt  :  Insight diperlukan tapi penekanan pada “here” and “now”.&lt;br /&gt;1. C. PENERAPAN Modifikasi Perilaku&lt;br /&gt;Pemberian bantuan intervensi untuk perubahan atau pengembangan yang menguntungkan bagi subjek dan lingkungannya. Modifikasi perilaku juga dapat digunakan sebagai proses untuk mengubah perilaku maladaptif menjadi perilaku yang adaptif. Modifikasi perilaku dianggap sebagai human engineering dalam hal ini. Seperti dalam terapi perilaku untuk menyelesaikan masalah pribadi sosial, bidang pendidikan seperti pengelolaan kelas, penyusunan kurikulum dan disain pembelajaran terprogram.&lt;br /&gt;Aplikasi dari prinsip-prinsip belajar untuk penanggulangan perilaku maladaptif misalnya desensitisasi sistematis berdasarkan teori pengkondisian klasik Pavlov (classical conditioning), modeling dibangun berdasarkan teori Bandura (observational learning) ataupun dengan pembiasaan operant seperti ancangan dari Skinner. Hingga pemutakhiran modifikasi perilaku sebagai upaya yang menggunakan metodologi klinis empiris yang bersifat terbuka terhadap metode baru dan berbeda dari pada menempatkan pada tradisi yang tunggal, mendasarkan pada keyakinan dan evaluasi ilmiah untuk validasi hipotesis klinis dan komitmen melatihkan keterampilan kepada klien dalam teknik-teknik yang klien perlukan untuk mengendalikan kehidupannya lebih adaptif.&lt;br /&gt;1. D. ASESMEN PERILAKU&lt;br /&gt;Behavioral assesment lebih banyak dilakukan dengan teknik non testing (observasi dan wawancara) dari pada teknik testing. Yang ini diperoleh adalah gambaran pola perilaku kehidupan nyata subjek dan akibat dari keadaan lingkungan terhadap pola-pola perilaku tersebut.&lt;br /&gt;Perilaku adalah variabel yang measurable (dapat diukur), observable (dapat diamati), factual (yang sedang terjadi/ berlangsung saat itu), spesific (tergambar secara jelas dalam bentuk perilaku tertentu). Observasi sistemik dapat dilakukan di laboratorium, klinik, kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan untuk mendapatkan informasi psikofisiologis dan kognitif-perilaku, klarifikasi konsistensi atara informasi verbal dan non verbal, menggali tentang perasaan, motivasi yang berhubungan dengan hal yang melahirkan perilaku.&lt;br /&gt;Misalnya fobia tempat tinggi, diukur secara objektif pada ketinggian berapa rasa takut dan cemas terjadi. Dalam masalah klien yang memiliki rasa cemas misalnya saat klien harus melakukan diskusi. Penelusuran in vitro dilakukan jika suatu siang klien harus mengikuti diskusi, diperhatikan perilakunya, diukur sejak kapan mulai muncul cemas meski ringan, sampai berlanjut kapan rasa cemas itu menimbulkan pikiran untuk tidak datang ke tempat diskusi, apa ada reaksi penyerta seperti buang air kecil, telapak tangan berkeringat, atau perilaku eksesif lain. Penelusuran in vivo dengan jalan bagaimana reaksi subjek ketika benar-benar menghadapi situasi cemas yang sebenarnya, misalnya beberapa orang berkumpul, lalu subjek dan teman-temannya dipersilahkan berdiskusi, reaksi subjek diamati secara lengkap dan diukur dalam kategori.&lt;br /&gt;Metode asesmen dengan pendekatan ilmiah namun alamiah, pendekatan naturalistik, laporan diri situasi oleh subjek/ klien, pemantauan sendiri, observasi analog, observasi dan rating oleh orang lain yang signifikan.&lt;br /&gt;Analisis fungsi untuk mengungkap faktor-faktor yang menyumbang terjadinya perilaku, yang memelihara perilaku dan tuntutan lingkungan terhadap klien. Apa yang diperlukan dalam analisis fungsi perubahan perilaku?&lt;br /&gt;A (Antecedents) adalah segala hal yang mencetuskan perilaku yang dipermasalahkan. Misalnya situasi tertentu, tempat tertentu, atau selagi melakukan aktivitas tertentu.&lt;br /&gt;B (Behavior) adalah segala hal mengenai perilaku yang dipermaslahkan, frekuensi intensitas dan lamanya perilaku tersebut berjalan.&lt;br /&gt;C (Consequence) adalah akibat–akibat yang diperoleh setelah perilaku itu terjadi. Memelihara perilaku yag menjadi masalah dengan jalan memberikan penguat, berupa pujian, perhatian, perasaan lebih tenang, bebas dari tugas dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Berdasarkan kesimpulan tersebut diharapkan informasi yang relevan dapat mengarahkan kepada siapa yang perlu dikenai perlakuan (dan siapa yang perlu diikutsertakan dalam pemberian perlakuan). Perilaku mana yang merupakan sasaran perubahan lebih dahulu serta teknik, metode apa yang sesuai untuk digunakan.&lt;br /&gt;Dasar Pemikiran Modifikasi perilaku adalah:&lt;br /&gt;• Terapis adalah trainer/ pelatih yang rasional dan bertindak prediktif, dengan mendeskripsikan secara konkret sasaran perilaku yang akan dimodifikasi dan bukan proses batin seperti dalam pendekatan psikoanalisa misalnya.&lt;br /&gt;• Langkah demi langkah terencana dengan baik tidak dengan asosiasi bebas atau reflektif.&lt;br /&gt;• Efektifnya perlakuan, pelatihan, dan proses belajar perilaku dilihat berdasarkan perilaku sasaran apakah berubah seperti yang direncanakan dan selalu dengan evaluasi yang kontinyu.&lt;br /&gt;• Perilaku adalah sebagai hasil proses belajar yaitu proses nurture yang dialami manusia.&lt;br /&gt;• Pendekatan simtomatis terpusat pada gejala perilaku apa yang tampak yang menjadi masalah dan apa yang akan menjadi perilaku sasarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. PENOLONG PROFESIONAL DALAM MODIFIKASI PERILAKU&lt;br /&gt;Tujuan dalam pengembangan dan pengubahan perilaku perlu didasari oleh beberapa hal terutama seperti poin-poin yang tercantum di bawah ini:&lt;br /&gt;1. Metode-metode psikologis dirancang untuk menolong orang-orang berubah menjadi lebih baik, sehingga mereka dapat secara penuh mengembangkan potensi-potensinya dan mempergunakannya dalam kesempatan yang tersedia di lingkungan sosial.&lt;br /&gt;2. Penekanan bahwa seorang helper professional atau para penolong profesional dapat melayani sebagai konsultan atau guru yang ahli dalam membimbing orang yang cemas, mengalami gangguan psikologis dan memiliki ketidakmampuan sosial yang menjadi concern mereka atau bagi orang lain dan lingkungannya, sehingga bantuan pelatihan dari lingkungan dipertimbangkan.&lt;br /&gt;Karakteristik penolong profesional dalam pengubahan perilaku:&lt;br /&gt;v           Unilateral. Partisipan menyetujui ada seorang yang ditetapkan sebagai penolong (helper) dan yang lain sebagai klien. Juga disetujui, secara eksplisit dan implisit bahwa fokus dari hubungan dan semua kegiatan adalah untuk menyelesaikan permasalahan klien.&lt;br /&gt;v           Sistematik. Artinya awal pertemuan partisipan menyetujui tujuan dan sasaran dari interaksi mereka dan penolong berusaha merencanakan dan menyelesaikan prosedur-prosedur ke bentuk yang terorganisir bagi persoalan kliennya.&lt;br /&gt;v           Formal. Interaksi antara penolong dan klien biasanya dibatasi oleh waktu yang spesifik. Waktu dan tempat diatur sedemikian rupa sehingga penolong tidak memiliki tugas lain selama pertemuan dengan kliennya.&lt;br /&gt;v           Waktu terbatas. Hubungan akan berakhir jika tujuan dan sasaran telah tercapai. Penghentian biasanya dipertimbangkan bersama&lt;br /&gt;v           Mereka harus mengetahui keterbatasan dan keterampilan klien dan harus memiliki pengetahuan terhadap sumber-sumber yang dapat dipanggil ketika permasalahan menuntut di luar batas kemampuan mereka&lt;br /&gt;Apa masalah psikologis itu?&lt;br /&gt;Masalah psikologis, dalam pengertian umum adalah menyangkut kesulitan-kesulitan hubungan seseorang dengan orang lain, persepsi tentang diri dan sikap terhadap diri. Karakteristik utama dari masalah psikologis dapat dibuktikan jika:&lt;br /&gt;1. Konselee menderita ketidaknyamanan subjektif, ketakutan yang tidak mudah hilang melalui sejumlah tindakan yang ia lakukan tanpa bantuan orang lain;&lt;br /&gt;2. Konselee menunjukkan perilaku defisit atau eksesif yang berkaitan dengan beberapa perilaku yang mengganggu gambaran fungsi adekuat bagi dirinya ataupun orang lain; dan&lt;br /&gt;3. Klonselee menunjukkan perilaku menyimpang sehingga menghasilkan sanksi sosial yang berat.&lt;br /&gt;Sasaran tritmen jangka panjang ada lima yaitu:&lt;br /&gt;1. Mengubah perilaku khusus yang bermasalah, seperti rendahnya keterampilan interpersonal.&lt;br /&gt;2. Insight atau kejelasan berfikir dan pemahaman emosional dari permasalahan individu.&lt;br /&gt;3. Mengubah kenyamanan emosional individu.&lt;br /&gt;4. Mengubah persepsi individu, termasuk tujuan-tujuan kepercayaan diri, dan perasaan adekuat.&lt;br /&gt;5. Mengubah gaya hidup seseorang atau “restrukturisasi kepribadian” untuk tujuan objektif dalam kehidupan klien.&lt;br /&gt;F. RANCANGAN SEBUAH PROGRAM PERUBAHAN&lt;br /&gt;Pelatih sebagai professional helper yang bertindak sebagai fasilitator dalam modifikasi perilaku ini harus:&lt;br /&gt;1. Menyadari pentingnya sebuah analisa awal dari permasalahan merupakan esensi mutlak yang mendasari penerapan teknik-teknik tritmen apapun.&lt;br /&gt;2. Untuk menentukan pemilihan metode menolong, penolong harus membuat analisa dari konteks mana perilaku bermasalah terjadi, bentuk dan keparahan dari perilaku bermasalah, konsekuensi bagi klien dan lingkungan terhadap perilaku bermasalah tersebut, sumber-sumber klien dan lingkungan untuk promosi (mendukung) perubahan dan dampak perubahan perilaku bagi dirinya dan orang lain.&lt;br /&gt;3. Penegakan beberapa metode dan kriteria untuk menilai keseluruhan kemajuan klien terhadap program.&lt;br /&gt;G. PERTIMBANGAN ETIKA&lt;br /&gt;Etika profesional dalam proses pengubahan perilaku:&lt;br /&gt;1. Eksploitasi oleh helper. Helper tidak boleh menggunakan hubungan dalam rangka mengambil keuntungan secara sosial, seksual atau untuk kepentingan pribadi.&lt;br /&gt;2. Penipuan. Tujuan dan sasaran dari interaksi harus jelas bagi klien atau walinya. Klien atau walinya harus diberitahu kemungkinan setiap potensi bahaya dan konsekuensi logis dalam prosedur tritmen dan tidak berlebihan menjanjikan hasil tritmen seketika atau sukses.&lt;br /&gt;3. Kompeten dan tritmen yang layak. Adalah tanggung jawab helper tidak hanya menawarkan pelayanan yang baik tetapi juga menyadari keterbatasannya sehingga ia dapat merujuk klien kepada seseorang jika penting.&lt;br /&gt;4. Prinsip intervensi minimum. Adalah tugas penting bagi helper turut campur dalam kehidupan sehari-hari klien, namun terfokus pada hanya untuk meningkatkan keinginan klien berubah. Saat kesepakatan bersama telah diraih, sang penolong harus undur diri dan mengakhiri hubungan atau mendiskusikan secara rinci dengan klien kemungkinan program perubahan di masa datang. Hanya jika klien setuju dengan program tambahan maka mereka dapat melanjutkannya.&lt;br /&gt;Y ALERT! &lt;br /&gt;Setiap psikolog profesional adalah pribadi yang bertanggung jawab atas perubahan perilaku klien. Inti perubahan dan proses belajar menuju perubahan tersebut tetap mengedepankan ETIKA yang menghormati harkat martabat klien maupun helper.&lt;br /&gt;1. H. RINGKASAN&lt;br /&gt;Modifikasi perilaku sebagai salah satu pendekatan dalam psikologi perilakuan yang bertujuan untuk pengubahan, pengembangan perilaku. Modifikasi sebagai usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip psikologi hasil eksperimen pada manusia lewat prosedur standar yang dapat dipertanggungjawabkan secara etika profesional dalam penerapannya. Pengukuran perilaku (behavioral assessment) merupakan salah satu langkah yang perlu dilakukan sebelum proses pemberian perlakuan dalam modifikasi perilaku, sehingga akurasi data dan hasil keefektifannya dapat terukur.&lt;br /&gt;J. DAFTAR BACAAN&lt;br /&gt;Martin, G. &amp; Pear, J. 2003. Behavior Modification: What It Is and How To Do It. New Jersey: Prentice- Hall, Inc.&lt;br /&gt;Soekadji, S. 1983. Modifikasi Perilaku: Penerapan Sehari-hari dan Penerapan Profesional. Yogyakarta: Penerbit Liberty.&lt;br /&gt;Walker, J.T. 1996. The Psychology of Learning. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.&lt;br /&gt;This entry was posted on Friday, November 20th, 2009 at 9:33 pm and is filed under Modifikasi Perilaku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-6108329436452188551?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/6108329436452188551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=6108329436452188551&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/6108329436452188551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/6108329436452188551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2010/07/modivikasi-perilaku.html' title='Modivikasi Perilaku'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-2234978425171299400</id><published>2010-07-13T20:38:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T20:40:11.717-07:00</updated><title type='text'>Metodologi penelitian</title><content type='html'>PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN DI KELURAHAN PASIR GINTUNG KECAMATAN TANJUNG KARANG PUSAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian tentang Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Kebersihan Lingkungan Berkelanjutan di Kelurahan Pasir Gintung Kecamatan Tanjung Karang Pusat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami Ucapkan Terimakasih pada &lt;br /&gt;1. Bapak  M. Toha Sampurna Jaya, M. Sc selaku dosen pembimbing&lt;br /&gt;2. Bapak Djoko Pratiknyo Selaku Kepala Lurah Kelurahan Pasir Gintung  yang telah banyak memberi masukan&lt;br /&gt;3. Masyarakat khususnya warga Kelurahan Pasir Gintung  yang berada di Lingkungan I dan II, dan semua pihak yang telah mendukung dan membantu terlaksananya penelitian ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat dinantikan oleh peneliti demi pengembangan penetitian ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak sebagai bahan bacaan, acuan atau referensi. Amin.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandar Lampung, Mei 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR ISI &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Pengantar …………………………………………………………………    i&lt;br /&gt;Daftar isi ……………………………………………………………………….    ii&lt;br /&gt;BAB I Pendahuluan ……………………………………………………………    &lt;br /&gt; I.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………....     1&lt;br /&gt; I.2 Masalah dan Permasalahan Penelitian……………………………...     2&lt;br /&gt; I.3 Tujuan Penelitian…………………………………………………...     3&lt;br /&gt;BAB II Kajian Pustaka ………………………………………………………...     &lt;br /&gt; 2.1 Tentang Pemberdayaan Masyarakat ………………………………     3&lt;br /&gt; 2.2 Tentang Pengelolaan Kebersihan (Sampah) ……………………...      5&lt;br /&gt;BAB III Metode Penelitian…………………………………………………....      &lt;br /&gt; 3.1 Lokasi Penelitian…………………………………………………..      6&lt;br /&gt; 3.2 Variabel Penelitian ………………………………………………..      7&lt;br /&gt; 3.3 Teknik Penentuan Sampel…………………………………………      8&lt;br /&gt; 3.4 Teknik Pengumpulan Data………………………………………...      8&lt;br /&gt; 3.5 Teknik Analisis Data  ……………………………………………..      8&lt;br /&gt;BAB IV Pembahasan ………………………………………………………....   &lt;br /&gt; 4.1 Hasil Penelitian……………………………………………………     15&lt;br /&gt; 4.2 Pembahasan ……………………………………………………….    15&lt;br /&gt;BAB V Kesimpulan dan Saran ………………………………………………. &lt;br /&gt; 5.1 Kesimpulan………………………………………………………..     18&lt;br /&gt; 5.2 Saran ………………………………………………………………&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;LAMPIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;BENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan sampah. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita gunakan sehari-hari. Demikian juga dengan  jenis sampah, sangat tergantung dari jenis material yang kita konsumsi. Oleh karena itu pegelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari ‘pengelolaan’ gaya hidup masyarakat. Masalah sampah sudah  menjadi topik utama yang ada pada bangsa kita. Mulai dari lingkungan terkecil sampai kepada lingkup yang besar. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya penumpukan sampah ini. Namun yang pasti faktor individu sangatlah berpengaruh dalam hal ini. &lt;br /&gt;     Lampung merupakan contoh nyata dalam hal persoalan sampah. Beberapa titik di Kota lampung telah membuktikan bahwa fenomena sampah di negeri ini sukar untuk di hilangkan. Namun hal ini tidaklah akan terjadi lama kalau saja setiap orang sadar akan masalah sampah dan setiap orang mengerti akan dampak yang ditimbulkan dari sampah ini. Perlu diketahui juga bahwa sampah ini ada dua jenis yaitu sampah organik (biasa disebut sebagai sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Sampah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur, dll. Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Sebaliknya dengan sampah kering, seperti kertas, plastik, kaleng, dll. Sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi secara alami.&lt;br /&gt;     Sekarang pertanyaannya bagaimana untuk menyelesaikan masalah sampah ini. Dan hal inilah yang melatar belakangi kami menulis makalah bertemakan Masalah Pencemaran Lingkungan ( Sampah ). Untuk menjawab hal ini kami melakukan studi kasus di Kelurahan Pasar Gintung. Alasan kami mengambil tempat di Kelurahan Pasir Gintung karena di daerah ini juga terlihat adanya sampah yang bertebaran dimana-mana dan banyak sekali sampah yang menumpuk dan juga minimnya tempat sampah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Identifikasi Masalah &lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masalah dalam  penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Pengelolaan kebersihan lingkungan merupakan masalah yang perlu dicari segera pemecahannya&lt;br /&gt;2. Program Ayo Bersih-bersih yang dicanangkan oleh pemerintah tidak dilaksanakan meyeluruh.&lt;br /&gt;3. Peran pemerintah dalam mengatasi masalah kebersihan lingkungan di kelurahan Pasir Gintung sangat dibutuhkan&lt;br /&gt;4. Intensitas pengangkutan sampah  perlu pengawasan pemerintah&lt;br /&gt;5. Kurangnya  petugas kebersihan yang berakibat pada pembuanganya yang tidak pada tempatnya. &lt;br /&gt;1.3 Rumusan Masalah&lt;br /&gt;   Ketika kami jalan-jalan di sekitar Kelurahan Pasir Gintung kami melihat gejala yang sangat memprihatinkan di sekitar Kelurahan Pasir Gintung, yaitu salah satu di sekitar rumah-rumah penduduk ternyata masih ada bertebarannya sampah-sampah. Dari sini kami mempunyai beberapa permasalahan yang ingin kami temukan penyelesaian masalahnya. Permasalahannya diantaranya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Bagaiaman keadaan kebersihan di sekitar Kelurahan Pasir Gintung ?&lt;br /&gt;2. Apa yang menjadi faktor penyebab bertebarannya sampah di sekitar Kelurahan Pasir Gintung ?&lt;br /&gt;3. Bagaimana peranan Pemerintah dalam mengatasi Kebersihan lingkungan di sekitar Kelurahan Pasir Gintung ?&lt;br /&gt;4. Bagaimana pengelolaan sampah di lingkungan sekitar kelurahan Pasar Gintung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : Mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis dan mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KAJIAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Tentang Pemberdayaan Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Deliveri Proses pemberdayaan masyarakat merupakan suatu proses yang bertitik tolak untuk memandirikan masyarakat agar dapatmeningkatkan taraf hidupnya sendiri dengan menggunakan dan mengakses sumber daya setempat sebaik mungkin.(2004b:1) Proses tersebut menempatkan masyarakat sebagai pihak utama atau pusat pengembangan (people or community centered development).Berdasarkan persinggungan dan saling menggantikannya pengertian tentang community development dan community empowerment, secara sederhana dapat disarikan beberapa esensi kunci dalamupaya pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya yang disengaja untuk memfasilitasi masyarakat lokal dalam merencanakan,memutuskan dan mengelola sumberdaya lokal yang dimiliki melalui collective action dan networking sehingga pada akhirnya mereka memiliki kemampuan dan kemandirian secara ekonomi, ekologi, dan sosial”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. Tentang Pengelolaan Kebersihan (Sampah)&lt;br /&gt;           Sampah adalah semua material yang dibuang dari kegiatan rumah tangga, perdagangan, industri dan kegiatan pertanian. Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga dan tempat perdagangan dikenal dengan limbah municipal yang tidak berbahaya (non hazardous).  Soewedo   (1983) menyatakan bahwa sampah adalah bagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan yang biologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan sampah adalah pengumpulan , pengangkutan , pemrosesan , pendaur-ulangan , atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yg dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam . Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat , cair , gas , atau radioaktif dengan metoda dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat.&lt;br /&gt;Praktek pengelolaan sampah berbeda beda antara Negara maju dan negara berkembang , berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan , berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yg tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah.&lt;br /&gt;Metode pengelolaan sampah berbeda beda tergantung banyak hal , diantaranya tipe zat sampah , tanah yg digunakan untuk mengolah dan ketersediaan area.&lt;br /&gt;     Berdasarkan komposisinya, sampah dibedakan menjadi dua, yaitu:&lt;br /&gt;1.   Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos;&lt;br /&gt;2.    Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya.  Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton;&lt;br /&gt;Di negara-negara berkembang komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik, sebesar 60 – 70%, dan sampah anorganik sebesar ą 30%.&lt;br /&gt;Salah satu sumber Menyebutkan tentang Sampah yaitu :&lt;br /&gt;Pemusnahan sampah&lt;br /&gt;Beberapa cara pemusnahan sampah yang dapat dilakukan secara sederhana sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Penumpukan.&lt;br /&gt;      Dengan metode ini, sebenarnya sampah tidak dimusnahkan secara langsung, namun dibiarkan membusuk menjadi bahan organik. Metode penumpukan bersifat murah, sederhana, tetapi menimbulkan resiko karena berjnagkitnya penyakit menular, menyebabkan pencemaran, terutama bau, kotoran dan sumber penyakit dana badan-badan air.&lt;br /&gt;b. Pengkomposan. &lt;br /&gt;      Cara pengkomposan merupakan cara sederhana dan dapat menghasilkan pupuk yang mempunyai nilai ekonomi.&lt;br /&gt;c. Pembakaran. &lt;br /&gt;      Metode ini dapat dilakuakn hanya untuk sampah yang dapat dibakar habis. Harus diusahakan jauh dari pemukiman untuk menhindari pencemarn asap, bau dan kebakaran.&lt;br /&gt;d. "Sanitary Landfill". &lt;br /&gt;      Metode ini hampir sama dengan pemupukan, tetapi cekungan yang telah penuh terisi sampah ditutupi tanah, namun cara ini memerlukan areal khusus yang sangat luas.&lt;br /&gt;Pemanfaatan Sampah&lt;br /&gt;1. Sampah basah : Kompos dan makanan ternak&lt;br /&gt;2. Sampah kering : Dipakai kembali dan daur ulang&lt;br /&gt;3. Sampah kertas : Daur Ulang&lt;br /&gt;Daur ulang &lt;br /&gt;      Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan , pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk/material bekas pakai.&lt;br /&gt;Material yang dapat didaur ulang :&lt;br /&gt;1. Botol Bekas wadah kecap, saos, sirup, creamer dll baik yang putih bening maupun yang berwarna terutama gelas atau kaca yang tebal.&lt;br /&gt;2. Kertas, terutama kertas bekas di kantor, koran, majalah, kardus kecualai kertas yang berlapis minyak.&lt;br /&gt;3. Aluminium bekas wadah minuman ringan, bekas kemasan kue dll.&lt;br /&gt;4. Besi bekas rangka meja, besi rangka beton dll&lt;br /&gt;5. Plastik bekas wadah shampoo, air mineral, jerigen, ember dll&lt;br /&gt;6. Sampah basah dapat diolah menjadi kompos.&lt;br /&gt;Manfaat pengelolaan sampah&lt;br /&gt;1. Mengehemat sumber daya alam&lt;br /&gt;2. Mengehemat Energi&lt;br /&gt;3. Mengurangi uang belanja&lt;br /&gt;4. Menghemat lahan TPA&lt;br /&gt;5. Lingkungan asri (bersih,sehat,nyaman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III &lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3.1 Lokasi Penelitian &lt;br /&gt;Penelitian ini dilakukan di kecamatan Tanjung Karang Pusat kelurahan Pasir Gintung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2 Variabel Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam variabel:&lt;br /&gt;1. Variabel Independen (Pengaruh, Bebas, Stimulus, Prediktor)&lt;br /&gt;Merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Variabel Dependen (Dipengaruhi, Terikat, Output, Kriteria, Konsekuen)&lt;br /&gt;Merupakan variabel yang dipengaruhi atau akibat, karena adanya variabel bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Variabel Moderator&lt;br /&gt;Merupakan variabel yang mepengaruhi (memperkuat atau memperlemah) hubungan antara variabel independen dengan dependen. Variabel ini sering disebut sebagai variabel independen kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Variabel Intervening (Antara)&lt;br /&gt;Merupakan variabel yang menghubungkan antara variabel independen dengan variabel dependen yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan namun tidak dapat diamati atau diukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Variabel Kontrol&lt;br /&gt;Merupakan variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga pengaruh variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel pada penelitian ini ada 2 mengenai pemberdayaan masyarakat mengenai pengelolaan sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3 Teknik Penentuan Sampel&lt;br /&gt;Teknik penentuan sampel pada penelitian ini adalah Sampel acak sederhana.&lt;br /&gt;Dengan teknik sederhana ini semua masyarakat kelurahan Pasir Gintung memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel. Teknik ini ada 4 cara penarikan yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dengan pemulihan&lt;br /&gt;2. Tanpa pemulihan&lt;br /&gt;3. Dengan memperhatikan urutan penarikan &lt;br /&gt;4. Dengan tanpa memperhatikan urutan penarikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik yang digunakan saat pemilihan sampel adalah dengan memperhatikan urutan penarikan berdasarkan nama gang. Setiap gang ada perwakilan minimal 3-5 rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4 Teknik Pengumpulan Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan Angket dan Wawancara. &lt;br /&gt;1. Angket&lt;br /&gt;Angket terdiri dari identitas responden, tabel sikap, Pertanyaan perilaku, pertanyaan mengenai harapan masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wawancara &lt;br /&gt;Wawancara marupakan teknik pengeumpulan informasi melalui komunikasi secara langsung dengan responden. Teknik wawancara dilakukan sebagai upaya untuk memperoleh data tentang pendapat masyarakat  mengenai pengelolaan sampah yang dialami di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. &lt;br /&gt;Wawancara Bebas Terpimpin&lt;br /&gt;Wawancara perpaduan wawancara bebas dan terpimpin. Dalam pelaksanaannya, pewawancara membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar tentang hal-hal yang ditanyakan&lt;br /&gt; 3.5 Teknik Analisis Data&lt;br /&gt;i = NT –NR&lt;br /&gt;           k&lt;br /&gt;  = 46 - 30&lt;br /&gt;          3&lt;br /&gt;  = 8&lt;br /&gt;30 – 37 = TS&lt;br /&gt;38 – 45 = S&lt;br /&gt;46 &gt;      = SS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel Pernyataan&lt;br /&gt;No. Responden Total Nilai Pernyataan&lt;br /&gt;1 37 TS&lt;br /&gt;2 43 S&lt;br /&gt;3 43 TS&lt;br /&gt;4 42 S&lt;br /&gt;5 40 S&lt;br /&gt;6 41 S&lt;br /&gt;7 36 S&lt;br /&gt;8 42 S&lt;br /&gt;9 36 TS&lt;br /&gt;10 42 S&lt;br /&gt;11 39 S&lt;br /&gt;12 37 TS&lt;br /&gt;13 35 TS&lt;br /&gt;14 32 TS&lt;br /&gt;15 30 TS&lt;br /&gt;16 37 TS &lt;br /&gt;17 35 TS&lt;br /&gt;18 37 TS&lt;br /&gt;19 39 S&lt;br /&gt;20 34 TS&lt;br /&gt;21 34 TS&lt;br /&gt;22 33 TS&lt;br /&gt;23 38 S&lt;br /&gt;24 36 TS&lt;br /&gt;25 38 TS&lt;br /&gt;26 43 S&lt;br /&gt;27 46 SS&lt;br /&gt;28 37 Ts&lt;br /&gt;29 43 S &lt;br /&gt;30 33 TS&lt;br /&gt;31 45 S&lt;br /&gt;32 45 S&lt;br /&gt;33 45 S&lt;br /&gt;34 36 Ts&lt;br /&gt;35 36 TS&lt;br /&gt;36 44 S&lt;br /&gt;37 45 S&lt;br /&gt;38 44 S&lt;br /&gt;39 46 SS&lt;br /&gt;40 37 TS&lt;br /&gt;41 37 TS&lt;br /&gt;42 33 TS&lt;br /&gt;43 38 S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel Sikap&lt;br /&gt;No. SS S TS&lt;br /&gt;1   Rp. 650.000&lt;br /&gt;2  Rp. 3.000.000 &lt;br /&gt;3   Rp. 1500.000&lt;br /&gt;4  Rp. 500.000 &lt;br /&gt;5  Rp. 300.000 &lt;br /&gt;6  Rp. 800.000 &lt;br /&gt;7  Rp. 500.000 &lt;br /&gt;8  Rp.1.000.000 &lt;br /&gt;9   Rp.2000.000&lt;br /&gt;10  Rp. 300.000 &lt;br /&gt;11  Rp. 1.000.000 &lt;br /&gt;12   Rp. 500.000&lt;br /&gt;13   Rp. 500.000&lt;br /&gt;14   Rp. 900.000&lt;br /&gt;15   Rp. 500.000&lt;br /&gt;16   Rp. 350.000&lt;br /&gt;17   Rp. 3000.000&lt;br /&gt;18   Rp. 500.000&lt;br /&gt;19  Rp. 500.000 &lt;br /&gt;20   Rp. 500.000&lt;br /&gt;21   Rp. 500.000&lt;br /&gt;22   Rp. 500.000&lt;br /&gt;23  Rp. 900.000 &lt;br /&gt;24   Rp. 500.000&lt;br /&gt;25   Rp. 800.000&lt;br /&gt;26  Rp. 500.000 &lt;br /&gt;27 Rp. 2.000.000  &lt;br /&gt;28   Rp. 900.000&lt;br /&gt;29  Rp. 900.000 &lt;br /&gt;30   Rp. 600.000&lt;br /&gt;31  Rp. 900.000 &lt;br /&gt;32  Rp. 900.000 &lt;br /&gt;33  Rp. 1200.000 &lt;br /&gt;34   Rp. 1.000.000&lt;br /&gt;35   Rp. 1.000.000&lt;br /&gt;36  Rp. 1.800.000 &lt;br /&gt;37  Rp. 500.000 &lt;br /&gt;38  Rp. 800.000 &lt;br /&gt;39 Rp. 3.000.000  &lt;br /&gt;40   Rp. 900.000&lt;br /&gt;41   Rp. 500.000&lt;br /&gt;42   Rp. 900.000&lt;br /&gt;43   Rp. 900.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korelasi Serial&lt;br /&gt;Untuk Menghitung data/gejala yang satu berskala ordinal dan yang lainnya berskala interval dapat dipergunakan rumus serial:&lt;br /&gt;rser  =  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korelasi Serial &lt;br /&gt;Untuk menghitung data/gejala yang satu berskala ordinal dan yang lainnya berskala interval dapa dipergunakan rumus serial :&lt;br /&gt;Rser =  &lt;br /&gt;Mencari hubungan antar &lt;br /&gt;  Pernyataan&lt;br /&gt; SS S TS&lt;br /&gt; 2.0&lt;br /&gt;3.0 3&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;0.3&lt;br /&gt;0.8&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;0.3&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;0.9&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;0.9&lt;br /&gt;0.9&lt;br /&gt;0.9&lt;br /&gt;1.2&lt;br /&gt;1.8&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;0.8&lt;br /&gt; 0.65&lt;br /&gt;1.5&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;0.9&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;0.35&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;0.8&lt;br /&gt;0.9&lt;br /&gt;0.6&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;0.9&lt;br /&gt;0.9&lt;br /&gt;0.5&lt;br /&gt;0.9&lt;br /&gt;0.9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  ∑ = 5,0&lt;br /&gt;n = 2&lt;br /&gt;p = 0,05&lt;br /&gt;n = 2,5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ∑ = 16,3&lt;br /&gt;n = 18&lt;br /&gt;p = 0,42&lt;br /&gt;n  = 0,90 19,511 ∑ = 19,8&lt;br /&gt;n = 23&lt;br /&gt;p = 0,53&lt;br /&gt;n = 0,86&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prnytaan N p 0 (or-ot)2  &lt;br /&gt;N (or-ot)n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∑&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0,05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0,42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0,53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- 0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ 0,103&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- 0,288&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ 0,103&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-  0,391&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- 0,288&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0,0424&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0,3640&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0,1564&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0,94122&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2,5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0,90&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0,86&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ 0,2575&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- 0,3519&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- 0,0713&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ 0,0281&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah berikutnya adalah mencari simpangan baku total (stot) :&lt;br /&gt;Stot  =   &lt;br /&gt;         =  2&lt;br /&gt;      = 0,956&lt;br /&gt;Diketahui ∑ { ( or-ot) (n)} = + 0,0281 dan ∑ (or-ot)2 = 0,94122&lt;br /&gt;Maka rser =   =  +  0,03 &lt;br /&gt;Rser x factor koreksi = 0,031 X 1,253 = 0,038&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV &lt;br /&gt;HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1 Hasil Penelitian &lt;br /&gt;Berdasarkan  perhitungan korelasi serial dari data table sikap di atas, maka dengan demikian,  r  yang diperoleh dapat kita &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;4.2 Pembahasan&lt;br /&gt;Seharusnya hidup dengan  lingkungan yang bersih mestinya sudah diajarkan sejak dini agar kelak  dewasa menjadi hal yang terbiasa. Kebersihan sudah menjadi masalah rutin dalam kehidupan sehari-hari, tentunya kita harus menyadari apa itu kebersihan. Bersih adalah sesuatu yang  bebas dari hal yang kotor. Jadi benda yang di katakan bersih apabila tidak ada kotoran berupa apa pun. Maka dari pengertian di atas bisa kita ketahui kebersihan berarti sesuatu hal yang harus dijaga dan dirawat dari hal-hal yang kotor yang dapat disenangi oleh kuman serta menjadi sarang penyakit. Sesuatu yang dapat menyebabkan kotor bisa berasal dari debu, sampah sisa makanan, barang-barang bekas, dan bangkai hewan. Apabila sumber kotor itu tidak di bersihkan atau di biarkan akan menjadi sarang dari berbagai penyakit.. Agar itu tidak terjadi maka kita harus terapkan hidup bersih setiap hari.&lt;br /&gt;Selain itu yang tidak kalah penting adalah kebersihan rumah karena manusia untuk bisa bertahan hidup  harus memiliki tempat tinggal yaitu rumah. Kebersihan rumah harus dirawat dengan cara merapikan dan membersihkan perabotan rumah dari debu, menyapu lantai ruangan dan dipel, menyapu halaman rumah, dan membuang sampah pada tempatnya. Merawat rumah agar tetap bersih dan rapi harus dilakukan setiap hari, sehingga rumah akan menjadi lebih nyaman dan terhindar dari sumber -sumber penyakit.&lt;br /&gt;Kalau rumah sudah terasa nyaman kita harus peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitar seperti di taman, selokan atau got dan juga kali. Biasanya di selokan atau got atau juga kali paling sering kita  temukan sampah, ini akibat tangan-tangan orang yang  tidak bertanggung jawab yang terbiasa membuang sampah sembarangan. Apabila selokan atau kali tersumbat karena sampah yang menumpuk, air selokan atau kali akan tergenang dan ini akan menjadi sarang jentik-jentik nyamuk dan patalnya lagi pada saat musim hujan bisa  menyebabkan banjir. Jadi selokan atau kali harus di bersihkan agar tidak menimbulkan bencana. Sampah perlu ditangani dengan serius karena dampaknya sangat besar terhadap kehidupan manusia. Sampah juga bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia apabila bisa mengolahnya Misalnya sampah anorganik bisa kita daur ulang sedangkan sampah organik seperti daun kering dapat kita jadikan pupuk kompos, tidak perlu kita bakar karena dapat menyebabkan polusi udara. Menjaga kebersihan lingkungan dapat dilakukan secara bergotong-royong dengan melibatkan anak-anak untuk membiasakan hidup dengan lingkungan yang selalu bersih dan sehat.&lt;br /&gt;Seperti kalimat di atas bahwa bersih pangkal kesehatan dan kecerdasan. Dengan selalu menjaga kebersihan secara tidak langsung kita telah peduli terhadap kesehatan diri dan kesehatan lingkungan. Kebersihan berguna bagi kesehatan diri kita yang tidak mudah dikunjungi penyakit. Merawat  lingkungan secara rutin juga berarti untuk mencegah sarang-sarang penyakit karena di tempat-tempat yang kotor merupakan tempat tumbuhnya bibit-bibit penyakit seperti Nyamuk Aides Agepty yang menimbulkan penyakit DB (demam berdarah). Dengan menerapkan 3M kita dapat menghentikan perkembangan nyamuk, 3M yaitu: menguras bak air, menutup tempat penampungan air dan memberi Abate, dan mengubur barang-barang bekas yang bisa tergenang air. Apabila seorang warga terkena demam berdarah maka daerah itu harus di laksanakan penyemprotan, karena penyemprotan hanya dapat membunuh nyamuk dewasa dan tidak bisa membunuh jentik nyamuk. Karena itu mencegah lebih baik dari pada mengobati. Untuk orang-orang yang senang memelihara ayam juga harus bisa merawat ayamnya dengan memberi vaksin dan juga merawat kebersihan kandangnya dengan baik agar tidak tertular flu burung. Apabila itu tidak di perhatikan dan ayamnya tertular flu burung, maka ayam itu harus di bakar agar tidak menular kepada ayam lain dan manusia.&lt;br /&gt;Bila lingkungan sudah bersih dan kita hidup sehat maka yang bisa kita dapat yaitu kecerdasan, orang yang peduli terhadap kebersihan dan tahu bagaimana cara hidup sehat juga termasuk orang yang cerdas dan karena orang yang sehat mampu berpikir dan berkreativitas. Di lingkungan belajar seperti di kamar dan di sekolah kita juga harus menjaga bersih agar kita dapat belajar dengan nyaman. Maka untuk itulah kita harus menerapkan hidup bersih dan sehat agar menjadi orang yang cerdas, dan menjadi contoh bagi adik-adik agar dari sejak dini mereka berguna di kemudian hari dan tahu betapa pentingnya kebersihan itu di kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V &lt;br /&gt;KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1 KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil analisis dapat diambil suatu kesimpulan sebagai&lt;br /&gt;berikut :&lt;br /&gt;1. Efektifitas pola sistem pengangkutan sampah Kelurahan Pasir Gintung  belum efektif tidak setiap hari tetapi 3 hari sekali ini menyebabkan masyarakat membuang sampah &lt;br /&gt;2.  Alternatif pola sistem pengangkutan sampah yang tepat dan relevan untuk&lt;br /&gt;meningkatkan efektifitas sistem pengangkutan sampah di Kelurahan Pasir Gintung adalah dengan mengoptimalkan jumlah dump truck yang ada,&lt;br /&gt;menambah shift kerja menjadi 2 (dua) shift, dan menambah 2 (dua) TPS&lt;br /&gt;di jalan Semangka dan Rambutan untuk zonanisasi daerah pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2 SARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengingat penelitian ini dibatasi dengan ruang lingkup hanya pada pengangkutan sampah dari TPS ke TPA, maka perlu dilakukan penelitian  lebih mendalam untuk optimalisasi sistem pengangkutan sampah dengan titik berat pada perbaikan pola pengumpulan untuk mendapatkan tingkat efektifitas pengangkutan yang lebih baik, serta dengan mempertimbangkan data laju timbulan sampah primer.&lt;br /&gt;2. Untuk menunjang keberhasilan penerapan alternatif pengangkutan sesuai hasil penelitian ini, maka diperlukan hal-hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Aspek teknis: kesiapan lahan untuk TPA baru&lt;br /&gt;b. Aspek pembiayaan: mencari sumber-sumber dana alternatif&lt;br /&gt;c.  Aspek kelembagaan: membentuk lembaga semacam KKL&lt;br /&gt;(Kelompok Kebersihan Lingkungan) yang berfungsi membantu sebagian kinerja Dinas Kebersihan dalam pengelolaan kebersihan lingkungan sehingga di masa depan&lt;br /&gt;masyarakat sendiri yang bertanggung jawab atas kebersihan dan pengelolaan sampah di lingkungannya.&lt;br /&gt;d. Aspek peran serta : melalui penyuluhan dan bimbingan&lt;br /&gt;masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk pengembangan lebih lanjut dari penelitian ini, maka perlu dilakukan&lt;br /&gt;penelitian lebih mendalam untuk :&lt;br /&gt;a. Penanganan sampah pada sumber dengan titik berat pada komposisi&lt;br /&gt;sampah untuk mendapatkan alternatif-alternatif reduksi sampah&lt;br /&gt;dengan potensi daur ulang dan komposting.&lt;br /&gt;b. Membuat studi tambahan untuk aspek sosial masyarakat sehubungan&lt;br /&gt;dengan upaya pemilahan sampah dan pengadaan lahan baru untuk&lt;br /&gt;TPA.&lt;br /&gt;c. Membuat studi khusus mengenai partisipasi masyarakat dan&lt;br /&gt;kemungkinan kerjasama dengan swasta (mengembangkan pola&lt;br /&gt;kemitraan) dalam pengangkutan sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Pekerjaan Umum (1990), Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah&lt;br /&gt;Perkotaan, SK SNI T-13-1990-F, Yayasan LPBM.Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kardiyono, D., Aryanti, (2000) Peranserta Masyarakat Dalam Pengelolaan&lt;br /&gt;Sampah Di Lingkungan Perumahan, Vol 16 No.2. Jurnal Puslitbangkim,&lt;br /&gt;Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muaz, A.S., (2004), Studi Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah Pada&lt;br /&gt;Kawasan Permukiman di Pinggiran Sungai dengan Transportasi Air Di&lt;br /&gt;Kota Banjarmasin, Tesis Pasca Sarjana, Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-&lt;br /&gt;ITS, Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zoeharsanti, E. S., (1990), Teknik Pengelolaan Sampah, Lembaga Politeknik PU&lt;br /&gt;ITB, Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPIRAN&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-2234978425171299400?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/2234978425171299400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=2234978425171299400&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/2234978425171299400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/2234978425171299400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2010/07/metodologi-penelitian.html' title='Metodologi penelitian'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-7683076787279564613</id><published>2010-07-13T20:35:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T20:36:10.481-07:00</updated><title type='text'>bimbingan kelompok dan konseling kelompok</title><content type='html'>Bimbingan kelompok dan konseling kelompok&lt;br /&gt;Apasih perbedaan bimbingan kelompok dengan konseling kelompok itu? Disini saya mencoba sedikit memaparkan tentang pengertiannya.&lt;br /&gt;Pelayanan konseling dan bimbingan kelompok sama-sama menggunakan format kelompok. &lt;br /&gt;Bimbingan kelompok adalah salah satu kegiatan layanan yang paling banyak dipakai karena lebih efektif. Banyak orang yang mendapatkan layanan sekaligus dalam satu waktu. Layanan ini juga sesuai dengan teori belajar karena mengandung aspek social yaitu belajar bersama. Peserta layanan akan berbagi ide dan saling mempengaruhi untuk berkembang menjadi manusia seutuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;150 orang menjadi 12 kelompok layanan yang hendaknya dilaksanakan oleh konselor sekolah. &lt;br /&gt;Layanan Konseling kelompok ada 2 macam yaitu konseling dan bimingan kelompok. Yang sangat menentukan keefektifan layanan kelompok adalah suasana kelompok yang: &lt;br /&gt;1. Interaksi yang dinamis&lt;br /&gt;2. Keterikatan emosional &lt;br /&gt;3. Penerimaan &lt;br /&gt;4. Altruistik, mengutamakan kepedulian terhadap orang lain&lt;br /&gt;5. Intelektual (rasional, cerdas dan kreatif). Menambah ilmu dan wawasan individu serta dapat menumbuhkan ide-ide cemerlang. &lt;br /&gt;6. Katarsis (mengemukakan uneg-unegnya, idenya dan gagasannya). Menyatakan emosinya yang lebih mengarah pada pengungkapan pmasalah yang dipendam. &lt;br /&gt;7. Empati (suasana yang saling memahami tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan sehingga dapat menyesuaikan sikapnya dengan tepat). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diciptakan melalui pentahapan dan kemampuan pemimpin kelompok. &lt;br /&gt;Perbedaan antara Bimbingan dan Konseling Kelompok umumnya adalah ada pada masalah yang dibahas. Masalah Bimbingan kelompok biasanya membahas masalah-masalah umum bagi peserta layanan. Jika suasana kelompok belum tercipta maka sulit bagi peserta layanan untuk mengungkapkan masalah pribadinya sehingga konseling kelompok agak sulit pelaksanaannya dibanding Bimbingan kelompok. Dari itu, Bimbingan kelompok sangat menentukan pelaksanaan konseling kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan layanan dapat dilaksanakan dimana saja asal tidak mengganggu proses layanan dimana dinamika kelompok berlagsung maksimal dalam mencapai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. TUJUAN &lt;br /&gt;Umum: mengembangkan kepribadian siswa dimana berkembang kemampuan sosialisasinya, komunikasinya,&lt;br /&gt;kepercayaan diri, keperibadian, dan mampu memecahkan masalah yang berlandaskan nilai ilmu dan agama. &lt;br /&gt;Khusus:&lt;br /&gt;1. Membahas topic yang mengandung masalah actual, hangat dan menarik perhatian anggota kelompok. &lt;br /&gt;2. Konseling kelompok membahas masalah pribadi individu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. KOMPONEN &lt;br /&gt;1. Konselor: sebagai pemimpin kelompok dengan kemampuan &lt;br /&gt;• Menciptakan suasana kelompok sehingga terciptanya dinamika kelompok &lt;br /&gt;• Berwawasan luas (ilmiah dan moral). &lt;br /&gt;• Mampu membina hubungan antarpersonal yang hangat, damai, berbagi, empatik, altruistik, jauh dari kesukaaan untuk membuat kelompok. &lt;br /&gt;Peranan PK: &lt;br /&gt;• Membentuk kelompok &lt;br /&gt;• Melakukan penstrukturan&lt;br /&gt;• Mengembangkan dinamika kelompk &lt;br /&gt;• Mengevaluasi proses dan hasil belajar &lt;br /&gt;Jumlah kelompok: 8-10 orang dengan memperhatikan homogenitas dan heterogenitas kemampuan anggota kelompok.&lt;br /&gt;Kemampuan dengan perbandingan 2:1 antara yang pintar atau kurang pintar. Dari segi jenis pria atau wanita yaitu 1:1.&lt;br /&gt;Peran anggota kelompok: &lt;br /&gt;1. Aktif, mandiri melaui aktivitas langsung melalui sikap 3M (mendengar dengan aktif, memahami dengan positif&lt;br /&gt;dan merespon dengan tepat), sikap seperti seorang konselor. &lt;br /&gt;2. Berbagi pendapat, ide dan pengalaman&lt;br /&gt;3. Empati &lt;br /&gt;4. Menganalisa &lt;br /&gt;5. Aktif membina keakraban, membina keikatan emosional&lt;br /&gt;6. Mematuhi etika kelompok &lt;br /&gt;7. Menjaga kerahasiaan, perasaan dan membantu serta &lt;br /&gt;8. Membina kelompok untuk untuk menyukseskan kegiatan kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. ASAS&lt;br /&gt;Dalam Bimbingan kelompok, asas yang dipakai: &lt;br /&gt;1. Kesukarelaan &lt;br /&gt;Tidak ada pemaksaan dalam mengemukakan pendapat. &lt;br /&gt;2. Keterbukaan &lt;br /&gt;Adalah keterusterangan dalam memberikan pendapat. &lt;br /&gt;3. Kegiatan&lt;br /&gt;Partisipasi semua anggota kelompok dalam mengemukakan pendapat sehingga cepat tercapainya tujuan Bimbingan&lt;br /&gt;kelompok.&lt;br /&gt;4. Kenormatifan &lt;br /&gt;Aturan dalam menyampaikan ide dan gagasan hendaknya dengan baik, benar, gaya bahasa yang menyenangkan, tidak menyalahkan anggota kelompok. &lt;br /&gt;5. Kerahasiaan : ini terakhir karena topic (pokok bahasan) bersifat umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konseling kelompok, asas yang dipakai :&lt;br /&gt;1. Kerahasiaan&lt;br /&gt;Karena membahas masalah pribadi anggota (masalah yang dirasakan tidak menyenangkan, mengganggu perasaan, kemauan dan aktifitas kesehariannya). &lt;br /&gt;2. Kesukarelaan &lt;br /&gt;3. Keterbukaan &lt;br /&gt;Semua anggota kelompok adalah konselor terhadap anggota yang dibahas masalahnya. &lt;br /&gt;4. Kegiatan &lt;br /&gt;5. Kenormatifan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan kelompok untuk satu kelas: &lt;br /&gt;1. Sederhana &lt;br /&gt;Dengan menghitung dalam satu kelas. &lt;br /&gt;2. Lebih rasional &lt;br /&gt;• Siswa dibagi dalam kelompok dengan criteria tertentu seperti: hasil AUM PTSDL atau UMUM, tes, jenis kelamin, hasil sosiometri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang dipertimbangkan pembentukan kelompok : &lt;br /&gt;1. Homogenitas secara relative (ex: kesamaan jauh dekat tempat tinggal). &lt;br /&gt;Hal yang perlu diperhatikan: jika ingin Kelompok yang sama: maka didahulukan dengan Bimbingan kelompok lalu dilanjutkan dengan konseling kelompok. &lt;br /&gt;Pemimpin kelompok yang sama akan menjadikan kelompok lebih dinamis, efektif, efisien&lt;br /&gt;2. Heterogenitas (ex: perbedaan sosio-ekonomi)&lt;br /&gt;Perbedaan:&lt;br /&gt;3. Sumber pertimbangan: himpunan data dan hasil instrumentasi. &lt;br /&gt;4. Penempatan dalam kelompok: berupa penugasan, penetapan secara acak dan pilihan individu/anggota. &lt;br /&gt;Jenis anggota kelompok: ada Kelompok tertutup yaitu anggota tetap dan tidak berubah jumlah anggota dan Kelompok terbuka yaitu anggota bergantian dan tidak menetapkan. &lt;br /&gt;Pengertian adalah sejumlah orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok. BKp agar Pemahaman dan informasi baru KKp agar Pengentasan masalah pribadi anggota kelompok &lt;br /&gt;Tahap-tahap Bimbingan kelompok : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PEMBENTUKAN&lt;br /&gt;Anggota Kelompok hendaknya: &lt;br /&gt;1. Mengetahui tujuan dibentuknya kelompok. &lt;br /&gt;2. &lt;br /&gt;B. PERALIHAN: untuk meninjau pemahaman anggota kelompok terhadap apa yang akan dilaksanakannya seperti masih ragu-ragu untuk mengikuti layanan konseling kelompok. Lihat suasana dan situasi anggota keloompok. &lt;br /&gt;C. KEGIATAN &lt;br /&gt;Pelaksanaan &lt;br /&gt;D. PENGAKHIRAN : mengecek apa yang telah dicapai anggota kelompok (evaluasi). Penyampaian kesan dan pesan serta menanyakan kapan akan dilaksanakan layanan Konseling kelompok kembali. &lt;br /&gt;Isi layanan: &lt;br /&gt;Bimbingan kelompok: Tugas (membahas tentang topik yang duberikan oleh PK) ex: pembahasan tentang situs porno.&lt;br /&gt;Hal yang dipertimbangkan adalah kemampuan dan tingkat perkembangan anggota kelompok. Dan bebas (topic diberikan oleh anggota kelompok untuk dibahas dalam kelompok) ini adalah kesempatan yang disediakan oleh konselor kepada anggota kelompok untuk menyampaikan pendapatnya. &lt;br /&gt;Dalam konseling kelompok adalah membahas masalah individu. Setiap anggota menyampaikan permasalahannya, namun tidak harus semua anggota kelompok. Jika telah terkemukakan masalah, maka perlu dibahas dan dimusyawarahkan masalah siapa yang terlebih dahulu masalahnya dibahas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik &lt;br /&gt;UMUM:&lt;br /&gt;1. Bagaimana menciptakan dinamika kelompok melalui komunikasi yang terarah, dinamis dan menyeluruh pada&lt;br /&gt;semua anggota kelompok (komunikasi multiarah) yang efektif, terkendali. &lt;br /&gt;2. Pemberian rangsangan agar anggota berinisiatif mengemukakan pendapat untuk berdiskusi. &lt;br /&gt;3. Dorongan minimal agar anggota kelompok terus beraktivitas &lt;br /&gt;4. Penjelasan lebih mendalam tentang pendapat yang dikemukakan. &lt;br /&gt;5. Pelatihan terhadap tingkah laku baru bagi anggota kelompok. &lt;br /&gt;Kegiatan selingan: permainan-permainan yang fungsinya: selingan, pembinaan, mengintrospeksi diri. &lt;br /&gt;Jika permasalahan individu belum terpecahkan dalam kegiatan konseling kelompok maka bisa diteruskan dengan pelayanan konseling individual. Seorang PK tidak perlu tergesa-gesa dalam menyelesaikan masalah yang ada, karena masalah hendaknya didalami dengan baik, mencari waktu selain waktu belajar. Penilaian terhadap sasaran layanan hendaknya jelas apa yang ingin dinilai, sehingga bisa menentukan instrumentasi evaluasi yang akan dipakai. Seorang konselor menilai dengan assesmen berupa komentar dengan nilai normatif seperti A, B, C atau Baik, Cukup, Kurang.  Konselor hendaknya mampu mengembangkan kepribadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan bimbingan kelompok dengan konseling kelompok&lt;br /&gt;1. Bimbingan kelompok diberikan kepada semua individu dan terjadwal dalam membicarakan topik yang bermanfaat bagi anggotanya.&lt;br /&gt;2. Berupaya mengubah sikap dan tingkah laku secara tidak langsung  (konseling kelompok)&lt;br /&gt;3. Bimbingan kelaompok dengan anggota 15-30 orang&lt;br /&gt;4. Bimbingan kelompok bersifat intruksional (mengajar)&lt;br /&gt;5. Dilakukan untuk memberikan informasi&lt;br /&gt;6. Isi bersifat umum dan tidak rahasia&lt;br /&gt;7. Multiarah mendalam melibatkan kognitif&lt;br /&gt;Sedangkan konseling kelompok adalah:&lt;br /&gt;1. Diberikan untuk individu yang bermasalah dan di bahas maslah masing2 individu&lt;br /&gt;2. Digunakan langsung untuk mengubah sikap dan tingkah laku&lt;br /&gt;3. Tergantung kebersamaan serta ketersediaan disetiap anggota untuk saling mempedulikan anggota lainya.&lt;br /&gt;4. Bercirikan komunikasi antar individu&lt;br /&gt;5. Berfokus pada tingkah laku masing-masing orang dan perkembangan/perubahan dalam kelompok&lt;br /&gt;6. Isi perbincanganya bersifat khusus dan rahasia&lt;br /&gt;7. Susunan Interaksi multiarah mendalam dan tuntas dengan melibatkan aspek kognitif, afektif dan aspek kepribadian yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan konseling kelompok dengan konseling individual&lt;br /&gt;C G Kemp (1970) &lt;br /&gt;1. Konseling kelompok dapat mencobakan sikap dan ide-ide&lt;br /&gt;2. Penerimaan dan pengalaman-pengalaman dan perubahan sikap yang dicobakan memperkuat motivasi untuk mengadakan perubahan pada dirinya. &lt;br /&gt;3. Pengalaman kelompok meningkatkan keterampilan berkomunikasi dengan orang lain dan akan berkembang hubungan antar pribadi yang secara genuine &lt;br /&gt;4. Memperkembangkan keberanian untuk mencoba memecahkan masalah-masalah pribadi dan konflik emosional&lt;br /&gt;5. Penerimaan dan pengertian dari teman dalam kelompok menghasilkan rasa aman dan rasa bersatu yang akan mendukung proses intropeksi dan ekspresi perasaan-perasaan mendalam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-7683076787279564613?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/7683076787279564613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=7683076787279564613&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/7683076787279564613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/7683076787279564613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2010/07/bimbingan-kelompok-dan-konseling.html' title='bimbingan kelompok dan konseling kelompok'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-5906604577161827006</id><published>2010-07-13T20:32:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T20:33:55.792-07:00</updated><title type='text'>tugas PLPBK</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCompaq%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCompaq%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCompaq%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footer"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Cambria; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Brush Script MT"; 	panose-1:3 6 8 2 4 4 6 7 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Header Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 234.0pt right 468.0pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footer Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 234.0pt right 468.0pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.HeaderChar 	{mso-style-name:"Header Char"; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Header; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt;} span.FooterChar 	{mso-style-name:"Footer Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Footer; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:21.0cm 842.0pt; 	margin:3.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:270018908; 	mso-list-template-ids:878211048;} @list l0:level1 	{mso-level-text:%1; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 	{mso-level-text:"%1\.%2"; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level3 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3"; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:36.0pt; 	text-indent:-36.0pt;} @list l0:level4 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4"; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:36.0pt; 	text-indent:-36.0pt;} @list l0:level5 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5"; 	mso-level-tab-stop:54.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-54.0pt;} @list l0:level6 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6"; 	mso-level-tab-stop:54.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-54.0pt;} @list l0:level7 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7"; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-72.0pt;} @list l0:level8 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8"; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-72.0pt;} @list l0:level9 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9"; 	mso-level-tab-stop:90.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:90.0pt; 	text-indent:-90.0pt;} @list l1 	{mso-list-id:354036168; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1333736480 -4434352 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:81.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;BAB I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.1&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;LATAR BELAKANG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Salah satu konsep perencanaan program BK yang baik adalah ’&lt;i&gt;memungkinkannya dilakukan penilaian&lt;/i&gt;’. Sejumlah ketentuan dan rumusan tentang tatalaksana bimbingan konseling disetiap jenjang pendidikan pun pada akhirnya akan menyisakan pemikiran dalam benak kita akan ”Bagaimana konsep dan pelaksanaan penilaian terhadap bimbingan konseling itu sendiri”. Pengelolaan dan pelaksanaan bimbingan konseling yang berorientasi pada pencapaian tujuan belajar dan kegiatan dalam proses belajar mengajar itu tentunya memerlukan sebuah penilaian baik sebagai balikan maupun sebagai tahapan manajemenistik yang baik dan sistematis. Lalu, penilaian yang dimaksud tentunya akan mengarah kepada apa dan siapa?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Berkembangnya ilmu pengetahuan akan berdampak semakin majunya teknologi, maka dalam menghadapi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi timbul reaksi yang beragam, ada yang terus berusaha mengikuti dan mengejar ketinggalan, tetapi ada juga yang apatis menghadapi lajunya IPTEK.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dalam Usaha mengejar ketinggalan tersebut maka, pendidikanlah yang memegang peran utama dan jalan yang paling efektif dalam pengembangan sumber daya manusia, melalui uh manaPendidikan peserta didik dibina untuk menjdi dirinya sendiri yaitu diri yang memiliki potensi yang luar biasa. Agar pendidikan tidak tertinggal khususnya Bimbingan Konseling, Maka BK perlu menyiapkan siswa didiknya agar menjadi manusia yang dapat mengikuti kemajuan zaman sesuia dengan visi dan misi sekolah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.2&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;TUJUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="SV"&gt;Kegiatan penilaian pada hakikatnya bertujuan untuk mengetahui atau memperoleh gambaran yang bersifat informasi akurat tentang keefektifan dan efisiensi sesuatu yang telah dilaksanakankan. Informasi berkenaan dengan keefektifan dan keefisiensian ini selanjutnya akan melahirkan suatu keputusan tertentu.  Secara khusus tujuan penilaian akan sangat ditentukan oleh fungsi penilaian (pengambilan keputusan dan penyediaan informasi) dan aspek-aspek yang akan dinilai itu sendiri.  Misalnya penilaian yang ditujukan untuk program bimbingan konseling, akan memfungsikan kegiatannya pada penyediaan sejumlah informasi tentang program itu dan seterusnya akan pula melahirkan keputusan tentang keeefektifan atau efisiensi program, begitupun seterusnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Untuk mengetahui sejauh mana program dan bimbingan itu dilaksanakan, apakah sudah memenuhi standar yang telah ditentukan sekolah, dan apkah program tersebut sudah berjalan dengan baik dan sejauh mana bimbingan konseling mampu berperan aktif sebagai penunjang pembelajaran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;BAB II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;2.1 PELAKSANAAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kami melaksanakan Penilaian Layanan Program Bimbingan Konseling hari kamis 19&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Februari 2010, dan 11 Maret pada hari rabu, serta tanggal 20 maret 2010.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kami melakukan observasi dengan baik, semaksimal mungkin dan diterima oleh dewan guru dengan baik tanpa dipersulit dalam segala bidang apa pun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;2.2 ASPEK PENILAIAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 63pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;2.2.1 faktor kendala&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; line-height: 150%;"&gt;Wali murid kurang memahami arti penting dan fungsi bimbingan konseling sehingga kurang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dapat bekerja sama dan komunikasi dengan guru Bimbingan konseling dalam menyelesaikan masalah siswa/I atau kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dalam penyelenggaraan Bimbingan terhadap siswa/i. Ruangan konseling berada disebelah WC siswa sehingga terkadang tercium bau yang tidak sedap.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; line-height: 150%;"&gt;Dan dari siswa/I sendiri kurang memahami arti penting dan fungsi Bimbingan konseling sehingga siswa/I kurang memanfaatkan Bimbingan konseling yang ada,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 63pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 63pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;2.2.2 faktor Pendukung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; line-height: 150%;"&gt;Semua pihak sekolah saling bekerja sama atau staff sekolah semua bisa bekerja sama, kenyamanan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ruang konseling cukup baik, sudah ada ruang konseling yang menjaga kerahasiaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 63pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;2.2.3 Program Layanan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63.8pt; line-height: 150%;"&gt;Program Tahunan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63.8pt; line-height: 150%;"&gt;Program Semesteran, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63.8pt; line-height: 150%;"&gt;Program Bulanan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63.8pt; line-height: 150%;"&gt;Program Mingguan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63.8pt; line-height: 150%;"&gt;Program Harian, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; line-height: 150%;"&gt;Program layanan yang digunakan di SMA N 5 Bandar Lampung telah sesuia dengan pelaksanaa layanan. Layanan yang digunakan antara lain: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Layanan Orientasi, &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;Layanan Orientasi; &lt;/em&gt;layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu, sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, yang &lt;em&gt;berfungsi untuk pencegahan&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;pemahaman&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Layanan Informasi, &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;Layanan&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Informasi;&lt;/em&gt; layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar, pergaulan, karier, pendidikan lanjutan). Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan informasi pun &lt;em&gt;berfungsi untuk pencegahan&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;pemahaman&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Layanan penempatan dan penyaluran&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;Layanan Penempatan dan Penyaluran;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ko/ekstra kurikuler, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat, minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Penempatan dan Penyaluran&lt;em&gt; berfungsi untuk pengembangan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Layanan penempatan ditujukan untuk membantu siswa agar memperoleh wadah yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya dengan tujuan agar siswa dapat mencapai prestasi yang optimal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Layanan pembelajaran, &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;Layanan pembelajarn atau Konten;&lt;/em&gt; layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Layanan pembelajaran &lt;em&gt;berfungsi untuk pengembangan.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Layanan Konseling Perorangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;Layanan Konseling Perorangan;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan&lt;em&gt; berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Layanan Bimbingan kelompok dan Konseling Kelompok. &lt;em&gt;Layanan Bimbingan Kelompok;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok &lt;em&gt;berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 63pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;2.2.4 Sarana Prasarana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; line-height: 150%;"&gt;Sarana dan prasarana Ruang Bimbingan konseling di SMA N 5 Bandar Lampung telah cukup baik, untuk menunjang kegiatan konseling misalnya telah terdapat ruang konseling khusus, instrument-instrumen tentang Bimbingan konseling, TV, Komputer, Printer dan ruangan tersebut cukup nyaman.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 63pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;2.2.5 Personil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; line-height: 150%;"&gt;Tenaga guru Bimbingan konseling mencukupi dengan 6 orang, sehingga pembagian tugas terstruktur sesuai dengan bidang keahliannya,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 63pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;2.3 HASIL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="PT-BR"&gt;Penilaian &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;hasil dilakukan pada akhir suatu program atau kegiatan. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengukur &lt;i&gt;pencapaian kompetensi-kompetensi&lt;/i&gt; dari tujuan yang telah dirumuskan berdasarkan standar atau kriteria tertentu.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dari hasil penelitian yang kami slakukan cukup baik, semua data yang ada di sekolah, dan sarana perasana yang telah ada kami cantum kan di atas. Siswa dan guru cukup baik pada saat melaksanakan wawancara dan menyebar angket.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;BAB III&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;3.1 KESIMPULAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Dari data yang telah kami peroleh dapat disimpulkan bahwa Program Layanan Bimbingan dan Konseling yang terdapat di SMA 5 Bandar Lampung telah mencapai nilai yang bagus serta telah memenuhi criteria, ruanganan pun memadai, personil juga mencukupi tetapi masih di perlukan penambahan agar nantinya dapat menjalankan bimbingan dan konseling sesuai dengan kapasitas artinya I guru bimbingan konseeling diharap kan bisa mengkordinir I kelas saja sehingga proses bimbingan dan konseling dapat maksimal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Kerja sama antara pihak sekolah telah berjalan dengan baik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;3.2 SARAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Sarana setelah dilakukan penilaian layanan program Bimbingan Konseling di harapkan ada penambahan guru bimbingan konseling.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;Meningkatkan komunikasi dan kerjasama antara guru Bimbingan yang harmonis sehingga proses pemberian bimbingan dan Konseling berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;SMA N 5; SILABUS, PEKAN EFEKTIF, PROGRAM TAHUNAN, PROGRAM SEMESTER, SATLAN, RPK ; Bandar lampung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/07/layanan-bimbingan-dan-konseling-sarat-nilai/&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-5906604577161827006?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/5906604577161827006/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=5906604577161827006&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/5906604577161827006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/5906604577161827006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2010/07/tugas-plpbk.html' title='tugas PLPBK'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-7271536485497815878</id><published>2010-07-13T20:10:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T20:24:32.769-07:00</updated><title type='text'>case studi</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCompaq%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCompaq%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCompaq%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="plchdr" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCompaq%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_plchdr.htm"&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Cambria; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073741899 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Brush Script MT"; 	panose-1:3 6 8 2 4 4 6 7 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-link:"Header Char"; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 234.0pt right 468.0pt; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-link:"Footer Char"; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 234.0pt right 468.0pt; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	color:purple; 	mso-themecolor:followedhyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:36.0pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:36.0pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} span.HeaderChar 	{mso-style-name:"Header Char"; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Header; 	mso-ansi-font-size:11.0pt; 	mso-bidi-font-size:11.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} span.FooterChar 	{mso-style-name:"Footer Char"; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Footer; 	mso-ansi-font-size:11.0pt; 	mso-bidi-font-size:11.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:78252621; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:549585774 -518767944 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1 	{mso-list-id:231357743; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:428103674 1879600470 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-start-at:9; 	mso-level-number-format:alpha-upper; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:144.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l2 	{mso-list-id:354045448; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1132536172 -148980950 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 	{mso-level-number-format:roman-upper; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-36.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l3 	{mso-list-id:1066957355; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1052124240 -2137865614 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 	{mso-level-number-format:alpha-upper; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l4 	{mso-list-id:1093435331; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1883531950 67698709 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 	{mso-level-number-format:alpha-upper; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5 	{mso-list-id:1415126743; 	mso-list-template-ids:250931994;} @list l5:level1 	{mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level2 	{mso-level-number-format:alpha-upper; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:108.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level3 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:144.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level4 	{mso-level-number-format:roman-upper; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:198.0pt; 	text-indent:-36.0pt;} @list l5:level5 	{mso-level-start-at:0; 	mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:-; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:216.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @list l5:level6 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:252.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l6 	{mso-list-id:1621958533; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1427709376 -518067618 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l6:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:90.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCompaq%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCompaq%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCompaq%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCompaq%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves&gt;false&lt;/w:TrackMoves&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:Calibri;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="1027"&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;LAPORAN STUDI KASUS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;STUDI KASUS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;OLEH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;EKA LISDIANA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;0713052005&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:f&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/o:lock&gt;&lt;v:shape id="Picture_x0020_2" spid="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="position: absolute; left: 0pt; text-align: left; margin-left: 187.5pt; margin-top: 20.7pt; width: 134.25pt; height: 126pt; z-index: -1; visibility: visible;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCompaq%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image001.jpg" title=""&gt; &lt;/v:imagedata&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/v:path&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:formulas&gt;&lt;/v:stroke&gt;&lt;/v:shapetype&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;JURUSAN ILMU PENDIDIKAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;UNIVERSITAS LAMPUNG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;2010&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;                                                                  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;I.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;IDENTITAS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Identitas subyek&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Nama Lengkap&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;: KTN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Jenis kelamin&lt;span style=""&gt;                           &lt;/span&gt;: Perempuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Tempat dan Tanggal Lahir&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: Natar, 1965&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Agama&lt;span style=""&gt;                                     &lt;/span&gt;: Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Urutan Bersaudara&lt;span style=""&gt;                  &lt;/span&gt;: 3 dari 7 bersaudara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Alamat&lt;span style=""&gt;                                                &lt;/span&gt;: Muara Putih Natar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Identitas Orang Tua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; margin-left: 36pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid black; padding: 0cm 5.4pt; width: 148pt;" valign="top" width="197"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 147.4pt;" valign="top" width="197"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Ayah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 141.8pt;" valign="top" width="189"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Ibu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0cm 5.4pt; width: 148pt;" valign="top" width="197"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Nama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Tempat&amp;amp; tanggal   lahir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Pekerjaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 147.4pt;" valign="top" width="197"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;SRJ (Alm)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Lampung, 1940&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;-&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0cm 5.4pt; width: 141.8pt;" valign="top" width="189"&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;RP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lampung, 1947&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Tani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;II.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;PERMASALAHAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Tidak ada yang tahu pasti kapan KTN &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mulai Nampak aneh, aneh dengan penampilanya, aneh dengan gaya bicaranya dan aneh dengan segala tingkah lakunya sekarang. Semua berawal dari perceraiannya dengan suaminya. Saat sedang menagndung ia sudah ditinggalkan oleh suaminya, saat itulah muncul keanehan-kenaehan dalam diri subjek 15 thn silam sampai sekarangpun subjek masih menunjukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh subjek. Saat itu ia sedang mengandung anak bungsunya, setelah melahirkanpun ia tidak mau mengakui bahwa itu adalah anaknya oleh sebab itu, anak yang telah lahir di bawa oleh Suaminya dan sampai sekarangpun masih bersamanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Jika biasanya ia menggunakan bahasa ibu untuk berkomunikasi dengan keluarganya kini ia bertutur layaknya ia sedang menghadapi orang-orang “&lt;i style=""&gt;gedean”&lt;/i&gt; dengan menggunakan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia dengan baik dan benar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;III.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;TUJUAN PEMERIKSAAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Untuk dapat mengetahui latar belakang permasalahanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;IV.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;HASIL PENGAMBILAN DATA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Observasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Observasi Fisik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Subjek memiliki tubuh yang langsing dengan tinggi 163 cm dan berat badan 45kg. subjek selalu berjilbab kemanapun ia pergi, jadi tidak terlihat rambutnya. Subjek sering memakai baju lengan panjang jika ingin bepergian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Observasi perilaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Subjek sering nampak murung dan serring pula menggerutu sendiri di teras rumahnya maupn di jalan ketika bertemu dengan orang lain. Subjek seringkali mengamuk bahkan tak segan melukai orang yang menggangunya, jika di tanya subjek menjawabnya, tapi jika di ejek subjek sontak mengamuk dan terkadang melempar batu kepada yang mengejeknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Setiap pagi hari subjek mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan menyapu halaman rumah, mencuci piring, bahkan mencuci baju sendiri. Jika bepergiansubjek akan bersolek, pernah suatu waktu subjek pergi menggunakan gaun putih dengan mengendarai sepeda, jika ditanya makan jawabanya adalah mau mencari uang. Tujuan uamanya adalah jembat Layang yang berjarak sekitar 11 km dari rumah subjek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Observasi tempat tinggal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Sudah sekitar 5 bulan subjek menempati rumahnya sendiri yang dibuatkan oleh orang tua subjek kepada subjek sebagai bukti kasih sayang dari orang tua. Ruamh subjek cukup besar 90 m x 85 m. cukup luas jika hanya subjek saja yang menempatinya. Rumah subjek berada di belakang rumah orang tuanya dan disebelah kanan rumahnya adalah rumah adiknya yang belum lama ini menikah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kesimpulan Observasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Subjek tinggal dirumah sendirian hal itulah yang dapat mendukung subjek untuk menjadi penyendiri dan susuah untuk bergaul di masyarakat. Dan mempunyai keluarga yang acuh terhadap penyakitnya sehingga subjek sering mengurung diri di rumahnya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 90pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;WAWANCARA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Wawancara dengan subjek&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 72pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Setelah 3 kali ditolak oleh subjek untuk wawancara akhirnya subjek memberikan kesempatan wawancara dikunjungan yang ke 4.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 72pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Subjek anak ke 7 dari 8 bersaudara, ayahnya telah meninggal 4 thn yang lalu, disaat ia sedang mengandung, suaminya meninggalkan dirinya hanya karena wanita lain, subjek mengalami skizofrenia saat ia di tinggal pergi oleh sang suami padahal saat itu ia sedang mengandung. Namun setelah anaknya lahir, sang buah hatipun di ambil asuh oleh ayahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Wawancara dengan keluarga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 72pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Orang tua subjek sangat menyayangkan tindakan subjek yang seringa mengamuk jika ada yanga menggangu dirinya. Menurutnya subjek mengalami penyakit itu ketika ditinggal oleh ang suami yang snagat ia cintai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 72pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kakak subjekpun mengatakan hal yang serupa, namun dari riwayat keluargapun, ada salah seorang kakak kandung subjek menderita skizofrenia, dan telah meninggal 7 tahun silam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;V.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;ANALISIS KASUS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang kronik, pada orang yang mengalaminya tidak dapat menilai realitas dengan baik dan pemahaman diri buruk (Kaplan dan Sadock, 1997). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Gejalanya dibagi menjadi 2 kelompok yaitu primer yang meliputi perubahan proses pikir, gangguan emosi, kemauan, dan otisme. Sedangkan gejala sekunder meliputi waham, halusinasi, gejala katatonik. Gejala sekunder merupakan manifestasi untuk menyesuaikan diri terhadap gangguan primer. Skizofrenia dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu simplex, hebefrenik, katatonik, paranoid, tak terinci, residual (Maslim, 2000). Dari beberapa jenis skizofrenia diatas, terdapat skizofrenia paranoid. Jenis ini ditandai oleh keasyikan (preokupasi) pada satu atau lebih waham atau halusinasi, dan tidak ada perilaku pada tipe terdisorganisasi atau katatonik. Secara klasik skizofrenia tipe paranoid ditandai terutama oleh adanya waham kebesaran atau waham kejar, jalannya penyakit agak konstan (Kaplan dan Sadock, 1998). Pikiran melayang (Flight of ideas) lebih sering terdapat pada mania, pada skizofrenia lebih sering inkoherensi (Maramis, 1998). Kriteria waktunya berdasarkan pada teori Townsend (1998), yang mengatakan kondisi klien jiwa sulit diramalkan, karena setiap saat dapat berubah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Waham menurut Maramis (1998), Keliat (1998) dan Ramdi (2000) menyatakan bahwa itu merupakan suatu keyakinan tentang isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya, keyakinan tersebut dipertahankan secara kokoh dan tidak dapat diubah-ubah. Mayer-Gross dalam Maramis (1998) membagi waham dalam 2 kelompok, yaitu primer dan sekunder. Waham primer timbul secara tidak logis, tanpa penyebab dari luar. Sedangkan waham sekunder biasanya logis kedengarannya, dapat diikuti dan merupakan cara untuk menerangkan gejala-gejala skizofrenia lain, waham dinamakan menurut isinya, salah satunya adalah waham kebesaran&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 54pt; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Waham kebesaran adalah waham peningkatan kemampuan, kekuatan, pengetahuan, identitas, atau hubungan khusus dengan dewa atau orang terkenal (Kaplan dan Sadock, 1997). Pendapat ini juga didukung oleh Kusuma (1997) yang menyatakan bahwa derajat waham kebesaran dapat terentang pembesar- besaran yang ringan sampai karakteristik sesungguhnya dari waham kebesaran psikotik. Isi waham umpamanya pasien telah melakukan penemuan yang penting atau memiliki bakat yang tidak diketahui atau kesehatan yang sangat baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 54pt; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;Skizofrenia&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt; merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada &lt;i style=""&gt;dopamin&lt;/i&gt;, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan &lt;i style=""&gt;delusi &lt;/i&gt;(keyakinan yang salah) dan &lt;i style=""&gt;halusinasi &lt;/i&gt;(persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 54pt; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;Pada pasien penderita, ditemukan penurunan kadar transtiretin atau pre-albumin yang merupakan pengusung hormon tiroksin, yang menyebabkan permasalahan pada zalir serebrospinal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 54pt; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;Skizofrenia bisa mengenai siapa saja. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia. 75% Penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh &lt;i style=""&gt;stresor&lt;/i&gt;. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 54pt; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;Indikator premorbid (pra-sakit) pre-skizofrenia antara lain ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh. Penyimpangan komunikasi: pasien sulit melakukan pembicaraan terarah, kadang menyimpang (tanjential) atau berputar-putar (sirkumstantial). Gangguan atensi: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, atau memindahkan atensi. Gangguan perilaku: menjadi pemalu, tertutup, menarik diri secara sosial, tidak bisa menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan jelas, mengganggu dan tak disiplin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;Gejala-gejala Positif&lt;br /&gt;Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;Gejala-gejala Negatif&lt;br /&gt;Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;VI.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;DIAGNOSIS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Diagnosis yang diberikan kepada klien: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; text-indent: -7.1pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Aksis I&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;: F2. Skizofrenia, gangguan skizotipal dan gangguan waham&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 108pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;F3. Gangguan perasaa/&lt;i style=""&gt;mood &lt;/i&gt;(Afektif)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; text-indent: -7.1pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Aksis II&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: -&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; text-indent: -7.1pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Aksis III&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;: -&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; text-indent: -7.1pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Aksis IV&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;: Keluarga : “&lt;i style=""&gt;primary support group” &lt;/i&gt;yakni tidak ada dukungan &lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;dari keluarga, dan warga masyarakat/tetangga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 63.8pt; text-indent: -7.1pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Aksis V&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: 40-31 beberapa disabilitas dalam berhubungan dengan realitas dan komunikasi (contoh : berbicara tidak relevan), &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;gangguan yang lebih berat lagi dalam kehidupan sosial ( contoh : menelentarakan keluarga)&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;color:black;"   &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 63.8pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Jadi dalam diri subjek terdapat ganguan berupa gangguan kepribadian serta gangguan emosional karena ada masalah; yaitu tidak ada dukungan dari orang tua/keluarga disertai lingkungan dan warga mayarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 63.8pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;VII.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;PROGNOSIS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 108pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hal-hal yang mendukung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 2cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Keluarga dan warga tetangga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 2cm; text-indent: 15.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;color:black;"   &gt;Dukungan keluarga dan teman merupakan salah satu obat penyembuh yang sangat berarti bagi penderita skizofrenia. Hal itu juga dikatakan Dr L Suryantha Chandra, psikiater di sanatorium Dharmawangsa.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Menerima kenyataan, menurut Suryantha, adalah kunci pertama proses penyembuhan atau pengendalian skizofrenia. Keluarga harus bersikap menerima, tetap berkomunikasi dan tidak mengasingkan penderita. Tindakan kasar, bentakan, atau mengucilkan malah akan membuat penderita semakin depresi bahkan cenderung bersikap kasar. Akan tetapi, terlalu memanjakan juga tidak baik.&lt;br /&gt;"Keluarga harus membantu menumbuhkan sikap mandiri dalam diri si penderita. Mereka harus sabar dan menerima kenyataan, karena penyakit skizofrenia sulit disembuhkan. Berdasarkan penelitian, hanya satu dari lima penderita yang benar-benar bisa sembuh total," katanya&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;color:black;"   &gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 108pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Hal-hal yang menghambat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 108pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Keluarga yang tidak mendukung akan menghambat kesembuhan subjek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 108pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 108pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;D.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Kesimpulan : POSITIF&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 108pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Ketika ada motivasi dalam diri subjek, keluarga dan warga tetangga maka prognosisnya adalah positif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 108pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 108pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 108pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;VIII.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;TREATMEN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 106.35pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Yang sudah dilakukan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 106.35pt; text-indent: -1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;I.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Untuk keluarga dan warga tetangga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 2cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Memberikan pengertian akan arti pentinga dari skizofrenia, dan mengharapkan orang tua dan warga tetangga ikut memberikan dukungan kepada subjek untuk menuju kesembuhan subjek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 106.35pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Yang direkomendasikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 99.25pt; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt;I.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Untuk Orang Tua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 2cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Untuk Orang tua agar memasukkan KTN K RSJ terdekat dan memberikan dukungan psikologis kepada subjek agar subjek merasa diperhatikan dan tidak di acuhkan meski ia mengidap skizofrenia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;A.Wira miharja, sutardjo. 2007. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;PT. Refika Aditama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Minister supply Canada, 2005.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Terjemahan; Skizofrenia Sebuah panduan bagi penderita Skizofrenia. Yogyakarta: CV. Qalam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a href="http://masdanang.co.cc/?p=27"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;http://masdanang.co.cc/?p=27&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.loni.ucla.edu/Research/Projects/Schizophrenia/Schizophrenia_Images.shtml"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;www.loni.ucla.edu&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a href="http://www.forumsains.com/"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;http://www.forumsains.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;http://www.neurosains.com/?p=819&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Skizofrenia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-7271536485497815878?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/7271536485497815878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=7271536485497815878&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/7271536485497815878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/7271536485497815878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2010/07/case-studi.html' title='case studi'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-6791068885626837566</id><published>2010-01-13T00:06:00.000-08:00</published><updated>2010-04-21T20:01:37.531-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER&lt;br /&gt;LAPORAN PENELITIAN GAD (Generalized Anxiety Disorder Gangguan Kecemasan Tergeneralisasikan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Psikopathologi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EKA LISDIANA&lt;br /&gt;0713052005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S8-7rsBK4VI/AAAAAAAAAB4/IP9OiQQpwtI/s1600/UNILA+3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 138px; height: 135px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S8-7rsBK4VI/AAAAAAAAAB4/IP9OiQQpwtI/s320/UNILA+3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462791232248537426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING&lt;br /&gt;JURUSAN ILMU PENDIDIKAN&lt;br /&gt;FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN&lt;br /&gt;UNIVERSITAS LAMPUNG&lt;br /&gt;2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Rasionalisasi Kasus&lt;br /&gt;Saat ini kita sudah sering kali mendengar berbagai kasus dalam dunia pendidikan kita, mulai dari kesulitan belajar, salah memilih sekolah, tawuran antar pelajar, dan masih banyak lagi. Untuk itu perlu kira ada study atau penelitian mengenai kasus-kasus tersebut, yang bertujuan untuk mengungkap kenapa permasalahan-permasalahan tersebut bisa terjadi.&lt;br /&gt;Dalam laporan ini penulis akan mencoba mengungkap salah satu kasus moral, yaitu tentang kasus kesulitan berkata jujur pada subyek yang merasa jika ia berkata jujur maka ia akan dijauhi dan di kucilkan dari teman-temannya. Dalam kasus ini penulis melakukan penelitian dengan metode study kasus. Ada beberapa pendapat tentang apa itu study kasus menurut beberapa pakar dalam psikologi dan bimbingan konseling, yaitu; Study kasus adalah suatu teknik mempelajari seorang individu secara mendalam untuk membantu memperoleh penyesuaian diri yang lebih baik. (Djumhur, 1985)&lt;br /&gt;Metode study kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan how atau why, bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki, dan fokus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer didalam konteks kehidupan nyata. Karena itu penulis menggunakan metode study kasus ini untuk melakukan penelitian terhadap kasus anak yang lamban belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;B.KONFIDENSIALITAS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Metode study kasus merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh seorang peneliti untuk membantu dan mengkaji masalah-masalah yang ditemukan secara mendalam dan komprehensif, sampai pada diperolehnya pemecahan terhadap masalah-masalah yang ada, dan juga memberikan alternatif-alternatif yang dibutuhkan siswa untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik.&lt;br /&gt;Dalam study kasus ini, peneliti melakukan assasmen terhadap subyek bermasalah tersebut, untuk memperoleh data-data tentang subyek. Baik yang berhubungan dengan diri subyek sendiri, keluarga, sekolah, maupun lingkungan sosial subyek. Untuk itu kerahasiaan identitas subyek harus sangat diperhatikan karena menyangkut rahasia pribadi subyek dan juga untuk menjaga rasa aman subyek dalam lingkungannya. Asas kerahasiaan ini harus dijalankan oleh peneliti karena pekerjaan peneliti adalah profesi seorang yang profesional, jadi ada aturan-aturan dan kode etik yang mengikat.&lt;br /&gt;Berdasarkan kode etik jabatan peneliti Bab II sub bab kegiatan profesinal butir 1.1 yang berbunyi :&lt;br /&gt;1.Catatan tentang diri subyek yang meliputi data hasil wawancara, tenting, surat-menyurat, perekaman dan data lain, semuanya merupakan informasi yang bersifat rahasia dan hanya boleh digunakan untuk kepentingan subyek. Penggunaan data/informasi untuk keperluan riset atau pendidikan calon peneliti dimungkinkan sepanjang identitas subyek dirahasiakan.&lt;br /&gt;2.Penyimpangan informasi mengenai kepada subyek kepada keluarga atau kepada anggota profesi lain, membutuhkan persetujuan subyek.&lt;br /&gt;3.Penggunaan informasi tentang subyek dalam rangka konsultasi dengan anggota profesi yang sama atau yang lain dapat dibenarkan, asalakan untuk kepentingan subyek dan tidak merugikan subyek.&lt;br /&gt;4.Keterangan mengenai bahan profesional hanya boleh diberikan kepada orang berwenang menafsirkan dan menggunakannya.&lt;br /&gt;Untuk itu peneliti diharuskan untuk bertindak sesuai dengan kode etik yang ada demi menjaga kerahasiaan subyek, sehingga dalam laporan study kasus ini identitas yang peneliti cantumkan dan segala latar belakang dengan sengaja dibuat fiktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;C.IDENTIFIKASI KASUS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;1.Proses Penemuan Kasus&lt;br /&gt;Subyek kasus ini peneliti temukan melalui hasil observasi dan identifikasi orang yang bermasalah, selain itu juga hasil wawancara dengan teman satu kelasnya dan teman satu kosannya serta berdasarkan data-data yang ada. Dari hasil observasi dan identifikasi yang dilakukan ditemukan adanya gelaja-gejala yang menunjukkan adanya masalah yang dihadapi subyek.&lt;br /&gt;2.Identitas Kasus&lt;br /&gt;IDENTITAS SUBYEK&lt;br /&gt;Nama : RS&lt;br /&gt;Jenis kelamin : perempuan&lt;br /&gt;Bentuk Wajah : Oval&lt;br /&gt;Warna Rambut : Hitam&lt;br /&gt;Jenis Rambut : Lurus&lt;br /&gt;3.Gambaran Keunikan Kasus&lt;br /&gt;a)Penampilan Fisik&lt;br /&gt;Subyek adalah anak yang memiliki ciri-ciri fisik dengan postur tubuh yang tidak jauh beda dengan teman sebayanya. Warna kulit Sawo Matang, bentuk wajahnya terlihat oval, rambutnya berwarna hitam lurus. Subyek kurang begitu bisa membina diri sendiri, kulitnya terlihat kusam. Penampilannya terutama dalam berpakaian sering terlihat kurang rapi, dan kurang bisa menjaga kebersihan diri.&lt;br /&gt;b)Kondisi Psikis&lt;br /&gt;Subyek adalah anak mudah bergaul dan bersosialisasi, tapi subyek lebih sering terlihat sendiri jarang sekali berinteraksi dengan teman sebayanya. c)Kondisi Keluarga&lt;br /&gt;Subyek adalah anak ke-2 dari 6 bersaudara tinggal bersama orang tua, tiga orang kakak karena yang satu sudah meninggal dan adiknya. Ayahnya adalah ayah tiri sedangkan ayah kandungnya telah meninggal. Ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga.&lt;br /&gt;d)Lingkungan Sosial&lt;br /&gt;Subyek sering di olok-olok teman-temannya entah itu di sekolah maupun di lingkungan tempat bermainnya.&lt;br /&gt;e)Keagamaan&lt;br /&gt;Subyek mengaku jarang sekali menunaikan sholat, subyek hanya sholat 2 kali sehari dari lima waktu yang ada, terutama subuh dan dzuhur. Dan itu tidak ada teguran atau perhatian dari orang tua. Dalam membaca Al-Qur’an pun subyek masih belum bisa membacanya dengan lancar, subyek masih belum mengetahui huruf-huruf hijaiyah dengan baik. Menurut subyek belajar mengaji juga jarang, ia masih belajar membaca Iqra’ dan membacanya pun salah-salah, masih belum bisa membedakan dengan jelas huruf-huruf hijaiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB II&lt;br /&gt;GEJALA DAN ALASAN PEMILIHAN KASUS&lt;br /&gt;A.GEJALA KASUS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Berdasarkan data-data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara, di temukan beberapa gejala-gejala permasalahan yang tampak , yaitu :&lt;br /&gt;Tidak konsentrasi ketika mengikuti pajaran, subyek lebih sering melamun ketika dalam kelas dan ketika ditanya materi pelajaran yang sudah disampaikan subyek tidak bisa menjawabnya.&lt;br /&gt;Lamban dalam memahami pelajaran, subyek lamban menangkap apa yang disampaikan oleh guru. Sampai sampai guru harus mengulang beberpa kali apa yang di terangkannya.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.ALASAN PEMILIHAN KASUS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Berdasarkan gejala-gejala yang ditemukan dan dialami subyek, peneliti menganggap bahwa subyek perlu segera mendapatkan bantuan untuk penyelesaian masalah-masalah yang dihadapinya. Apabila hal tersebut tidak segera ditangani dapat terjadi beberapa kemungkinan yang dikhawatirkan akan mempengaruhi pula interaksi dan pergaulannya, yang memungkinkan subyek akan terus menarik diri. Juga mempengaruhi prestasi belajarnya, Berdasarkan beberapa kemungkinan yang timbul itulah maka kasus ini peneliti jadikan sebuah study kasus dan perlu adanya laporan study kasus. Dengan bantuan yang akan diberikan nantinya diharapakan subyek bisa menjadi lebih baik dan tumbuh motivasi dirinya serta mampu merubah kebiasaan-kebiasaan sebelumnya yang dapat merugikan subyek.&lt;br /&gt;C. ANCANGAN STUDY KASUS&lt;br /&gt;Dalam menyusun study kasus ini mengunakan ancangan konseling behavioral yang dikembangkan oleh beberapa tokoh dari aliran behavioral seperti D. Krumboltz, Carl E. Thoresen, Ray E. Hosfor , Bandura, Wolpe, dan tokoh lainnya.&lt;br /&gt;Menurut Krumboltz dan Thoresen (Shertzer &amp;amp; Stone, 1980, 190) konseling behavior merupakan suatu proses membantu orang untuk memecahkan masalah.interpersonal, emosional dan keputusan tertentu. Dalam konsep behavioral, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya.&lt;br /&gt;Dalam pandangan behavioral, kepribadian manusia itu pada hakikatnya adalah perilaku. Perilaku dibentuk berdasarkan hasil dari segenap pengalamannya berupa interaksi individu dengan lingkungan sekitar. Tidak ada manusia yang sama, karena pada kenyataannya manusia memiliki pengalaman yang berbeda dalam kehidupannya. Kepribadian seseorang merupakan cerminan dari pengalaman, yaitu situasi atau stimulus yang diterima.&lt;br /&gt;Adapun tujuan dari konseling bahavioral adalah mencapai kehidupan tanpa mengalamai perilaku simtomatik yaitu kehidupan tanpa mengalamai kesulitan atau hamabatan perilaku, yang dapat membuat ketidakpuasan dalam jangka panjang atau mengalami konflik dalam kehidupan sosial.&lt;br /&gt;Ancangan dalam konseling behavioral terdiri dari beberapa tahapan, yaitu :&lt;br /&gt;1.Membangun hubungan pribadi dengan subyek.&lt;br /&gt;Pada tahap ini, diharapkan adanya rapport antara subyek dengan peneliti. Sehingga setelah terbentuk rapport yang baik nantinya proses konseling yang terjadi akan bisa optimal.&lt;br /&gt;2.Mendenganrkan dengan penuh perhatian ungkapan pikiran dan perasaan subyek&lt;br /&gt;Setelah tahap pertama (membangun hubungan pribadi dengan subyek), maka selanjutnya adalah tahap mendengarkan dengan penuh perhatian ungkapan pikiran dan perasaan subyek. Pada tahap ini, peneliti diharapkan dapat menciptakan iklim yang baik dan penting untuk mempermudah melakukan modifikasi subyek. Peneliti harus bersikap menerima, mencoba memahami subyek dan apa yang dikeukakan subyek tanpa menilai atau mengkritiknya.&lt;br /&gt;3.Mengadakan analisis kasus, yaitu mencari gambaran yang lengkap mengenai kaitan antara A-B dan C.&lt;br /&gt;Peneliti akan menaruh perhatian khusus pada reaksi-reaksi internal karena peneliti akan mengusahakan supaya subyek mengubah dahulu reaksi-reaksi internal itu sebagai jalan intermediary untuk merubah perilakunya.&lt;br /&gt;Pada tahap analisis merupakan langkah mengumpulkan data dan informasi tentang diri subyek dan latar belakang masalah tersebut beserta segala aspek kepribadiannya. Dengan mengetahui segala data dan informasi tentang subyek nantinya akan dengan mudah menganalisis kasus tersebut.&lt;br /&gt;Dalam tahap ini metode wawancara dan observasi yang sangat berperan.&lt;br /&gt;4.Membantu subyek menemukan penyelesaian.&lt;br /&gt;Tahap selanjutnya yaitu membantu subyek menemukan penyelesaiaan dari masalah yang dihadapi. Setelah kasusnya dianalisis maka nantinya akan ditemukan beberapa alternatif pemecahan masalah yang dihadapi. Adapun beberapa penyelesaian dengan menggunakan beberapa tekhnik, diantaranya :&lt;br /&gt;Pendekatan operant learning hal yang penting adalah pengutan (Reinforcement Positive) yang dapat menghasilkan perilaku klien yang dikehendaki.&lt;br /&gt;Metode Unitative Learning atau social modeling (Modeling) diterapkan oleh konselor dengna merancang suatu perilaku adaptif yang dapat dijadikan model oleh klien.&lt;br /&gt;Metode Cognitive Learning atau pembelajaran kognitif merupakan metode yang berupa pengajaran secara verbal (Speaking Treatment), kontrak antara konselor dan klien, dan bermain peranan (Role Play).&lt;br /&gt;Metode Emotional Learning, atau pembelajaran emosional diterapkan pada individu yang mengalami suatu kecemasan..&lt;br /&gt;5.Evaluasi.&lt;br /&gt;Tahap ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan yang diberikan kepda klien serta penentu lanjutan berdasarkan penilaian tersebut untuk mengikuti perkembangan subyek setelah mendapat bantuan.&lt;br /&gt;6.Mengakhiri hubungan pribadi dengan subyek&lt;br /&gt;Pada tahap akhir ini, subyek dan peneliti nanatinya di harapakan tidak ada ketergantungan di antara mereka. Proses terminasi dilakukan pada tahap ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB III&lt;br /&gt;PROSUDER DAN METODE PENYELIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dalam proses pemberian bantuan kepada subyek, penliti terlebih dahulu harus mampu memahami keadaan subyek, agar nantinya dapat memberikan bantuan secara tepat dan sesuai dengan kebutuhan subyek. Sedangkan penelitian yang dilakukan menggunkan ancangan klinis konseling behavior sebagai teknik dalam pelaksanaan stui kasus konseling.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. ANALISIS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tahap analisis merupakan tahap pengumpulan data tentang subyek secara terorganisir. Data subyek yang dikumpulkan ini meliputi data diri subyek secara keseluruhan sehingga dapat menggambarkan diri subyek dan lingkungannya. Adapun proses pengumupulan data ini meliputi data data lengkap subyek, daftar cek masalah, waawancara dan observasi.&lt;br /&gt;Kolom Keluarga&lt;br /&gt;1.Nama Ayah : Maryanto Nama Ibu : Sumirah&lt;br /&gt;2.Pekerjaan Ayah : Buruh Ibu : Ibu rumah tangga&lt;br /&gt;3.Tinggal di kos-kosan&lt;br /&gt;4.Anak : Ke-2 dari 6 bersaudara&lt;br /&gt;5.Kedekatan dirumah : dengan ibu&lt;br /&gt;6.Kerukunan dengan saudara : Sering bertengkar dengan adiknya&lt;br /&gt;7.Kedekatan dengan saudara : Dengan kakak laki-laki yang ke-3&lt;br /&gt;8.Pengalaman dimarahi ayah : Pernah di Geranyangin eleh ayah tirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolom Lingkungan Sosial&lt;br /&gt;Rina Saputri adalah mahasiswa yang sangat antusias mengikuti organisasi intra kampus dan teman-temanyapun sangat menyukai sikap dia yang ramah dan periang.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAWANCARA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Data yang diperoleh dari hasil wawancara sebagai berikut :&lt;br /&gt;Subyek merasa sudah tidak ada lagi yang mau menerima dirinya apa adanya setelah subyek kehilangan keperawanannya sehingga membuat subyek sering berbicara dusta dan terkadang ngelantur dengan topic bhasan yang ia munculkan. Subyek merasa lemah dan di sia-siakan, subyek menjadi pendiam, Subyek sering menarik diri dan merasa minder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OBSERVASI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Data yang diperoleh dari hasil observasi sebagai berikut :&lt;br /&gt;Subyek sering tidak konsentrasi ketika mengikuti pelajaran, Subyek sering menarik diri dan merasa minder dan sering pula tidak menjaga kesehatanya sehingga di kelas saat perkuliahan berlangsung pernah berapa kali ia pingsan.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.SINTESIS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sintesis merupkan salah satu tahapan dalam melaksanakan study kasus, didalamnya dilakukan proses perangkuman serta penyususnan data yang telah diperoleh untuk mendapatkan gambaran tentang diri subyek. Dari tahap sintesis ini dapat disimpulkan bahwa subyek mengalami kesulitan belajar karena sulit berkonsentrasi ketika mengikuti pelajaran dan lamban dalam memahami pelajaran, perhatian teman-teman satu kelasnya yang kurang, mengalami kecemasan, selain itu subyek jadi minder dan menarik diri dikarenakan adanya tekanan dari teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.DIAGNOSIS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Diagnosis merupakan langkah interpretasi data yang telah diperoleh dari hasil analisis dan sintesis. Diagnosis meliputi dua kegiatan, yaitu identifikasi masalah dan etionlogi (penyebab masalah).&lt;br /&gt;a)Identifikasi Masalah&lt;br /&gt;Identifikasi masalah merupakan proses klarifikasi masalah yang sedang dihadapi subyek. Dari klarifikasi yang dilakukan menunjukkan bahwa masalah yang sedang dihadapi subyek sangat kompleks. Namun yang menjadi akar permasalah utama yang dihadapi subyek adalah masalah kurangnya tidak adanya lagi kepercayaan untuknya dari teman-temannya&lt;br /&gt;b)Etiologi&lt;br /&gt;Etiologi merupakan tahap mencari faktor-faktor penyebab masalah atau yang melatar belakangai munculnya masalah yang dialami subyek. Dari rekaman data yang terkumpul diketahii berbagai hal yang melatar belakangi munculnya masalah subyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;D.PROGNOSIS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Langkah prognosa adalah langkah yang ditempuh dalam usaha untuk memprediksi (meramalkan) hal-hal yang terjadi bila masalah subyek tidak segera mendapatkan bantuan dan hal-hal yang terjadi bila subyek mendapatkan bantuan.&lt;br /&gt;Apabila subyek segera dibantu, kemungkinan besar ada perubahan dalam diri subyek yaitu :&lt;br /&gt;a)Subyek mulai berusaha melatih konsentrasinya pada pelajaran&lt;br /&gt;b)Subyek mulai bisa membina dirinya dengan baik&lt;br /&gt;c)Subyek mampu bergaul/brsosialisasi dengan baik dengan lingkungannya&lt;br /&gt;d)Kecemasan dan stress yang dihadapi subyek mulai berkurang karena subyek merasa orang-orang di sekitarnya benar-benar peduli padanya dan penuh penuh perhatian.&lt;br /&gt;e)Motivasi diri dan rasa percaya dirinya tumbuh kembali, dan subyek mulai bisa menghilangkan rasa keterkucilan yang dirasakannya.&lt;br /&gt;Sedangkan jika subyek tidak segera mendpatkan penanganan atas masalahnya maka dapat diprediksikan bahwa subyek akan mengalami :&lt;br /&gt;a)Stress bahkan depresi akibat masalah-masalah yang dihadapainya.&lt;br /&gt;c)Lingkungan sosial Subyek akan cenderung yang tidak bisa menerimanya dan bahkan akan selalu menolaknya.&lt;br /&gt;d)Daya konsentrasi subyek semakin terpecah dan nilai akademis semakin turun&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.FOLLOW-UP&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Follow up merupakan langkah terakhir dalam study kasus yang berupaya untuk melihat seberapa jauh keefektifan bantuan yang telah diberikan dan terlaksana dapat membantu masalah subyek serta menilai perubahan-perubahan yang dapat dicapai subyek. Dalam usaha mengetahui perkembangan subyek, peneliti melakukannya dengan cara observasi dan wawancara tentang kemajuan yang telah diperolehnya. Jika bantuan yang diberikan dapat dikatakan berhasil maka selanjutnya adalah memantau perkembangan subyek dan mempertahankannya, namun jika usaha bantuan yang diberikan tersebut dirsa kurang berhasil maka akan dilakukan pengulangan dan perbaikan usaha yang lebih efektif.&lt;br /&gt;1.Wawancara&lt;br /&gt;Menurut penuturan subyek, subyek sudah bisa bergaul dengan baik dengan teman-temannya, sekarang lebih sering bermain dengan teman, dan mulai bisa memusatkan perhatiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Observasi&lt;br /&gt;Dari hasil observasi yang dilakukan setelah diberikan bantuan subyek mulai berusaha melatih konsentrasinya terutama pada pelajaran.&lt;br /&gt;Masih perlu dilakukan usaha bantuan dan pendampingan sebagai kelanjutan dari upaya bantuan yang telah diberikan pada subyek. Dan untuk mengetahui perkembangan subyek setelah menerima bantuan memang perlu waktu cukup lama, karena perubahan pola tingkah laku maupun pola pikir seseorang tidak bisa di ukur dengan instan dan dalam waktu yang singkat. Perubahan-perubahan yang terjadi merupakan suatu proses menuju pribadi yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB IV&lt;br /&gt;ANALISIS DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;A.ANALISIS&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Study kasus yang telah peneliti lakukan bertujuan untuk memahami subyek dan masalah-malasah yang dihadapinya dengan lebih mendalam serta untuk mengetahui penyebab dari masalahnya. Untuk memperoleh hal itu peneliti menggunkan ancangan konseling behavior. Yang mana konseling behavior merupakan suatu proses membantu orang untuk memecahkan masalah interpersonal, emosional dan keputusan tertentu. Dalam konsep behavioral, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya.&lt;br /&gt;Dengan melalui tahap-tahap konseling yang dilakukan dan ditunjang oleh kelengkapan data yang telah diperoleh melalui daftar cek masalah, wawancara dan observasi, yang dari hasil proses tersebut sangat membantu subyek dalam memcahkan masalahnya.&lt;br /&gt;Secara umum, study kasus yang dilaksanakan sudah berjalan dengan lancar dan cukup baik, akan tetapi masih banyak kendala-kendalan yang harus dihadapai. Ada beberapa kendala yang dihadapi dalam melakukan study kasus ini antara lain; karena keterbatasan waktu sehingga pelaksanaan konseling dan wawancara langsung sangat sulit dilakukan, terutama wawancara yang dilakukan pada orang tua subyek. Selain itu juga karena padatnya kegiatan peniliti.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Study kasus adalah suatu teknik mempelajari seorang individu secara mendalam untuk membantu memperoleh penyesuaian diri yang lebih baik. (Djumhur, 1985). Menurut seorang ahli pendidikan, WS. Winkel (1995) study kasus adalah suatu metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seorang murid secara mendalam dengan tujuan membantu murid untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik.&lt;br /&gt;Subyek yang diangkat dalam study kasus ini memilki permasalahan yang cukup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serius, sehingga peneliti menganggap bahwa subyek membutuhkan bantuan dan layanan yang cukup serius dan secepatnya. Untuk itu peneliti memberikan ancangan konseling behavior.&lt;br /&gt;Bantuan yang peneliti berikan pada subyek terdiri dari beberapa treatment atau beberapa alternatif pemecahan masalah yang dihadapi. Yaitu dengan metode, antara lain :&lt;br /&gt;Pendekatan operant learning hal yang penting adalah pengutan (Reinforcement Positive) yang dapat menghasilkan perilaku klien yang dikehendaki.&lt;br /&gt;Metode Unitative Learning atau social modeling (Modeling) diterapkan oleh konselor dengna merancang suatu perilaku adaptif yang dapat dijadikan model oleh klien.&lt;br /&gt;Metode Cognitive Learning atau pembelajaran kognitif merupakan metode yang berupa pengajaran secara verbal (Speaking Treatment), kontrak antara konselor dan klien, dan bermain peranan (Role Play).&lt;br /&gt;Metode Emotional Learning, atau pembelajaran emosional diterapkan pada individu yang mengalami suatu kecemasan.&lt;br /&gt;Keberhasilan dalam pelaksaaan study kasus ini tidak terlepas dari adanya maksud dan tujuan yang jelas dari diadakannya study kasus ini, adanya kerjasama yang baik antara peneliti, subyek dan teman-teman sekelas klien. Klien dan peneliti menetapkan tujuan yang telah ditetapkan apakah merupakan perubahan yang dimiliki oleh klien. Dan juga karena adanya motivasi dalam diri subyek untuk berubah dan peneliti membantu sehingga kerja sama terjalin dengan harmonis. Selain itu peneliti menggunakan proseder ancangan dan tekhnik konseling secara teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB V&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;A.KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Klien yang dijadikan subyek dalam study kasus ini mengalami masalah kesulitan untuk berbicara jujur dan menjaga dirinya sendiri, disebabkan karena subyek terlalu merefres masalah-malasah yang dihadapinya dan terlalu banyak memikirkannya sehingga ia terlihat sering melamun. Sampai menglamai kecemasan bahkan mungkin mengalami stress.&lt;br /&gt;Selain itu subyek juga mengalami kecemasan, dikarenakan merasa orang tua tidak peduli dan mengacuhkannya, dan juga danya tekanan dari teman-temannya. Subyek juga sering minder dan menarik diri dikarenakan adanya tekanan dan olok-olokan yang selalu ia terima dari teman-temannya, dianggap tidak bisa diajak berteman bahkan sampai berbicara yang tidak jujur kepada teman-temannya atau karena kekurangan yang dimilikinya. Kurangnya perhatian orang tua terhadap dirinya merupakan bagian dari penyebab subyek seperti itu. Melihat sikap orang tua/keluarga yang kurang perhatian terhadap subyek yang kemudian mengeluhkan sikap orang tuanya yang tidak mau memperhatikan dan kurang adil.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.SARAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Mengacu pada pengalaman study kasus yang telah dilakukan, ada beberapa saran yang harus diperhatikan, baik itu oleh konselor, psikololog guru, ataupun pihak sekolah diataranya :&lt;br /&gt;a)Konselor, psikolog atau peneliti hendaknya tidak menggurui subyek.&lt;br /&gt;b)Peneliti hendaknya selalu memperhatikan akan apa yang dibutuhkan siswa sesuai dengan perkembangan dan potensi yang dimilki.&lt;br /&gt;d)Hendaknya adanya dukungan dan kerjasama antara teman-teman kos-kosannya dan teman-teman satu kelasnya.&lt;br /&gt;e)Subyek nantinya diharapkan bisa melanjutkan ataupun dapat kreatif dalam memecahakan masalahnya sendiri tanpa bantuan konselor, psikolog dan peneliti lagi.&lt;br /&gt;f)Bagi konselor, psikolog dan peneliti, hendaknya selalu tetap menjaga kerahasiaan subyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. PT. Rineka Cipta, Jakarta.2002&lt;br /&gt;Robert K. Yin. Prof.Dr. Study Kasus: Desain dan Metode. PT. Ragjagrafinfo Persada. Jakarta. 2002.&lt;br /&gt;Munandir, Prof. Dr. Program Bimbingan Karier Si Sekolah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Jakarta. 1996.&lt;br /&gt;Priyatni, Prof.Dr dan Ermananti, Drs. Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling. PT Rieneka Cipta. Jakarta. 1999.&lt;br /&gt;Gunawan, Yusuf, MSc. Drs. Pengantar Bimbingan dan Konseling, Buku&lt;br /&gt;http://eldido.blog.friendster.com/2008/07/study-kasus-anak-lamban-belajar/&lt;br /&gt;http://rmfatihah.com/2008/07/gangguan kecemasan/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-6791068885626837566?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/6791068885626837566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=6791068885626837566&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/6791068885626837566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/6791068885626837566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2010/01/tugas-ujian-akhir-semester-laporan.html' title=''/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S8-7rsBK4VI/AAAAAAAAAB4/IP9OiQQpwtI/s72-c/UNILA+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-7546254421813358950</id><published>2009-10-11T18:33:00.000-07:00</published><updated>2009-10-11T18:38:03.772-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis Jabatan'/><title type='text'>DESAIN PEKERJAAN DAN INFORMASI ANALISIS JABATAN SERTA PERENCANAAN SDM</title><content type='html'>1.      Pengertian&lt;br /&gt;•      Desain pekerjaan adalah fungsi penetapan kegiatan kerja seorang atau sekelompok karyawan secara organisasional.&lt;br /&gt;•      Tujuannya untuk mengatur penugasan kerja supaya dapat memenuhi kebutuhan organisasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2.      Elemen-elemen desain pekerjaan&lt;br /&gt;•      Elemen organisasional&lt;br /&gt;-         Pendekatan mekanistik&lt;br /&gt;-         Aliran kerja&lt;br /&gt;-         Praktek-praktek kerja&lt;br /&gt;•      Elemen lingkungan&lt;br /&gt;-         Kemampuan dan ketersediaan karyawan&lt;br /&gt;-         Pengharapan sosial&lt;br /&gt;•      Elemen keperilakuan&lt;br /&gt;-         Otonomi&lt;br /&gt;-         Variasi&lt;br /&gt;-         Identitas tuga&lt;br /&gt;-         Umpan balik&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3.      Trade-offs keperilakuan dan efisiensi&lt;br /&gt;•      Produktifitas versus Spesialisasi&lt;br /&gt;•      Kepuasan kerja versus Spesialisasi &lt;br /&gt;•      Proses belajar versus Spesialisasi &lt;br /&gt;•      Perputaran karyawan versus Spesialisasi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4.      Teknik job re-design&lt;br /&gt;•      Simplifikasi pekerjaan&lt;br /&gt;•      Perluasan pekerjaan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5.      Informasi analisis pekerjaan&lt;br /&gt;•      Guna informasi analisis pekerjaan :&lt;br /&gt;a.       Menetapkan basis rasional untuk struktur kompensasi&lt;br /&gt;b.      Menghapuskan persyaratan kerja yang menimbulkan diskriminasi&lt;br /&gt;c.       Merencanakan kebutuhan SDM di masa yang akan datang&lt;br /&gt;d.      Meramalkan kebutuhan pelatihan bagi karyawan&lt;br /&gt;e.       Merencanakan pengembangan karier karyawan potensial&lt;br /&gt;f.        Menetapkan standar prestasi kerja&lt;br /&gt;g.       Menempatkan karyawan sesuai keahliannya&lt;br /&gt;h.       Memperbaiki aliran kerja&lt;br /&gt;i.         Menetapkan garis promosi&lt;br /&gt;j.        Memadukan lamaran dan lowongan kerja&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;•      Tahapan pengumpulan informasi untuk analisis pekerjaan :&lt;br /&gt;a.       Tahap 1 – Persiapan analisis&lt;br /&gt;b.      Tahap 2 – Pengumpulan data&lt;br /&gt;1)      Observasi&lt;br /&gt;2)      Wawancara&lt;br /&gt;3)      Kuesioner&lt;br /&gt;4)      Logs&lt;br /&gt;5)      Kombinasi&lt;br /&gt;c. Penyempurnaan data&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6.      Penggunaan informasi analisis pekerjaan&lt;br /&gt;•      Deskripsi pekerjaan (job description) :&lt;br /&gt;-         Menguraikan tugas-tugas yang harus dilakukan dalam suatu pekerjaan/jabatan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;•      Spesifikasi pekerjaan&lt;br /&gt;-         Menguraikan kualifikasi petugas yang harus melakukan tugas sesuai deskripsi pekerjaan dalam suatu jabatan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;•      Standar prestasi kerja&lt;br /&gt;-         Standar yang digunakan untuk menilai apakah seseorang bekerja dengan benar/sesuai standar atau belum&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;•      Standar kompensi&lt;br /&gt;-         Standar kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang karyawan dalam melakukan suatu jenis pekerjaan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7.      Penulisan/penyusunan deskripsi pekerjaan&lt;br /&gt;•      Nama jabatan&lt;br /&gt;•      Kode jabatan&lt;br /&gt;•      Tanggal penetapan deskripsi&lt;br /&gt;•      Penyusun&lt;br /&gt;•      Departemen&lt;br /&gt;•      Lokasi&lt;br /&gt;•      Fungsi jabatan&lt;br /&gt;•      Tugas&lt;br /&gt;•      Wewenang&lt;br /&gt;•      Tanggung jawab&lt;br /&gt;•      Hubungan lini&lt;br /&gt;•      Kondisi kerja&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8.      Penulisan spesifikasi pekerjaan&lt;br /&gt;•      Nama jabatan&lt;br /&gt;•      Kode jabatan&lt;br /&gt;•      Tanggal penetapan&lt;br /&gt;•      Penyusun&lt;br /&gt;•      Departemen&lt;br /&gt;•      Lokasi&lt;br /&gt;•      Persyaratan pemangku jabatan :&lt;br /&gt;a.       Pendidikan&lt;br /&gt;b.      Pengalaman&lt;br /&gt;c.       Persyaratan fisik&lt;br /&gt;d.      Persyaratan mental&lt;br /&gt;e.       Kemampuan/kompetensi&lt;br /&gt;f.        Jalur karier sebelumnya&lt;br /&gt;http://www.pasamankab.go.id/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; PENGERTIAN ANALISIS JABATAN &lt;br /&gt;Analisis Jabatan merupakan kegiatan untuk menciptakan landasan atau pedoman bagi penerimaan dan penempatan karyawan. Dengan demikian kagiatan perencanaan SDM tidak terlepas dari analisis jabatan. Analisis jabatan adalah kegiatan untuk memberikan analisis pada setiap jabatan/pekerjaan, sehingga dengan demikian akan memberikan pula gambaran tentang spesifikasi jabatan tertentu. &lt;br /&gt;Analisis jabatan secara sistematik meliputi kegiatan-kegiatan mengumpulkan, mengevaluasi dan mengorganisasikan pekerjaan/jabatan. Informasi yang dikumpulkan melalui analisis jabatan berperan penting dalam perencanaan SDM kerena menyediakan data tentang kondisi kepegawaian dan lingkungan kerja. &lt;br /&gt;Contoh informasi yang didapat dari analisis jabatan adalah uraian jabatan, syarat jabatan, berat ringannya pekerjaan, besar kecilnya risiko pekerjaan, sulit tidaknya pekerjaan, besar kecilnya tanggung jawab, banyak sedikitnya pengalaman, tinggi rendahnya tingkat pendidikan dan pertimbangan-pertimbangan lain. &lt;br /&gt;Analisis jabatan juga merupakan informasi tentang jabatan itu sendiri dan syarat-syarat yang diperlukan untuk dapat memegang jabatan tersebut dengan baik. Output dari analisis jabatan adalah deskripsi jabatan (Job Description) dan spesifikasi jabatan (Job Specification). &lt;br /&gt;Deskripsi jabatan (Job Description) menjelaskan tentang suatu jabatan, tugas, tanggung jawab, wewenang dan sebagainya. Sedangkan spesifikasi jabatan (Job Specification) adalah informasi tentang syarat-syarat yang diperlukan bagi setiap karyawan agar dapat memangku suatu jabatan dengan baik. Syarat tersebut antara lain : 1) Syarat pendidikan, 2) Syarat kesehatan, 3) Syarat fisik, dan 4) Syarat lain seperti status pernikahan, jumlah anggota keluarga, kepribadian tertentu dan sebagainya. &lt;br /&gt;Menurut French (1986), analisis jabatan adalah penyelidikan yang sistematis tentang isi pekerjaan, lingkungan fisik yang melingkupi pekerjaan, dan kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjalankan tanggung jawab jabatan/pekerjaan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Analisis Jabatan &lt;br /&gt;Sejumlah kategori informasi selalu terdapat pada analisis jabatan, termasuk di dalamnya aktivitas apa saja yang ada, mengapa, bagaimana serta kapan aktivitas tersebut dilakukan; juga berisi informasi tentang alat/mesin apa yang digunakan, apa yang dipertimbangkan dalam interaksi satu sama lain, kondisi kerja secara fisik dan sosial, pelatihan, ketrampilan dan kemampuan yang diisyaratkan dalam pekerjaan. Analisis jabatan yang baik juga dapat digunakan untuk memperbaiki efektivitas dan efisiensi staffing, penilaian, imbalan dan sebagainya. &lt;br /&gt;Analisis jabatan merupakan informasi tertulis mengenai pekerjaan-pekerjaan apa yang harus dikerjakan oleh pegawai dalam suatu perusahaan agar tujuan tercapai. Dari analisis jabatan dapat dibuat rancangan pekerjaan dan ditetapkan uraian pekerjaan. Dengan demikian analisis jabatan dapat memberikan informasi tentang aktivitas pekerjaan, standar pekerjaan, konteks pekerjaan, persyaratan personalia, perilaku manusia dan alat-alat yang digunakan. &lt;br /&gt;Schuler (1992) berpendapat bahwa analisis jabatan adalah suatu proses penguraian dan pencatatan pekerjaan-pekerjaan. Sedangkan khusus uraian dan catatan tersebut adalah sasaran pekerjaan-pekerjaan yaitu tugas-tugas atau aktivitas dan kondisi yang meliputinya. Dasar dari analisis jabatan adalah spesifikasi pekerjaan yang tertulis secara mendetail tentang ketrampilan, pengetahuan dan kemampuan individu yang dibutuhkan oleh kinerja pekerjaan tersebut. Namun demikian, tidak semuanya berjalan baik. Uraian kerja yang termasuk didalamnya menginformasikan tentang standar kinerja, karakteristik tugas yang dirancang, dan karakteristik individu pekerja. Selain itu spesifikasi pekerjaan meliputi karaktersitik individu, interest dan preferensi yang kompatibel dengan pekerjaan atau memuaskan kinerja pekerjaan. Modifikasi antara uraian pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan adalah untuk menjaga agar sasaran manajemen SDM seperti peningkatan produkstivitas dan kualitas hidup pekerja senantiasa terjaga. &lt;br /&gt;MANFAAT DAN FUNGSI ANALISIS JABATAN &lt;br /&gt;Beberapa kegiatan organisasi akan berjalan lebih baik hasilnya bila berlandaskan atau berpedoman pada analisis jabatan. Menurut Nitisemito (1992), analisis jabatan bermanfaat sebagai : &lt;br /&gt; • landasan untuk melaksanakan mutasi; &lt;br /&gt; • landasan untuk melaksanakan promosi; &lt;br /&gt; • landasan untuk melaksanakan training/ pelatihan; &lt;br /&gt; • landasan untuk melaksanakan kompensasi; &lt;br /&gt; • landasan untuk melaksanakan syarat lingkungan kerja; &lt;br /&gt; • landasan untuk pemenuhan kebutuhan peralatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan fungsi dari analisis jabatan adalah untuk : &lt;br /&gt; a. menentukan basis regional bagi struktur kompensasi; &lt;br /&gt; b. mengevaluasi tantangan lingkungan yang mempengaruhi pekerjaan individu; &lt;br /&gt; c. menghapuskan persyaratan kerja yang dapat menyebabkan adanya deskriminasi dalam pengadaan SDM; &lt;br /&gt; d. merencanakan kebutuhan SDM di waktu yang akan datang; &lt;br /&gt; e. memadukan lamaran dan lowongan kerja yang ada; &lt;br /&gt; f. memforkas dan menentukan kebutuhan-kebutuhan latihan bagi para karyawan; &lt;br /&gt; g. mengembangkan rencana-rencana pengembangan pegawai yang potensial; &lt;br /&gt; h. menetapkan standar prestasi kerja yang realistik; &lt;br /&gt; i. menempatkan karyawan sesuai dengan ketrampilannya; &lt;br /&gt; j. membantu revisi struktur organisasi; &lt;br /&gt; k. memperkenalkan karyawan baru dengan pekerjaan mereka; &lt;br /&gt; l. memperbaiki alur kerja; &lt;br /&gt; m. memberikan data sebagai fungsi saluran komunikasi; &lt;br /&gt; n. menetapkan garis promosi dalam semua departemen dan organisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SASARAN ANALISIS JABATAN &lt;br /&gt; 1) Menentukan nilai pekerjaan yang memungkinkan untuk pemeliharaan hak pembayaran internal dan eksternal. &lt;br /&gt; 2) Memastikan perusahaan tidak melanggar ketetapan upah dan imbalan untuk pekerjaan yang sama. &lt;br /&gt; 3) Membantu supervisor dan pekerja dalam mendefinisikan tugas dan tanggung jawab untuk masing-masing pekerja. &lt;br /&gt; 4) Menyediakan justifikasi untuk eksistensi pekerjaan dan manakala organisasi dalam kondisi “fit” hingga kondisi “istirahat”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://elearning.gunadarma.ac.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENGERTIAN PERENCANAAN SDM&lt;br /&gt;Sumber daya manusia adalah kemampuan terpadu dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki individu, perilaku dan sifatnya ditentukan oleh keturunan dan lingkungannya, sedangkan prestasi kerjanya dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kepuasannya.&lt;br /&gt;Andrew E. Sikula (1981;145) mengemukakan bahwa:&lt;br /&gt;“Perencanaan sumber daya manusia atau perencanaan tenaga kerja didefinisikan sebagai proses menentukan kebutuhan tenaga kerja dan berarti mempertemukan kebutuhan tersebut agar pelaksanaannya berinteraksi dengan rencana organisasi”.&lt;br /&gt;George Milkovich dan Paul C. Nystrom (Dale Yoder, 1981:173) mendefinisikan bahwa:&lt;br /&gt;“Perencanaan tenaga kerja adalah proses peramalan, pengembangan, pengimplementasian dan pengontrolan yang menjamin perusahaan mempunyai kesesuaian jumlah pegawai, penempatan pegawai secara benar, waktu yang tepat, yang secara otomatis lebih bermanfaat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan SDM merupakan proses analisis dan identifikasi tersedianya kebutuhan akan sumber daya manusia sehingga organisasi tersebut dapat mencapai tujuannya.&lt;br /&gt;1. Kepentingan Perencanaan SDM&lt;br /&gt;Ada tiga kepentingan dalam perencanaan sumber daya manusia (SDM), yaitu:&lt;br /&gt;Kepentingan Individu.&lt;br /&gt;Kepentingan Organisasi.&lt;br /&gt;Kepentingan Nasional.&lt;br /&gt;2. Komponen-komponen Perencanaan SDM&lt;br /&gt;Terdapat beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam perencanaan SDM, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan &lt;br /&gt;Perencanaan SDM harus mempunyai tujuan yang berdasarkan kepentingan individu, organisasi dan kepentingan nasional. Tujuan perencanaan SDM adalah menghubungkan SDM yang ada untuk kebutuhan perusahaan pada masa yang akan datang untuk menghindari mismanajemen dan tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas.&lt;br /&gt;Perencanaan Organisasi&lt;br /&gt;Perencanaan Organisasi merupakan aktivitas yang dilakukan perusahaan untuk mengadakan perubahan yang positif bagi perkembangan organisasi. Peramalan SDM dipengaruhi secara drastis oleh tingkat produksi. Tingkat produksi dari perusahaan penyedia (suplier) maupun pesaing dapat juga berpengaruh. Meramalkan SDM, perlu memperhitungkan perubahan teknologi, kondisi permintaan dan penawaran, dan perencanaan karir.&lt;br /&gt;Kesimpulannya, PSDM memberikan petunjuk masa depan, menentukan dimana tenaga kerja diperoleh, kapan tenaga kerja dibutuhkan, dan pelatihan dan pengembangan jenis apa yang harus dimiliki tenaga kerja. Melalui rencana suksesi, jenjang karier tenaga kerja dapat disesuaikan dengan kebutuhan perorangan yang konsisten dengan kebutuhan suatu organisasi.&lt;br /&gt;Syarat – syarat perencanaan SDM &lt;br /&gt;Harus mengetahui secara jelas masalah yang akan direncanakannya. &lt;br /&gt;Harus mampu mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang SDM.&lt;br /&gt;Harus mempunyai pengalaman luas tentang job analysis, organisasi dan situasi persediaan SDM. &lt;br /&gt;Harus mampu membaca situasi SDM masa kini dan masa mendatang.&lt;br /&gt;Mampu memperkirakan peningkatan SDM dan teknologi masa depan.&lt;br /&gt;Mengetahui secara luas peraturan dan kebijaksanaan perburuhan pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Proses perencanaan SDM&lt;br /&gt;Strategi SDM adalah alat yang digunakan untuk membantu organisasi untuk mengantisipasi dan mengatur penawaran dan permintaan SDM. Strategi SDM ini memberikan arah secara keseluruhan mengenai bagaimana kegiatan SDM akan dikembangkan dan dikelola. &lt;br /&gt;Pengembangan rencana SDM merupakan rencana jangka panjang. Contohnya, dalam perencanaan SDM suatu organisasi harus mempertimbangkan alokasi orang-orang pada tugasnya untuk jangka panjang tidak hanya enam bulan kedepan atau hanya untuk tahun kedepan. Alokasi ini membutuhkan pengetahuan untuk dapat meramal kemungkinan apa yang akan terjadi kelak seperti perluasan, pengurangan pengoperasian, dan perubahan teknologi yang dapat mempengaruhi organisasi tersebut.&lt;br /&gt;Prosedur perencanaan SDM&lt;br /&gt;Menetapkan secara jelas kualitas dan kuantitas SDM yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;Mengumpulkan data dan informasi tentang SDM.&lt;br /&gt;Mengelompokkan data dan informasi serta menganalisisnya.&lt;br /&gt;Menetapkan beberapa alternative.&lt;br /&gt;Memilih yang terbaik dari alternative yang ada menjadi rencana.&lt;br /&gt;Menginformasikan rencana kepada para karyawan untuk direalisasikan.&lt;br /&gt;Metode PSDM ,dikenal atas metode nonilmiah dan metode ilmiah. Metode nonilmiah diartikan bahwa perencanaan SDM hanya didasarkan atas pengalaman, imajinasi, dan perkiraan-perkiraan dari perencanaanya saja. Rencana SDM semacam ini risikonya cukup besar, misalnya kualitas dan kuantitas tenaga kerja tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Akibatnya timbul mismanajemen dan pemborosan yang merugikan perusahaan. &lt;br /&gt;Metode ilmiah diartikan bahwa PSDM dilakukan berdasarkan atas hasil analisis dari data, informasi, dan peramalan (forecasting) dari perencananya. Rencana SDM semacam ini risikonya relative kecil karena segala sesuatunya telah diperhitungkan terlebih dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pengevaluasian Rencana SDM&lt;br /&gt;Jika perencanaan SDM dilakukan dengan baik, akan diperoleh keuntungan-keuntungan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Manajemen puncak memiliki pandangan yang lebih baik terhadap dimensi SDM atau terhadap keputusan-keputusan bisnisnya.&lt;br /&gt;Biaya SDM menjadi lebih kecil karena manajemen dapat mengantisipasi ketidakseimbangan sebelum terjadi hal-hal yang dibayangkan sebelumnya yang lebih besar biayanya.&lt;br /&gt;Tersedianya lebih banyak waktu untuk menempatkan yang berbakat karena kebutuhan dapat diantisipasi dan diketahui sebelum jumlah tenaga kerja yang sebenarnya dibutuhkan.&lt;br /&gt;Adanya kesempatan yang lebih baik untuk melibatkan wanita dan golongan minoritas didalam rencana masa yang akan datang.&lt;br /&gt;Pengembangan para manajer dapat dilaksanakan dengan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala-kendala PSDM&lt;br /&gt;1. Standar kemampuan SDM&lt;br /&gt;Standar kemampuan SDM yang pasti belum ada, akibatnya informasi kemampuan SDM hanya berdasarkan ramalan-ramalan (prediksi) saja yang sifatnya subjektif. Hal ini menjadi kendala yang serius dalam PSDM untuk menghitung potensi SDM secara pasti. &lt;br /&gt;2. Manusia (SDM) Mahluk Hidup&lt;br /&gt;Manusia sebagai mahluk hidup tidak dapat dikuasai sepenuhnya seperti mesin. Hal ini menjadi kendala PSDM, karena itu sulit memperhitungkan segala sesuatunya dalam rencana. Misalnya, ia mampu tapi kurang mau melepaskan kemampuannya.&lt;br /&gt;3. Situasi SDM&lt;br /&gt;Persediaan, mutu, dan penyebaran penduduk yang kurang mendukung kebutuhan SDM perusahaan. Hal ini menjadi kendala proses PSDM yang baik dan benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kebijaksanaan Perburuhan Pemerintah&lt;br /&gt;Kebijaksanaan perburuhan pemerintah, seperti kompensasi, jenis kelamin, WNA, dan kendala lain dalam PSDM untuk membuat rencana yang baik dan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. PERAMALAN&lt;br /&gt;Peramalan (forecasting) menggunakan informasi masa lalu dan saat ini untuk mengidentifikasi kondisi masa depan yang diharapkan. Proyeksi untuk masa yang akan datang tentu saja ada unsur ketidaktepatan. Basanya orang yang berpengalaman mampu meramal cukup akurat terhadap benefit organisasi dalam rencana jangka panjang.&lt;br /&gt;Pendekatan-pendekatan untuk meramal SDM dapat dimulai dari perkiraan terbaik dari para manajer sampai pada simulasi komputer yang rumit. Asumsi yang sederhana mungkin cukup untuk jarak tertentu, tetapi jarak yang rumit akan diperlukan untuk yang lain.&lt;br /&gt;Jangka waktu peramalan&lt;br /&gt;Peramalan SDM harus dilakukan melalui tiga tahap: perencanaan jangka pendek, menengah dan panjang.&lt;br /&gt;Peramalan terhadap kebutuhan SDM (permintaan)&lt;br /&gt;Penekanan utama dari peramalan SDM saat ini adalah meramalkan kebutuhan SDM organisasi atau permintaan kebutuhan akan SDM. Ramalan permintaan dapat berupa penilaian subjektif atau matematis.&lt;br /&gt;Metode meramalkan permintaan, yaitu:&lt;br /&gt;1. Metode penilaian terdiri dari:&lt;br /&gt;a. Estimasi dapat top down atau bottom up, tetapi pada dasarnya yang berkepentingan ditanya “Berapa orang yang akan anda butuhkan tahun depan?”&lt;br /&gt;b. Rules of thumb mempercayakan pedoman umum diterapkan pada situasi khusus dalam organisasi . Contoh; pedoman “one operations managers per five reporting supervisors” membantu dan meramalkan jumlah supervisor yang dibutuhkan dalam suatu divisi. Bagaimanapun, hal ini penting untuk menyesuaikan pedoman untuk mengetahui kebutuhan departemen yang sangat bervariasi.&lt;br /&gt;Teknik Delphi menggunakan input dari kelompok pakar. Opini pakar dicari dengan menggunakan kuesioner terpisah dalam situasi diramalkan. Opini pakar kemudian digabungkan dan dikembalikan kepada para pakar untuk opini tanpa nama yang kedua. Proses ini akana berlangsung beberapa pakar hingga pakar pada umumnya asetuju pada satu penilaian. Sebagai contoh, pendekatan ini telah digunakan untuk meramalakan pengaruh teknologi pada Manajemen SDM dan kebutuhan perekrutan staff.&lt;br /&gt;Teknik kelompok Nominal, tidak seperti Delphi, membutuhkan pakar untuk bertemu secara langsung. Gagasan mereka biasanya timbul secara bebas pada saat pertama kali, didiskusikan sebagai kelompok dan kemudian disusun senagai laporan.&lt;br /&gt;2. Metode Matematika, terdiri dari:&lt;br /&gt;a. Analisis Regresi Statistik membuat perbandingan statistik dari hubungan masa lampau diantara berbagai faktor. Sebagai contoh, hubungan secara statistik antara penjualan kotor dan jumlah karyawan dalam rantai retail mungkin berguna dalam meramalkan sejumlah karyawan yang akan dibutuhkan jika penjualan retail meningkat 30 %.&lt;br /&gt;b. Meode Simulasi merupakan gambaran situasi nyata dalam bentuk abstrak sebagai contoh, model ekonometri meramalkan pertumbuhan dalam pemakaian software akan mengarahkan dalam meramalkan kebutuhan pengembangan software.&lt;br /&gt;c. Rasio Produktivitas menghitung rata-rata jumlah unit yang diproduksi perkaryawan. Rata-rata ini diaplikasikan untuk ramalan penjualan untuk menentukan jumlah karyawan yang dibutuhkan, sebagai contoh, suatu perusahaan dapat meramalkan jumlah penjualan representative menggunakan rasio ini.&lt;br /&gt;d. Rasio jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dapat digunakan untuk meramalkan tenaga kerja tak langsung. Sebagai contoh, jika perusahaan biasanya menggunakan satu orang klerikal untuk 25 tenaga kerja produksi, yang rasio dapat digunakan untuk membantu estimasi untuk tenaga klerikal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. ESTIMASI PERSEDIAAN/SUPPLY SDM INTERNAL DAN EKSTERNAL&lt;br /&gt;Kalau sudah ada proyeksi permintaan HR dimasa yang akan datang, masalah berikutnya adalah bagaimana mengisi kebutuhan tersebut.&lt;br /&gt;Ada dua sumber persediaan SDM : internal dan eksternal. Persediaan/supply internal bisa berasal dari karyawan yang telah ada yang dapat dipromosikan, ditransfer, atau didemosi untuk mengisi lowongan. Supply eksternal berasal dari luar atau mereka yang tidak sedang bekerja di organisasi tersebut dan siap direkrut oleh organisasi/perusahaan.&lt;br /&gt;1. PENILAIAN INTERNAL TERHADAP KETENAGAKERJAAN ORGANISASI&lt;br /&gt;Bagian dari perencanaan sumber daya manusia adalah menganalisis pekerjaan yang perlu dilakukan dan keahlian yang terdapat pada seseorang untuk melakukan suatu tugas. Kebutuhan organisasi harus di bandingkan dengan penyediaan tenaga kerja yang ada.&lt;br /&gt;Tidak hanya sekedar menghitung jumlah karyawan. Harus dilakukan audit tenaga kerja yang sudah ada untuk mengetahui kemampuan pekerja yang ada.&lt;br /&gt;Informasi ini menjadi dasar estimasi tentatif mengenai lowongan-lowongan yang dapat diisi oleh karyawan yang ada.&lt;br /&gt;Penugasan tentatif ini biasanya dicatat di”Replacement Chart”. Chart ini merupakan representasi visual menyangkut SIAPA yang akan menggantikan SIAPA jika terjadi pergantian. Namun karena informasinya yang terbatas maka perlu juga dilengkapi dengan “Replacement Summaries”.&lt;br /&gt;Mempertimbangkan karyawan-karyawan yang sudah ada untuk lowongan di masa yang akan datang adalah penting jika karyawan diproyeksikan memiliki karir yang panjang.&lt;br /&gt;Audit and Replacement Chart juga penting bagi HRD. Dengan pengetahuan akan karyawan yang lebih banyak, HRD dapat merencanakan recruiting, training, dan career planning secara lebih efektif.&lt;br /&gt;Pengetahuan ini juga dapat membantu HRD untuk memenuhi AAP dengan mengidentifikasi calon-calon minoritas interen untuk lowongan-lowongan tertentu.&lt;br /&gt;Berikut adalah pertanyaan yang di berikan selama penilaian internal:&lt;br /&gt;1. Pekerjaan apa yang ada pada saat ini ?&lt;br /&gt;2. Berapa banyak orang yang mengerjakan setiap tugas ?&lt;br /&gt;3. Apa hubungan laporan di antara tugas-tugas tersebut ?&lt;br /&gt;4. Berapa pentingnya masing-masing tugas tersebut ?&lt;br /&gt;5. Pekerjaan manakah yang membutuhkan penerapan strategi organisasi ?&lt;br /&gt;6. Apa saja karakteristik dari pekerjaan yang di harapkan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode-metode yang digunakan untuk mengestimasi/menilai supply SDM internal yaitu: &lt;br /&gt;1.1. Auditing Pekerjaan dan Keahlian&lt;br /&gt;Tahap permulaan untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan yang ada didalam suatu perusahaan adalah mengaudit pekerjaan yang sedang dilakukan organisasi pada saat ini. Penilaian internal ini menolong menempatkan kedudukan suatu organisasi dalam mengembangkan atau memantapkan keunggulan kompetitif. Analisis yang komprehensif dari semua pekerjaan saat ini memberikan dasar untuk mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan pada masa yang akan datang.&lt;br /&gt;Audit SDM merupakan tindak lanjut dari realisasi perencanaan-perencanaan yang telah dilakukan. &lt;br /&gt;Kepentingan audit bagi perusahaan&lt;br /&gt;Untuk mengetahui prestasi karyawan.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui besarnya kompensasi karyawan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui kreativitas dan perilaku karyawan.&lt;br /&gt;Untuk menetapkan apakah karyawan perlu dimutasi (vertical-horizontal) dan atau diberhentikan.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui apakah karyawan itu dapat bekerja sama dengan karyawan lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepentingan audit bagi SDM&lt;br /&gt;Untuk memenuhi kepuasan ego manusia yang selalu ingin diperhatikan dan mendapat nilai/pujian dari hasil kerjanya.&lt;br /&gt;Karyawan ingin mangetahui apakah prestasi kerjanya lebih baik dari pada karyawan lainya.&lt;br /&gt;Untuk kepentingan jasa dan promosinya.&lt;br /&gt;Mengakrabkan hubungan para karyawan dengan pimpinannya&lt;br /&gt;Tujuan audit SDM&lt;br /&gt;Untuk mengetahui apakah pelaksanaan dan hasil kerja karyawan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui apakah semua karyawan dapat menyelesaikan job description-nya dengan baik dan tepat waktu.&lt;br /&gt;Sebagai pedoman menentukan besarnya balas jasa kepada setiap karyawan.&lt;br /&gt;Sebagai dasar pertimbangan pemberian pujian dan atau hukuman kepada setiap karyawan.&lt;br /&gt;Sebagai dasar pertimbangan pelaksanaan mutasi vertical (promosi atau demosi), horizontal, dan atau alih tugas bagi karyawan.&lt;br /&gt;Untuk memotivasi peningkatan semangat kerja, prestasi kerja, dan kedisiplian karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Inventarisasi Kemampuan Organisasi&lt;br /&gt;Sumber dasar dari data tenaga kerja adalah data Sumber Daya Manusia pada organisasi. Perencana dapat menggunakan inventarisasi ini untuk menentukan kebutuhan jangka panjang untuk perekrutan, penyeleksian dan pengembangan sumber daya manusia. Juga informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan kemampuan tambahan yang diperlukan tenaga kerja masa mendatang yang mungkin belum diperlukan pada saat ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komponen Inventarisasi Kemampuan Organisasi sering kali terdiri dari:&lt;br /&gt;a. Demografi tenaga kerja secara individu ( umur, masa kerja di organisasi, masa kerja pada jenis tugas yang sekarang).&lt;br /&gt;Kemajuan karier secara individu penanggung tugas, waktu yang diperlukan untuk setiap jenis tugas, promosi atau perbahan ke tugas lain, tingkat upah).&lt;br /&gt;Data kinerja secara individu ( penyerlesaian pekerjaan, perkembangan pada keahliannya)&lt;br /&gt;Ketiga informasi diatas dapat diperluas meliputi:&lt;br /&gt;Pendidikan dan pelatihan&lt;br /&gt;Mobilitas dan letak geografis yang diinginkan&lt;br /&gt;Bakat, kemampuan dan keinginan yang spesifik&lt;br /&gt;Bidang yang diminati dan tingkat promosi didalam perusahaan&lt;br /&gt;Tingkat kemampuan untuk promosi&lt;br /&gt;Pensiun yang diharapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang telah diperoleh dari hasil Audit SDM dan inventarisasi kemampuan organisasi SDM diatas lalu dikonversikan ke dalam:&lt;br /&gt;• Sistem Informasi SDM (SISDM)&lt;br /&gt;SISDM adalah sistem integrasi yang dirancang untuk menyediakan informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan SDM. &lt;br /&gt;1. Tujuan SISDM&lt;br /&gt;Meningkatkan efisiensi data tenaga kerja dimana SDM dikumpulkan&lt;br /&gt;Lebih Strategis dan berhubungan dengan perencanaan SDM.&lt;br /&gt;2. Kegunaan SISDM&lt;br /&gt;SISDM mempunyai banyak kegunaan dalam suatu organisasi. Yang paling dasar adalah otomatisasi dari pembayaran upah dan kegaiatan benefit. Dengan SISDM , pencatatan waktu tenaga kerja dimasukan kedalam system, dan dimodifikasi disesuaikan pada setiap individual. Kegunaan umum yang lain dari SISDM adalah kesetaraan kesempatan bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merancang SISDM yang efektif, para ahli menyarankan untuk menilainya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai data yang akan diperlukan seperti:&lt;br /&gt;1. Informasi apa yang tersedia, dan informasi apa yang dibutuhkan tentang orang-orang dalam organisasi?&lt;br /&gt;2. Untuk tujuan apa informasi tersebut akan diberikan?&lt;br /&gt;3. Pada format yang bagaimana seharusnya output untuk penyesuaian dengan data perusahaan lain?&lt;br /&gt;4. Siapa yang membutuhkan informasi&lt;br /&gt;5. Kapan dan seberapa seringnya informasi dibutuhkan?&lt;br /&gt;• Succesion Planning&lt;br /&gt;Merupakan proses HR planner dan operating managers gunakan untuk mengkonversi informasi mengenai karyawan-karyawan yang ada sekarang kedalam keputusan-keputusan menyangkut “internal job placements” dimasa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. ANALISIS LINGKUNGAN EKSTERNAL&lt;br /&gt;Analisis lingkungan merupakan proses penelitian terhadap lingkungan organisasi untuk menentukan kesempatan atau ancaman. Hasil analisis akan mempengaruhi rencana SDM karena setiap organisasi akan masuk pada pasar tenaga kerja yang sama yang memasok, juga perusahaan lain.&lt;br /&gt;Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pasokan tenaga kerja antara lain:&lt;br /&gt;Pengaruh pemerintah&lt;br /&gt;Kondisi perekonomian&lt;br /&gt;Masalah kependudukan dan persaingan&lt;br /&gt;komposisi tenaga kerja dan pola kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. SEBAB-SEBAB PERMINTAAN SDM&lt;br /&gt;1. Faktor internal sebagai sebab permintaan SDM&lt;br /&gt;Faktor internal adalah kondisi persiapan dan kesiapan SDM sebuah organisasi/perusahaan dalam melakukan operasional bisnis pada masa sekarang dan untuk mengantisipasi perkembangannya dimasa depan. Dengan kata lain faktor internal adalah alasan permintaan SDM, yang bersumber dari kekurangan SDM didalam organisasi/perusahaan yang melaksanakan bisnisnya, yang menyebabkan diperlukan penambahan jumlah SDM. Alasan ini terdiri dari:&lt;br /&gt;Faktor Rencana Strategik dan rencana operasional&lt;br /&gt;Faktor prediksi produk dan penjualan&lt;br /&gt;Faktor pembiayaan (cost) SDM&lt;br /&gt;Faktor pembukaan bisnis baru (pengembangan bisnis)&lt;br /&gt;Faktor desain Organisasi dan Desain Pekerjaan&lt;br /&gt;Faktor keterbukaan dan keikutsertaan manajer &lt;br /&gt;2. Faktor eksternal sebagai sebab permintaan SDM&lt;br /&gt;Faktor eksternal adalah kondisi lingkungan bisnis yang berada diluar kendali perusahaan yang berpengaruh pada rencana strategic dan rencana operasional, sehingga langsung atau tidak langsung berpengaruh pada perencanaan SDM. Faktor eksternal tersebut pada dasarnya dapat dikategorikan sebagai sebab atau alasan permintaan SDM dilingkungan sebuah organisasi/perusahaan. Sebab atau alasan terdiri dari:&lt;br /&gt;Faktor Ekonomi Nasional dan Internasional (Global)&lt;br /&gt;Faktor Sosial, Politik dan Hukum&lt;br /&gt;Faktor Teknologi&lt;br /&gt;Faktor Pasar Tenaga Kerja dan Pesaing&lt;br /&gt;3. Faktor Ketenagakerjaan&lt;br /&gt;Faktor ini adalah kondisi tenaga kerja (SDM) yang dimiliki perusahaan sekarang dan prediksinya dimasa depan yang berpengaruh pada permintaan tenaga kerja baru. Kondisi tersebut dapat diketahui dari hasil audit SDM dan Sistem Informasi SDM (SISDM) sebagai bagian dari Sistem Informasi manajemen (SIM) sebuah organisasi/perusahaan. Beberapa dari faktor ini adalah:&lt;br /&gt;a. Jumlah, waktu dan kualifikasi SDM yang pensiun, yang harus dimasukan dalam prediksi kebutuhan SDM sebagai pekerjaan/jabatan kosong yang harus dicari penggantinya.&lt;br /&gt;Prediksi jumlah dan kualifikasi SDM yang akan berhenti/keluar dan PHK sesuai dengan Kesepakatan Kerja Bersama(KKB) atau kontrak kerja, yang harud diprediksi calon penggantinya untuk mengisi kekosongan pada waktu yang tepat, baik yang bersumber internal maupun eksternal.&lt;br /&gt;Prediksi yang meninggal dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya dari seluruh penjelasan diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa PSDM sangat penting untuk dilakukan karena memungkinkan HRD menempatkan Staf yang tepat pada saat yang tepat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-7546254421813358950?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/7546254421813358950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=7546254421813358950&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/7546254421813358950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/7546254421813358950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/10/desain-pekerjaan-dan-informasi-analisis.html' title='DESAIN PEKERJAAN DAN INFORMASI ANALISIS JABATAN SERTA PERENCANAAN SDM'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-5212882131768769090</id><published>2009-10-06T03:27:00.000-07:00</published><updated>2009-10-06T03:29:22.921-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikopathologi'/><title type='text'>Gangguan Emosi</title><content type='html'>5. GANGGUAN KECEMASAN&lt;br /&gt;Kecemasan merupakan hal yang normal terjadi pada setiap individu, reaksi umum terhadap stress kadang dengan disertai kemunculan kecemasan. Namun kecemasan itu dikatakan menyimpang bila individu tidak dapat meredam (merepresikan) rasa cemas tersebut dalam situasi dimana kebanyakan orang mampu menanganinya tanpa adanya kesulitan yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan dapat muncul pada situasi tertentu seperti berbicara didepan umum, tekanan pekerjaan yang tinggi, menghadapi ujian. Situasi-situasi tersebut dapat memicu munculnya kecemasan bahkan rasa takut. Namun, gangguan kecemasan muncul bila rasa cemas tersebut terus berlangsung lama, terjadi perubahan perilaku, atau terjadinya perubahan metabolisme tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan kecemasan diperkirakan mengidap 1 dari 10 orang. Menurut data National Institute of Mental Health (2005) di Amerika Serikat terdapat 40 juta orang mengalami Gangguan kecemasan pada usia 18 tahun sampai pada usia lanjut. &lt;br /&gt;Ahli psikoanalisa beranggapan bahwa penyebab kecemasan neurotik dengan memasukan persepsi diri sendiri, dimana individu beranggapan bahwa dirinya dalam ketidakberdayaan, tidak mampu mengatasi masalah, rasa takut akan perpisahan, terabaikan dan sebagai bentuk penolakan dari orang yang dicintainya. Perasaan-perasaam tersebut terletak dalam pikiran bawah sadar yang tidak disadari oleh individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan pendapat psikoanalisa, ahli psikologi teori belajar beranggapan bahwa kecemasan lebih disebabkan peristiwa eksternal dibandingkan konflik internal dalam pribadi individu. Adanya pengkondisian yang siap (prepared conditioning) pada individu membuat individu semakin siap dalam menghadapi pelbagai situasi stressor dikemudian hari.&lt;br /&gt;http://eldido.blog.friendster.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala Umum Kecemasan&lt;br /&gt;Setiap orang mempunyai reaksi yang berbeda terhadap stres tergantung pada kondisi masing-masing individu, beberapa simtom yang muncul tidaklah sama. Kadang beberapa diantara simtom tersebut tidak berpengaruh berat pada beberapa individu, lainnya sangat mengganggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Berdebar diiringi dengan detak jantung yang cepat&lt;br /&gt;Kecemasan memicu otak untuk memproduksi adrenalin secara berlebihan pada pembuluh darah yang menyebabkan detak jantung semakin cepat dan memunculkan rasa berdebar. Namun dalam beberapa kasus yang ditemukan individu yang mengalami gangguan kecemasan kontinum detak jantung semakin lambat dibandingkan pada orang normal.&lt;br /&gt;2) Rasa sakit atau nyeri pada dada&lt;br /&gt;Kecemasan meningkatkan tekanan otot pada rongga dada. Beberapa individu dapat merasakan rasa sakit atau nyeri pada dada, kondisi ini sering diartikan sebagai tanda serangan jantung yang sebenarnya adalah bukan. Hal ini kadang menimbulkan rasa panik yang justru memperburuk kondisi sebelumnya.&lt;br /&gt;3) Rasa sesak napas&lt;br /&gt;Ketika rasa cemas muncul, syaraf-syaraf impuls bereaksi berlebihan yang menimbulkan sensasi dan sesak pernafasan, tarikan nafas menjadi pendek seperti kesulitan bernafas karena kehilangan udara.&lt;br /&gt;4) Berkeringat secara berlebihan&lt;br /&gt;Selama kecemasan muncul terjadi kenaikan suhu tubuh yang tinggi. Keringat yang muncul disebabkan otak mempersiapkan perencanaan fight or flight terhadap stressor&lt;br /&gt;5) Kehilangan gairah seksual atau penurunan minat terhadap aktivitas seksual&lt;br /&gt;6) Gangguan tidur &lt;br /&gt;7) Tubuh gemetar&lt;br /&gt;Gemetar adalah hal yang dapat dialami oleh orang-orang yang normal pada situasi yang menakutkan atau membuatnya gugup, akan tetapi pada individu yang mengalami gangguan kecemasan rasa takut dan gugup tersebut terekspresikan secara berlebihan, rasa gemetar pada kaki, atau lengan maupun pada bagian anggota tubuh yang lain.&lt;br /&gt;8) Tangan atau anggota tubuh menjadi dingin dan bekeringat&lt;br /&gt;9) Kecemasan depresi memunculkan ide dan keinginan untuk bunuh diri&lt;br /&gt;10) Gangguan kesehatan seperti sering merasakan sakit kepala (migrain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1 Macam-macam gangguan kecemaan &lt;br /&gt;5.1.1 Gangguan Panik&lt;br /&gt;Tanda-tanda: sekonyong-sekonyong\sesak nafas, detak jantung keras, sakit di dada, merasa tercekik, pusing, berpeluh, bergetar, ketakutan yang sangat akan teror, ketakutan akan ada hukuman.&lt;br /&gt;Depersonalisasi dan derealisasi: perasaan ada di luar badan, merasa dunia tidak nyata, ketakutan kehilangan kontrol, ketakutan menjadi gila, takut akan mati.&lt;br /&gt;Terjadinya: sering, sekali seminggu atau lebih sering. Beberapa menit. Dihubungkan dengan situasi khusus, misalnya mengendarai mobil.&lt;br /&gt;Laki-laki 0,7 %, wanita 1%&lt;br /&gt;4 kali serangan panik dalam 4 minggu,&lt;br /&gt;Satu serangan diikuti ketakutan terjadinya serangan lagi paling sedikit 1 bulan.&lt;br /&gt;Serangan panik dapat diikuti agorafobia,&lt;br /&gt;80% penderita panik juga menderita gangguan kccemasan yang lain.&lt;br /&gt;Sering juga ada depresi Terdapat dalam keluarga.Sering penyebabnya fisiologis, misalnya gangguan jantung.Penderita panik sering merasa bahwa penyakitnya parah → menyebabkan panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.2. Fobia&lt;br /&gt;Fobia adalah ketakutan yang berlebihan yang disebabkan oleh benda, binatang ataupun peristiwa tertentu. sifatnya biasanya tidak rasional, dan timbul akibat peristiwa traumatik yang pernah dialami individu. Fobia juga merupakan penolakan berdasar ketakutan terhadap benda atau situasi yang dihadapi, yang sebetulnya tidak berbahaya dan penderita mengakui bahwa ketakutan itu tidak ada dasarnya.&lt;br /&gt;Fobia simpel: sumber binatang, ketinggian, tempat tertutup, darah. Yang menderita banyak wanita, dimulai semenjak kecil.&lt;br /&gt;Agorafobia: kata yunani, agpra = tempat berkumpul, pasar. Sekelompok ketakutan yang berpusat pada tempat-tempat publik: takut berbelanja, takut kerumunan, takut bepergian.&lt;br /&gt;Banyak yang minta pertolongan.&lt;br /&gt;Banyak wanita yang menderita ini dimulai pada masa remaja dan permulaan dewasa.&lt;br /&gt;Simtom: ketegangan, pusing, kompulsi, merenung, depresi, ketakutan menjadi gila.&lt;br /&gt;90% dari suatu sampel: takut tempat tinggi, tempat tertutup, elevator.&lt;br /&gt;Fobia dibedakan menjadi dua jenis,yaitu:&lt;br /&gt;a. Fobia Spesifik&lt;br /&gt;Ketakutan berlebih yang disebabkan oleh benda, atau peristiwa traumatik tertentu, misalnya: ketakutan terhadap kucing (ailurfobia), ketakutan terhadap ketinggian (acrofobia), ketakutan terhadap tempat tertutup (agorafobia), fobia terhadap kancing baju, dsb.&lt;br /&gt;b.FobiaSosial&lt;br /&gt;Ketakutan berlebih pada kerumunan atau tempat umum. ketakutan ini disebabkan akibat adanya pengalaman yang traumatik bagi individu pada saat ada dalam kerumunan atau tempat umum. misalnya dipermalukan didepan umum, ataupun suatu kejadian yang mengancam dirinya pada saat diluar rumah.&lt;br /&gt;Penyebab:&lt;br /&gt;Teori Psikoanalitik: pertahanan melawan kecemasan hasil dorongan id yang direpres. Kecemasan: pindahan impuls id yang ditakuti ke objek/situasi, yang mempunyai hubungan simbolik dengan hal tersebut, Menghindari konflik yang direpres. Cara ego untuk mcnghadapi masalah yang sesungguhnya konflik pada masa kaaak-kanak yang direpres. Teori Behavioral: hasil belajar kondisioning kfasik, kondisioning operan, modeling.&lt;br /&gt;5.1.3 GAD (Generalized Anxiety Desease: Gangguan Kecemasan Tergeneralisasikan)&lt;br /&gt;Tanda-tanda; kecemasan kronis terus menerus rnencakup situasi hidup (cemas akan terjadi kecelakaan, kesulitan finansial). Ada keluhan somatik: berpeluh, merasa panas, jantung berdetak keras, perut tidak enak, diare, sering buang air kecil, dingin, tangan basah, mulut kering, tenggorokan terasa tersumbat, sesak nafas, hiperaktivitas sistem saraf otonomik. Merasa ada gangguan otot: ketegangan atau rasa sakit pada otot terutama pada leher dan bahu, pelupuk mata berkedip terus, bcrgetar, mudah lelah, tidak mampu untuk santai, mudah terkejut, gelisah, sering berkeluh. Cemas akan terjadinya bahaya, cemas kehilangan kontrol, cemas akan mendapatkan.serangan jantung, cemas akan mati. Sering penderita tidak sabar, mudah marah, tidak dapat tidur, tidak dapat konsentrasi.&lt;br /&gt;Penyebab:&lt;br /&gt;Psikoanalitik: konflik antara impuls id dan ego yang tidak disadari. Impuls itu seksual atau agresif → ingin keluar, dihalangi → tidak disadari → cemas.&lt;br /&gt;Teori belajar: kondisioning klasik dari rangsang luar.&lt;br /&gt;Kognitif behavioral: memfokus kontrol dan ketidakberdayaan.&lt;br /&gt;Terapi: psikomatis sama dengan fobia.&lt;br /&gt;5.2 Treatment keperilakuan untuk gangguan kecemasan&lt;br /&gt;2)Psikoterapi&lt;br /&gt;Dalam psikoterapi, psikolog, konselor dan ahli terapis berusaha menyusun terapi psikologis yang beragam untuk pengobatan yang disesuaikan dengan kepribadian klien. Penerapan metode dapat secara personal maupun group (perkelompok). Psikiater berusaha mengkombinasi pengobatan medis dan psikoterapi secara bersamaan. Perlu untuk diketahui bahwa tidak ada pengobatan jenis gangguan kecemasan ini hanya menggunakan satu cara saja, dibutuhkan lebih kombinasi untuk menyembuhkan gangguan kompleks ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi yang paling sering digunakan dalam perawatan kecemasan adalah cognitive-behavioural therapy (CBT). Pada CBT diberikan teknik pelatihan pernafasan atau meditasi ketika kecemasan muncul, teknik ini diberikan untuk penderita kecemasan yang disertai dengan serangan panik.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Support group juga diberikan dalam CBT, individu ditempatkan dalam group support yang mendukung proses treatment. Group support dapat berupa sekelompok orang yang memang telah dipersiapkan oleh konselor/terapis untuk mendukung proses terapi atau keluarga juga dapat diambil sebagai group support ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3 Tritment kognitif – keperilakuan untuk gangguan kecemasan&lt;br /&gt;Terapi Kognitif Behavioral (CBT)&lt;br /&gt;Terapi ini memadukan tehnik-tehnik behavioral seperti pemaparan dan tehnik-tehnik kognitif seperti restrukturisasi kognitif. Beberapa gangguan kecemasan yang mungkin dapat dikaji dengan penggunaan CBT antara lain : fobia sosial, gangguan stres pasca trauma, gangguan kecemasan menyeluruh, gangguan obsesif kompulsif dan gangguan panik.&lt;br /&gt;Pada fobia sosial, terapis membantu membimbing mereka selama percobaan pada pemaparan dan secara bertahap menarik dukungan langsung sehingga klien mampu menghadapi sendiri situasi tersebut&lt;br /&gt;5.4 Gangguan stress paska trauma (PTSD)&lt;br /&gt;Post Traumatik-Stress Disorder (PTSD/ Gangguan Stress Pasca Trauma)&lt;br /&gt;PTSD merupakan kecemasan akibat peristiwa traumatik yang biasanya dialami oleh veteran perang atau orang-orang yang mengalami bencana alam . PTSD biasnya muncul beberapa tahun setelah kejadian dan biasanya diawali dengan ASD, jika lebih dari 6 bulan maka orang tersebut dapat mengembangkan PTSD. Simtom dan diagnosis:&lt;br /&gt;Akibat kejadian traumatik atau bencana yang tingkatnya sangat buruk: perkosaan, peperangan, bencana alam, ancaman yang serius terhadap orang yang sangat dicintai, melihat orang lain disakiti atau dibunuh. Akan berakibat tidak dapat konsentrasi, mengingat, tidak dapat santai, impulsif, mudah terkejut, gangguan tidur, cemas, depresi, mati rasa; hal-hal yang menyenangkan tidak menarik lagi, ada perasaan asing terhadap orang-lain dan yang lampau. Kalau trauma dialami bersama orang lain, dan yang lain mati: ada rasa bersalah, sering terjadi mimpi buruk atau gangguan tidur.&lt;br /&gt;Gangguan pasca trauma dapat akut, kronis atau lambat, trauma akibat orang, perang, serangan fisik atau penganiayaan berlangsung lebih lama daripada trauma setelah bencana alam. Simtom memburuk jika dihadapkan kepada situasi yang mirip. Dapat terjadi pada anak dan orang dewasa. Simtom pada anak: mimpi tentang monster atau perubahan tingkah laku: ramai → pendiam .http://www.pikirdong.org/psikologi/psi18axdi.php&lt;br /&gt;Gangguan Stres Pasca Trauma merupakan gangguan mental pada seseorang yang&lt;br /&gt;muncul setelah mengalami suatu pengalaman traumatik dalam kehidupan atau&lt;br /&gt;suatu peristiwa yang mengancam keselamatan jiwanya. Sebagai contoh peristiwa&lt;br /&gt;perang, perkosaan atau penyerangan secara seksual, serangan yang melukai&lt;br /&gt;tubuh, penyiksaan, penganiayaan anak, peristiwa bencana alam seperti : gempa&lt;br /&gt;bumi, tanah longsor, banjir bandang, kecelakaan lalu lintas atau musibah&lt;br /&gt;pesawat jatuh. Orang yang mengalami sebagai saksi hidup kemungkinan akan&lt;br /&gt;mengalami gangguan stres. (Bufka &amp; Barlow, 2006:1)&lt;br /&gt;http://www.mail-archive.com/indofirstaid@yahoogroups.com/msg02018.html&lt;br /&gt;Untuk sebagian besar kita, hidup di Indonesia ternyata sama sekali tidak mudah. Peristiwa tidak mengenakkan bertubi-tubi datang, silih berganti mengenai kelompok berbeda-beda: dari peristiwa Mei 1998, pencidukan dan penculikan, penghilangan dan pembunuhan, teror bom di sana-sini sejak beberapa tahun belakangan, konflik berkekerasan di banyak daerah, perampokan di taksi, meledaknya bom Bali, terbakar habisnya pasar Tanah Abang sampai perang di Aceh. Kejadian mengerikan terakhir ini adalah peristiwa bom JW Marriott dan terbakarnya daerah pemukiman Karet Tengsin. Kita belum menyebut peristiwa sehari-hari seperti kecelakaan, tawuran, pertikaian berbuntut pembunuhan, juga perkosaan dan kekerasan dalam rumah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagaimana manusia berespon terhadap peristiwa-peristiwa sulit? Cukup sering kita mendengar orang mengatakan "dia stres", sambil meletakkan jari miring di dahi. Artinya: "orang itu sudah tidak beres, miring". Maksudnya mungkin, "tidak waras". Sering pula kita mendengar orang mengatakan bahwa ia mengalami trauma. Apa sebenarnya makna dari istilah-istilah itu? Apa bedanya stres dan trauma? Apakah manusia dapat bangkit bila dan pulih kembali setelah mengalami peristiwa sangat mengagetkan di luar batas kewajaran?&lt;br /&gt; http://www.pulih.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAN STRES DAN STRES PASCA TRAUMA&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;http://www.pulih.or.id/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.5 Gangguan obseif –kompulsif (OC)&lt;br /&gt;Seperti contoh Kasus dibawah ini:&lt;br /&gt;X adalah seorang remaja madya yang saat ini sedang kuliah disuatu universitas. sudah beberapa hari ini ia mempunyai kebiasaan aneh yang tidak bisa ia hentikan. kebiasannya adalah mencuci tangannya lebih dari 10x dalam satu hari. teman-temannya juga heran mengapa ia berperilaku seperti itu. ketika ia berkonsultasi kepada psikolog sekolahnya ia baru tahu apa yang terjadi padanya. psikolog menanyainya apa yang menyebabkannya seperti itu, lalu X mulai menceritakan kejadian apa yang sebenarnya ia lakukan.X adalah kakak dari A. saat kecil keduanya pernah bertengkar, X tanpa sengaja mengambil gunting dan menorehkannya ke lengan adiknya,A. akibatnya lengan A terluka dan menyebabkannya cacat. peristiwa ini membuatnya bersalah dan ia terus menerus memikirkan kesalahannya ini (obsesif), dan tiap kali ia mengingatnya ia akan mencuci tangannya berulang-ulang. (kompulsif).&lt;br /&gt;Berdasarkan cerita diatas, kita bisa melihat bahwa obsesif adalah pemikiran yang berulang dan terus-menerus. Sedangkan kompulsif adalah pelaksanaan dari pemikirannya tersebut. Perilaku ini merupakan ritual pembebasan dari dosa pada orang tersebut. dengan mencuci tangan ia berharap bisa membersihkan dari dosa yang telah ia perbuat. obsesif kompulsif ini biasanya cenderung pada perilaku bersih-bersih. Perilaku seperti ini sebenarnya banyak terjadi pada lingkungan kita tetapi, kita kadang malah menganggap perilaku ini wajar.&lt;br /&gt;1-3% dari populasi.&lt;br /&gt;Dewasa muda, mengikuti kejadian yang penuh stres: kehamilan, kelahiran, konflik keluarga, kesulitan dalam pekerjaan, keadaan depresi. Penderita obsesif-kompulsif sering menderita depresi..&lt;br /&gt;Obsesi: pikiran yang berkali-kali datang yang mengganggu - tampak tidak rasional - tidak dapat dikontrol → mengganggu hidup.&lt;br /&gt;dapat berbentuk keragu-raguan yang ekstrim, penangguhan tidak dapat membuat keputusan.&lt;br /&gt;pasien tidak dapat mengambil kesimpulan.&lt;br /&gt;Kompulsi: impuls yang tidak dapat ditolak mengulangi tingkah laku ritualistik berkali-kali. Kompulsi sering berhubungan dengan kebersihan dan keteraturan. Penderita merasa apa yang dilakukannya asing.&lt;br /&gt;Ada 5 bentuk obsesi:&lt;br /&gt;1.Kebimbangan yang obsesif: pikiran bahwa suatu tugas yang telah selesai tidak secara baik (75% dari pasien).&lt;br /&gt;2.Pikiran yang obsesif: pikiran berantai yang tidak ada akhirnya. Biasanya fokus pada kejadian yang akan datang (34% dari pasien).&lt;br /&gt;3.Impuls yang obsesif; dorongan untuk melakukan suatu perbuatan (17%).&lt;br /&gt;4.Ketakutan yang obsesi kecemasan untuk kehilangan kontrol dan melakukan sesuatu yang memalukan (26%)&lt;br /&gt;5.Bayangan obsesif: bayangan terus menerus mengenai sesuatu yang dilihat (7%).&lt;br /&gt;Kompulsi (2 macam).&lt;br /&gt;1.Dorongan kompulsif yang memaksa suatu perbuatan: melihat pintu berkali-kali (61%).&lt;br /&gt;2.Kompulsi mengontrol: mengontrol dorongan kompulsi (tidak menuruti dorongan tersebut): mengontrol dorongan inses dengan berkali-kali menghitung sampai 10.&lt;br /&gt;Rochman dan Hodgson; dua macam kompulsi: membersihkan dan mengecek.&lt;br /&gt;Penyebab:&lt;br /&gt;Psikoanalitik: fiksasi masa anal.&lt;br /&gt;Adler: anak terhalang mengembangkan kompetensinya → rendah diri → secara tidak sadar mengembangkan ritual yang kompulsif untuk membuat daerah yang dapat dikontrol dan merasa mampu → membuat orang tersebut merasa menguasai cara menguasai sesuatu.&lt;br /&gt;Teori Belajar:&lt;br /&gt;Kondisioning operan. Tingkah laku yang dipelajari yang dikuatkan akibat-akibatnya. Terapi sama dengan fobia dan GAD.&lt;br /&gt;http://eldido.blog.friendster.com/2008/11/170/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.6 Tritmen PTSD dan OC &lt;br /&gt;1) Terapi obat-obatan&lt;br /&gt;Neurotransmiter utama terhadap gangguan kecemasan dengan melihat hasil laboratorium dengan mencheck peningkatan norepinefrin, serotonin dan gamma aminobutryc acid (GABA). Dengan positron emission tomography (PET) juga ditemukan kelainan (disregulasi) pembuluh darah serebral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya untuk kecemasan dokter menganjurkan penggunaan obat psikoleptik, yaitu benzodiazepines dalam dosis rendah. Jenis obat-obat ini adalah Diazepam, Klordiazepoksid, Lorazepam, Klobazam, Bromazepam, Oksazolam, Klorazepat, Alprazolam atau Prazepam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan obat anti kecemasan haruslah melalui kontrol dari dokter secara ketat, penggunaan obat-obat antiansietas dapat mengakibatkan beberapa efek samping. Pasien dengan riwayat penyakit hati kronik, ginjal dan paru haruslah diperhatikan pemakaian obat-obatan ini. Pada anak dan orangtua dapat juga memberikan reaksi seperti yang tidak diharapkan (paradoxes reaction) seperti meningkatkan kegelisahan, ketegangan otot, disinhibisi atau gangguan tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa efek samping penggunaan obat antiansietas&lt;br /&gt;- Sedative (rasa mengantuk, kewaspadaan menurun, kerja psikomotorik menurun, dan kemampuan kognitif melemah)&lt;br /&gt;- Rasa lemas dan cepat lelah&lt;br /&gt;- Adiktif walaupun sifatnya lebih ringan dari narkotika. Ketergantungan obat biasanya terjadi pada individu peminum alkohol, pengguna narkoba (maksimum pemberian obat selama 3 bulan)&lt;br /&gt;- Penghentian obat secara mendadak memberikan gejala putus obat (rebound phenomenon) seperti kegelisahan, keringat dingin, bingung, tremor, palpitasi atau insomnia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;Kecemasan merupakan suatu sensasi aphrehensif atau takut yang menyeluruh. Dan hal ini merupakan suatu kewajaran atau normal saja, akan tetapi bila hal ini terlalu berlebihan maka dapat menjadi suatu yang abnormal. Sedangkan gangguan kecemasan yang menyeluruh adalah suatu tipe gangguan kecemasan yang melibatkan kecemasan persisten yang sepertinya “mengapung bebas” (Free floating) atau tidak terikat pada suatu yang spesifik.&lt;br /&gt;Ciri penderita gangguan kecemasan antara lain:&lt;br /&gt;Ciri Fisik :&lt;br /&gt;1. Gelisah&lt;br /&gt;2. Berkeringat&lt;br /&gt;3. Jantung berdegup kencang&lt;br /&gt;4. Ada sensasi tali yang&lt;br /&gt;mengikat erat pada kepala&lt;br /&gt;5. Gemetar&lt;br /&gt;6. Sering buang air kecil&lt;br /&gt;Ciri Perilaku :&lt;br /&gt;1. Perilaku menghindar&lt;br /&gt;2. Perilaku dependen&lt;br /&gt;Ciri Kognitif&lt;br /&gt;1. Merasa tidak bisa&lt;br /&gt;mengendalikan semua&lt;br /&gt;2. Merasa ingin melarikan&lt;br /&gt;diri dari tempat tersebut&lt;br /&gt;3. Serasa ingin mati&lt;br /&gt;Dalam perspektif psikodinamika, memandang kecemasan sebagai suatu usaha ego untuk mengendalikan munculnya impuls-impuls yang mengancam kesadaran. Dan perasaan-perasaan kecemasan adalah tanda-tanda peringatan bahwa impuls-impuls yang mengancam mendekat ke kesadaran. Ego menggerakkan mekanisme pertahanan diri untuk mengalihkan impuls-impuls tersebut yang kemudian mengarah menjadi gangguan-gangguan kecemasan lainnya. Namun para teoritikus belajar menjelaskan gangguan-ganguan kecemasan melalui pembelajaran observasional dan conditioning. Model dua faktor dari Mowrer memasukkan clasical dan operant conditioning dalam penjelasan tentang fobia. Meskipun demikian, fobia tampaknya dipengaruhi juga oleh faktor kognitif, seperti harapan-harapan self-efficacy. Prinsip-prinsip penguatan mungkin dapat membantu menjelasakan pola-pola tingkah laku obsesif-kompulsif. Kemungkinan ada predisposisi genetis untuk fobia tertentu yamng mempunyai nilai-nilai untuk kelangsungan hidup (survival) bagi nenek moyang kita terdahulu.&lt;br /&gt;Ada beberapa faktor kognitif yang menyebabkan gangguan-gangguan kecemasan, seperti prediksi berlebih terhadap ketakutan, keyakinan yang self-defeating dan irasional, sensivitas berlebih mengenai sinyal-sinyal dan tanda-tanda ancaman, harapan-harapan self-efficacy yang terlalu rendah dan salah mengartikan sinyal-sinyal tubuh.&lt;br /&gt;Untuk meminimalisir terjadinya kecemasan pada diri seseorang terdapat beberapa terapi. Psikoanalisis radisional membantu orang untuk mengatasi konflik-konflik tak sadar yang diyakini mendasari gangguan-gangguan kecemasan. Pendekatan-pendekatan psiko- dinamika yang modern lebih berfokus pada gangguan relasi yang ada dalam kehidupan klien saat ini dan mendorong klien untuk mengembangkan pola tingkah laku yang lebih adaptif. Terapi humanistik lebih berfokus pada membantu klien mengidentifikasi dan menerima dirinya yang sejati dan bukan bereaksi pada kecemasan setiap kali perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhannya yang sejati mulai muncul ke permukaan. Sedangkan untuk terapi obat, berfokus pada penggunaan obat benzodiazepin dan obat-obat antidepresen (yang mempunyai efek lebih daripada hanya sebagai antidepresan).&lt;br /&gt;Pendekatan-pendekatan dengan dasar belajar dalam menangani kecemasan melibatkan berbagai macam teknik behavioral dan kognitif-behavioral, termasuk terapi pemaparan, restrukturisasi kognitif, pemaparan dan pencegahan respon, serta pelatihan keterampilan relaksasi. Pendekatan-pendekatan kognitif seperti terapi tingkah laku rasional-emotif dan terapi kognitif, membantu orang untuk mengidentifikasi dan membetulkan pola-pola pikir yang salah yang melandasi reaksi-reaksi kecemasan. Untuk terapi kognitif-behavioral, menangani gangguan panik, melibatkan self-monitoring, pemaparan, dan pengembangan respons-respons adaptif terhadap sinyal-sinyal pembangkit kecemasan..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-5212882131768769090?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/5212882131768769090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=5212882131768769090&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/5212882131768769090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/5212882131768769090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/10/gangguan-emosi.html' title='Gangguan Emosi'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-5922759321184371397</id><published>2009-10-01T02:18:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T02:24:21.923-07:00</updated><title type='text'>Instrumentasi BK</title><content type='html'>Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji Syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah mencurahkan  dan melimpahkan kekuatan lahir dan bathin kapada kita semua, sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan kecil ini. Sholawat serta salam tercurah semoga Allah SWT limpahkan kepada junjungan nabi besar kita Muhammad SAW, yang senantiasa kita jadikan contoh dan suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian sering sekali peneliti berhubungan dengan data, baik itu penelitian yang berhubungan dengan lapangan ataupun penelitian lainnya. Berikut adalah beberapa teknik dalam pengumpulan data untuk penelitian kelebihan dan kekurangan dalam pemakaiannya juga.&lt;br /&gt;Dalam makalah ini penulis akan memaparkan tentang teknik pengumpulan data yang sangat di butuhkan dalam suatu penelitian.&lt;br /&gt;1.	Teknik Wawancara&lt;br /&gt;2.	Teknik Observasi (Observation)&lt;br /&gt;3.	Teknik Daftar Pertanyaan (Questioner)&lt;br /&gt;Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam metoda ilmiah, karena pada umumnya data yang dikumpulkn digunakan, kecuali untuk peneliatian eksploratif.&lt;br /&gt;Perlu di tekankan bahwa cara pengumpulan data dapat dikerjakan berdasarkan pengalaman. Memang dapat dipelajari metode-metode&lt;br /&gt;Pengumpulan data yang lumrah digunakan, tetapi bagaimana cara mengumpulkan data di lapangan, dan bagaimana menggunakan tekhnik tersebut di lapangan atau di labolatorium, berkehendak akan pengalaman yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandar lampung 29 september 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Observasi&lt;br /&gt;Observasi merupakan teknik paling mendasar dalam teknik penilaian non testing. Observasi akan menghasilkan data yang merangsang dilakukanya hipotesis tentative tentang individual dan meyakinkan hipotesis yang lain.&lt;br /&gt;Observasi yang efektif melalui pengamatan secara jelas, sadar dan selengkap mungkin tentang perilaku individu sebenarnya dlam keadaan tertentu.&lt;br /&gt;Pentingnya Observasi adalah kemampuan dalam menentukan factor-faktor awal mula perilaku dan kemampuan untuk melukiskan secara akurat reaksi individu yang diamati dalam kondisi tertentu. Observasi mungkin perlu dilakukan dalam jangka waktu tertentu untuk menentukan sejauh mana beberapa factor yang kecil sesuai dengan desain yang lebih besar. &lt;br /&gt;Pengumpulan data melalui observasi langsungatau dengan pengamatan langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut.&lt;br /&gt;Pemngamatan baru tergolong sebagai teknik mengumpulkan data, jika pengamatan tersebut memiliki criteria sebagai berikut: &lt;br /&gt;a.	Pengamatan di gunakan untuk penelitian dan telah direncanakan secara sistematik;&lt;br /&gt;b.	Pengamatan harus berkaitan dengan tujuan penelitian yang telah direncanakan;&lt;br /&gt;c.	Pengamatan tersebut dicatat secara sistematis dan dihubungkan secara proporsiumum dan bukan dipaparkan sebagai suatu set yang menarik perhatian saja;&lt;br /&gt;d.	Pengamatan dapat dicek dan di kontrol atas validitas dan reabilitasnya;&lt;br /&gt;	KESUKARAN-KESUKARAN DALAM OBSERVASI   &lt;br /&gt;Observasi yang akurat memerlukan kemampuan untuk mengevaluasi secara obyektif apa yang dianggap focus dalam memerlukan kesadaran tentang perasaan dan kepercayan seseorang. Jika pengamat kurang memilikiobyektivitas dalam melakukan perilaku seperti apa adanya, maka observasi yang dilakukan akan sia-sia.&lt;br /&gt;Untuk memastikan bahwa perilaku yang teramati adalah perwakilan sari individu tersebut, maka perlu dilakukan sejumlah observasi dalam berbagai situasi dan waktu yang berbeda. Observasi tidak hanya mengumpulkan lebih banyak data tetapi juga menguraikan keadaan siswa dengan lebih akurat representatifdan bermakna.&lt;br /&gt;Salah penafsiran obyek yang diobservasi dan ketidak akuratan dalam pelaporan merupakan masalah lain yang dapat meusak observasi. Serangkaian factor mental, minat atau harapan sering mengganggu persepsi terhadap perilaku atau situai tertentu, karena setiap orang cenderungmenilai lingkungan luarnya seperti yang pernah dialami sendiri. Factor pengalaman dalam observasi bisa mengakibatkan pengamat berlaku kurang obyektif, kecuali bila penekanan mentalnya sangat besar.&lt;br /&gt;	KEUNTUNGAN-KEUNTUNGAN DALAM OBSERVASI   &lt;br /&gt;Dengan cara pengamatan langsung, terdapat kemungkinan untuk mencatat hal-hal, perilaku, pertumbuhan, dan sebagainya, sewaktu kejadian tersebut berlaku atau sewaktu perilaku tersebut terjadi, selai itu juga dapat memperoleh data dari subyek baik yang tidak dapat berkomunikassi secara verbal atau yang tak mau berkomunikasi secara verbal.&lt;br /&gt;	MENINGKATKAN MUTU OBSERVASI&lt;br /&gt;Yang dapat membantu mengontrol teknik-teknik pengamat adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.	Sebelum dilakukan observasi, tentukan aapa yang harus di observasi. Tujuan observasi harus di ketahui terlebih dahulu&lt;br /&gt;2.	Amatilah hanya satu orang. Para pengamat yang terampil dapat mengamati dengan tingkat keakuratan dua individu atau lebihpada saat yang sama.&lt;br /&gt;3.	Amatilah perilaku yang signifikan,&lt;br /&gt;4.	lakukan observasi secara merata&lt;br /&gt;5.	Belajarlah mengobservasi tanpa melakukan pencatatan selama masa observasi.&lt;br /&gt;6.	Jika mungkin catat dan rangkumlah hasil observasi setelah begitu selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Wawancara&lt;br /&gt;Wawancara adalah Proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil menatap muka antara sipenanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan Iterwiew guide (panduan wawancara)&lt;br /&gt;WAWANCARA SEBAGAI PROSES INTERAKSI &lt;br /&gt;Interwiew merupakan proses interaksi antara pewawancara dan responden. Walaupun bagi pewawancara, proses tersebut adalahsatu bagian dari langkah-langkah dalam penelitian , tetapi belum tentu bagi responden, wawancara adalah bagian dari penelitian. Suatu elemen yang paling penting dari proses interaksi yang terjadi adalah wawasan dan pengertian (insight). &lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi dalam wawancara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- &lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SASARAN ISI WAWANCARA&lt;br /&gt;Sasaran dari isi pertanyaan atau keterangan yang ingin diperoleh berjenis-jenis banyak dan sifatnya, dan sukar dikelompokkan dalam jenis-jenis umum. Tetapi Selltiz (1964) mencoba mengelompokkan isi dari keterangan yang ingin diperoleh dengan cara wawancara sebagai berikut: &lt;br /&gt;1.	sasaran isi untuk memastikan suatu fakta&lt;br /&gt;2.	isi yang mempunyai sasaran untuk memastikan perasaan&lt;br /&gt;3.	isi yang mempunyai sasaran untuk menemukan suatu standar kegiatan&lt;br /&gt;4.	isi yang mempunyai sasaran untuk mengetahui perilaku sekarang atau perilaku terdahulu&lt;br /&gt;5.	isi yang mempunyai sasaran untuk memastikan kepercayaan tentang keadaan fakta&lt;br /&gt;6.	isi yang mempunyai sasaran mengetahui alasan-alasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Angket&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat lain untuk mengumpulkan data adalah daftar pertanyaan, yang sering disebutkan secara umum dengan nama kuesioner. Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner, atau daftar pertanyaan tersebut cukup terperinci dan lengkap. Ini membedakan daftar pertanyaan dengan interwiew guide. Sehubung dengan ini sering dibedakan antara kuesioner dan schedule. Jika yang menuliskan isian kedalam kuesioner, adalah responden, maka daftar pertanyaan tersebut dinamakan kuesioner, sedangkan jika yang menulis isinya adalah pencatat yang membawakan daftar isian dalam suatu tatap muka, maka daftar pertanyaan dinamakan sebagai schedule. Pencatat yang mengadakan wawancara sesuai dengan pertanyaan dinamakan enumerator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angket juga dapat digunakan sebagai alat Bantu dalam rangka penilaian hasil belajar. Berbeda dengan wawancara dimana penilai (evaluator) berhadapan secara langsung (face to face) dengan peserta didik atau pihak lainnya, maka dengan menggunakan angket, pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil belajar jauh lebih prakti, menghemat waktu dan tenaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISI DARI KUESIONER/SCHEDULE&lt;br /&gt;kuesioner atau schedule harus mempunyai center perhatian, yaitu masalah yang ingin dipecahkan. Tiap pertanyaan harus merupakan bagian dari hipotesis yang ingin diuji. Dalam memperoleh keterangan yang berkisar pada masalah yang ingin dipecahkan itu, maka secara umum isi dari kuesioner atau schedule dapat berupa:&lt;br /&gt;1.	Pertanyaan tentang fakta;&lt;br /&gt;2.	Pertanyaan tentang pendapan (opinion)&lt;br /&gt;3.	Pertanyaan tentang persepsi diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumpulan tidak lain dari suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam metoda ilmiah, karena pada umumnya data yang dikumpulkan digunakan, kecuali untuk penelitian eksploratif, untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang dikumpulkan harus cukup valid untuk digunakan. Validitasi dat dapat ditigkatkan jika alat pengukur sertakualitas dari pengambil datanya sendiri cukup valid. Alam penelitian bidang tertentu, seperti pada penelitian beberapa masalah psikologis, si pengambil data peneliti itu sendiri yang harus cukup terampil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Selalu ada hubungan antara metode mengumpulkan data dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan. Banyak masalah yang dirumuskan tidak akan bisa terpecahkan karena metode untuk memperoleh data yang digunakan tidak memungkinkan, ataupun metode yang tidak menghasilkan data seperti yang diinginkan. Jika hal demikian terjadi, maka tidak ada lain jalan bagi sipeneliti kecuali menukar masalah yang ingin dipecahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Sherter Bruce dan C.Stone Shelly. 1981. Fundamentals of Guidance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudjiono Anas. 1995. Pengantar Evaluasi Belajar. Yogyakarta: Rajawali Pres&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nazir. Moh. 1983. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumpulan tidak lain dari suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam metoda ilmiah, karena pada umumnya data yang dikumpulkan digunakan, kecuali untuk penelitian eksploratif, untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang dikumpulkan harus cukup valid untuk digunakan. Validitasi dat dapat ditigkatkan jika alat pengukur sertakualitas dari pengambil datanya sendiri cukup valid. Alam penelitian bidang tertentu, seperti pada penelitian beberapa masalah psikologis, si pengambil data peneliti itu sendiri yang harus cukup terampil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Selalu ada hubungan antara metode mengumpulkan data dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan. Banyak masalah yang dirumuskan tidak akan bisa terpecahkan karena metode untuk memperoleh data yang digunakan tidak memungkinkan, ataupun metode yang tidak menghasilkan data seperti yang diinginkan. Jika hal demikian terjadi, maka tidak ada lain jalan bagi sipeneliti kecuali menukar masalah yang ingin dipecahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Sherter Bruce dan C.Stone Shelly. 1981. Fundamentals of Guidance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudjiono Anas. 1995. Pengantar Evaluasi Belajar. Yogyakarta: Rajawali Pres&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nazir. Moh. 1983. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-5922759321184371397?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/5922759321184371397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=5922759321184371397&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/5922759321184371397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/5922759321184371397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/10/instrumentasi-bk.html' title='Instrumentasi BK'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-1558606777032191532</id><published>2009-03-16T18:57:00.000-07:00</published><updated>2009-03-16T19:15:22.787-07:00</updated><title type='text'>peran orang tua dan pendidikan dalam perkembangan emosi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;REVIEW &lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;PERAN ORANG TUA DAN PENDIDIKAN DALAM PERKEMBANGAN EMOSI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;(PERKEMBANGAN EMOSI DAN KREATIVITAS)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;Oleh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;EKA LISDIANA &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;0713052005&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;JURUSAN ILMU PENDIDIKAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;PROGRAM STUDi BIMBINGAN DAN KONSELING&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="text-transform: uppercase;"&gt;FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;UNIVERSITAS LAMPUNG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;2009&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Peran Orangtua dan pendidikan dalam mengembangkan Emosi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: -0.85pt; text-indent: 15.05pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Emosi dapat dikembangkan oleh keluarga, sekolah dan lingkungan. Untuk mengembangkan emosi agar berdampak positif maka perlu dilakukan upaya proses belajar yang salah satunya dengan menggunakan metode atau kegiatan bermain. Melalui bermain &lt;/span&gt;anak dapat menumpahkan seluruh perasaannya, seperti: marah, takut, sedih, cemas atau gembira. Dengan demikian, bermain dapat merupakan sarana yang baik untuk pelampiasan emosi, sekaligus relaksasi. Misalnya saja pada saat anak bermain pura-pura atau bermain dengan bonekanya. Selain itu bermain juga dapat memberi kesempatan pada anak untuk merasa kompeten dan percaya diri. Dalam bermain, anak juga dapat berfantasi sehingga memungkinkannya untuk menyalurkan berbagai keinginan-keinginannya yang tidak dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata ataupun menetralisir berbagai emosi-emosi negatif yang ada pada dirinya seperti rasa takut, marah dan cemas.&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;"&gt;John Mayer, psikolog dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;University&lt;/st1:placetype&gt; of &lt;st1:placename st="on"&gt;New Hampshire&lt;/st1:placename&gt;&lt;/st1:place&gt;, mendefinisikan kecerdasan emosi yaitu kemampuan untuk memahami emosi orang lain dan cara mengendalikan emosi diri sendiri. Lebih lanjut pakar psikologi Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;"&gt;Pendidik dan Orang tua dapat mengembangkan keterampilan kecerdasan emosional seorang anak dengan memberikan beberapa cara yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 11.35pt; text-indent: -11.35pt; line-height: 150%;"&gt;1. Mengenali emosi diri anak , mengenali perasaan anak sewaktu perasaan yang dirasakan terjadi merupakan dasar kecerdassan emosional. kemampuan untuk memantau peraaan dari waktu kewaktu merupakan hal penting bagi pemahahaman anak. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 11.35pt; text-indent: -11.35pt; line-height: 150%;"&gt;2. Mengelola emosi, menangani perasan anak agar dapat terungkap dengan tepat kemampuan untuk menghibur anak , melepasakan kecemasan kemurungan atau ketersinggungan, atau akibat – akibat yang muncul karena kegagalan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 11.9pt; text-indent: -11.9pt; line-height: 150%;"&gt;3. Memotivasi anak, penataan emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam keterkaitan memberi perhatian dan kasih sayang untuk memotivasi anak dalam melakukan kreasi secara bebas. &lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 150%;"&gt;4. Memahami emosi anak. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 11.9pt; text-indent: -11.9pt; line-height: 150%;"&gt;5. Membina hubungan dengan anak, Setelah kita melakukan identifikasi kemudian kita mampu mengenali, hal lain yang perlu dilakukan untuk dapat mengembangkan kecerdasan emosional yaitu dengan memelihara hubungan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;6. Berkomunikasi “dengan jiwa “, Tidak hanya menjadi pembicara terkadang kita harus memberikan waktu lawan bicara untuk berbicara juga dengan demikian posisikan diri kita menjadi pendengar dan penanya yang baik dengan hal ini kita diharapkan mampu membedakan antara apa yang dilakukan atau yang dikatakan anak dengan reaksi atau penilaian&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;1. Peran Orangtua dan pendidikan dalam mengembangkan Emosi Anak(usia 0-5 th)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;Anak-anak usia 3,4,dan 5 tahun mengungkapkan sederetan emosi dan mampu menggunakan secara serasi ungkapan seperti, Gila,sedih ,bahagia, dan sudah bisa membedakan perasaan-perasaan ereka. Dalam tahu pra sekolah ini, situasi emosi anak-anak sanat tergantung keadaan dan bisa berubah secepat mereka berlih dari kegiatan satu ke kegiatan yang lain. Karena anak-anak berkembng dari anak usia 3 tahun ke anak usia 5 tahun, ada peningkatan internalisasi dn pengaturan tehadap emosi mereka. Ketika anak-anak usia 3,4 dan 5 tahunmencapai keterampilan-keterampilan kognitif dan bahasa ang baru, mereka belajar untk mengatur emosi-emosi mereka dan menggnakan bahasa untuk mengungkapkan bagaimana perasaan mereka dan perasaan orang lain. Gejolak perasaan ini sebagian besar ada di permukaan artinya mereka mulai mengerti brbagai perasaan berbeda yang mereka alami, namun mereka sulit mengatur perasaan dan meggunakan ungkapan yang sesuia untuk melukiskan perasaan itu. Gejala perasan merea sangat berhubungan dengan peristiwa-peristiwa perasaan yang terjadi pada saat itu. (Hyson,1994).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;Peran Guru di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)dalam Perkembangan Emosi, Guru mengamati dan mengawasi serta berinteraksi dengan individu-individu dan kelompok-kelmpok kecil anak-anak dengan cara-cara terancang untuk memajukan belajar dan perkembangan anak:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="color:black;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Para guru masuk dalam diskusi-diskusi      dengan anak-anak mengenai apa yang mereka lakukan menurut (Vygotsky 1986)      ini disebut suatu ”dialog Pendidikan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="color:black;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Para guru mendorong anak-anak      memecahkan masalah-masalah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="color:black;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Para guru mendengarkan dengan aktif      gagasan-gagasan anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="color:black;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Para guur memberi umpan balik dan      juga masuk dalam dialog dengan anak-anak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;Keterlibatan Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;Keterlibatan orang tua selalu dianggap perlu, misalnya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;mengajarkan mereka kebiasaan bersih, melatih anak,(VandeWalker,1908).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;Meneruskan pekerjaan sekolah dirumah mereka (epstein&amp;amp;sanders,2000)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;Membaca abuku bersama-sama dan kemudian menulis cerita mereka sendiri dalam buku catatan (Barbour, 1999).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;Dengan demikian merupakan kewajiban para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, tempat anak tumbuh dengan nyaman, sehingga dapat memancing keluar potensi dirinya, kecerdasan dan percaya diri. Disamping itu orangtua perlu memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap.&lt;/span&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;Pada masa-masa penting pertumbuhan tersebut, anak memerlukan asupan makanan bergizi yang cukup, disertai kasih sayang dan perhatian orang tua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pendekatan Hubungan Ibu dan Anak, menurut beberapa teori:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Psikoanalitis: Pengasuhan anak mempengaruhi anak pada masa oral, anal, dan genital(Freud) misalnya menyusui, makan dan toilet training.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Bowlby: Teori kelekatan artinya anak mencari kontak fisik dengan ibu, interaksi social menyenangkan, menghindari peristiwa atau orang berpotnsi membahayakan, yang menjelajah lingkungan non social&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;Perpisahan dari orang tua dan pengasuh utama kadang-kadang berat, khususnya disekolah dan bisa menjadi rasa tertekan(Denham 1998), untuk anak-anak usia 4 tahun, ketakutan yang berkaitan dengan perpisahan berlangsung singkat dan ketakutan itu lebih kuat pada orang tua ketimbang pada anak 4 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;Kesimpulan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;Setelah mengerti bahwa pendidikan perlu melibatkan orang tua dalam pendidikan anak-anak mereka guru menemukan segudang cara untuk melibatkan orang tua yang sibuk sebagai mitra dalam pendidikan anak mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;color:black;"   lang="SV" &gt;2. Peran Orangtua dan pendidikan dalam mengembangkan Emosi Anak(usia 6-12 th)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;a. Tugas Perkembangan Anak (&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="SV" &gt;usia 6-12 th)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Menurut Havighurst (1972), tugas perkembangan anak usia sekolah (6 - 12 tahun) antara lain adalah :&lt;br /&gt;1. Belajar bergaul dan bekerja sama dalam kelompok sebaya&lt;br /&gt;2. Mengembangkan keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung&lt;br /&gt;3. Mengembangkan konsep-konsep penting dalam kehidupan sehari-hari&lt;br /&gt;4. Mengembangkan hati nurani, moralitas, dan system nilai sebagai pedoman perilaku&lt;br /&gt;5. Belajar menjadi pribadi yang mandiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak masuk sekolah dasar, keinginan anak untuk menjadi anggota kelompok dan dapat diterima oleh kelompok sebayanya semakin meningkat. Keterampilan sosial menjadi penting, terutama mengenali peran sosial seseorang.  Anak memusatkan perhatian untuk dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan teman-teman sebayanya. Anak belajar untuk memberi dan menerima di antara teman-temannya dan berkeinginan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa ini, pengertian anak tentang baik-buruk, tentang norma-norma aturan serta nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya menjadi bertambah dan juga lebih fleksibel, tidak sekaku saat di usia kanak-kanak awal. Mereka mulai memahami bahwa penilaian baik-buruk atau aturan-aturan dapat diubah tergantung dari keadaan atau situasi munculnya perilaku tersebut. Nuansa emosi mereka juga makin beragam.&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka diharapkan sudah dapat menguasai ledakan-ledakan emosinya, mampu mengendalikan emosi yang tidak sesuai dengan harapan lingkungannya. Telah pula nenahami harapan lingkungan terhadap peran jenis kelaminnya, dapat mengembangkan kata hati dan mengontrol moral yang tumbuh dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hubungan interpersonal yang mereka lakukan menjadi makin luas, kegiatan yang ingin dilakukan juga makin beragam. Dalam hubungan dengan kegiatan sekolah, prestasi menjadi tema utama bagi mereka, mereka senang berkompetisi.  Mereka juga sudah dapat memperlihatkan tanggung jawab terhadap tugasnya. Anak-anak yang mampu menunjukkan prestasi akan bangga, dan hal ini tentu saja akan meningkatkan self-esteem (harga diri) anak.&lt;br /&gt;Self-esteem yang tinggi akan mengarahkan pada kepribadian yang positif, sebaliknya bagi anak-anak yang tidak mampu memberi penghargaan pada dirinya akan menimbulkan masalah baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Peran orangtua yang berkualitas dalam mengembangkan kecerdasan dan perkembangan emosi anak secara bertahap, akan mendorong potensi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kemampuan kecerdasan yang yang tinggi, pengendalian emosi yang baik, serta kuat mental spiritualnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="SV" &gt;3. Peran Orangtua dan pendidikan dalam mengembangkan Emosi Remaja (12-19 th)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sementara di masa remaja, masa yang sering dikatakan sebagai masa peralihan dari dunia anak menuju kekedewasaan yang ditandai dengan adanya perubahan-perubahan fisik maupun psikologis, memberi dampak tersendiri. Perubahan fisik yang pesat membawa dampak psikologis yang berkenaan dengan suasana hati, emosi maupun tingkahlaku yang menjadikan remaja tersebut menampilkan karekateristik yang berbeda dari masa sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa ini terjadi pergolakan emosi dan ketegangan psikologis yang muncul bersamaan dengan adanya perkembangan yang cepat baik dalam segi fisik maupun perkembangan karakteristik seksual sekunder, serta problem identitas dan konflik ketergantungan serta adanya konformitas dengan kelompok sebaya. Berkaitan dengan keadaan psikologis remaja, Erikson mengatakan bahwa saat ini adalah masa pemantapan identitas diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum remaja meninggalkan masa kanak-kanak  yang  penuh dengan rasa aman dan tergantung pada orang lain, mereka harus mengetahui siapa mereka, kemana akan mengarah dan kemungkinan apa yang akan diperolehnya. Pendapat tentang ‘siapa dan apa' dirinya ini merupakan konsep yang dimiliki untuk menunjukkan identitas diri. Keberhasilan seorang anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya juga bergantung pada bagaiman rasa tanggung jawab yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila seseorang berhasil dalam mengikuti tugas-tugas perkembangan ini maka  anak akan merasa bahagia, disukai serta dicintai oleh lingkungannya. Ia pun tidak mudah menjadi cemas dan merasa tertekan, dengan demikian ia akan sukses di kelak kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat hal-hal tersebut di atas, maka sesungguhnya tidak cukup seorang anak hanya memiliki prestasi sekolah yang tinggi, namun juga membutuhkan kecerdasan emosional dan dengan makin tercapainya kepuasan diri ia pun akhirnya mampu mencapai kecerdasaan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-1558606777032191532?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/1558606777032191532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=1558606777032191532&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/1558606777032191532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/1558606777032191532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/03/peran-orang-tua-dan-pendidikan-dalam.html' title='peran orang tua dan pendidikan dalam perkembangan emosi'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-1109131842661455468</id><published>2009-03-13T20:27:00.000-07:00</published><updated>2009-03-13T20:30:12.266-07:00</updated><title type='text'>Layanan Bimbingan Kelompok</title><content type='html'>&lt;p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; margin-left: 40px;"&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" lang="SV" &gt;Pelayanan konseling dan bimbingan kelompok sama-sama menggunakan format kelompok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; margin-left: 40px;"&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" lang="SV" &gt;Bimbingan kelompok adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;salah satu kegiatan layanan yang paling&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;banyak dipakai karena lebih efektif. Banyak orang yang mendapatkan layanan sekaligus dalam satu waktu. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Layanan ini juga sesuai dengan teori&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;belajar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena mengandung aspek social yaitu belajar bersama. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Peserta layanan akan berbagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ide dan saling mempengaruhi untuk berkembang menjadi manusia seutuhnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; margin-left: 40px;"&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" lang="SV" &gt;150 orang menjadi 12 kelompok layanan yang hendaknya dilaksanakan oleh konselor sekolah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; margin-left: 40px;"&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" lang="SV" &gt;Layanan Konseling kelompok ada 2 macam yaitu konseling dan bimingan kelompok. Yang sangat menentukan keefektifan layanan kelompok adalah suasana kelompok yang: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span stretch="" adjust="" height="" weight="" variant="" roman="" new="" times="" style="" &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" &gt;Interaksi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang dinamis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" &gt;Keterikatan emosional &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" &gt;Penerimaan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span stretch="" adjust="" height="" weight="" variant="" roman="" new="" times="" style="" &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" &gt;Altruistik, mengutamakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepedulian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terhadap orang lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span stretch="" adjust="" height="" weight="" variant="" roman="" new="" times="" style="" &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" &gt;Intelektual (rasional, cerdas dan kreatif). Menambah ilmu dan wawasan individu serta dapat menumbuhkan ide-ide cemerlang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span stretch="" adjust="" height="" weight="" variant="" roman="" new="" times="" style="" &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" lang="SV" &gt;Katarsis (mengemukakan uneg-unegnya, idenya dan gagasannya). Menyatakan emosinya yang lebih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengarah pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pengungkapan pmasalah yang dipendam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span stretch="" adjust="" height="" weight="" variant="" roman="" new="" times="" style="" &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" lang="SV" &gt;Empati (suasana yang saling memahami tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan sehingga dapat menyesuaikan sikapnya dengan tepat). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" lang="SV" &gt;Hal ini diciptakan melalui pentahapan dan kemampuan pemimpin kelompok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" lang="SV" &gt;Perbedaan antara Bimbingan dan Konseling Kelompok&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;umumnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah ada pada masalah yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dibahas. Masalah Bimbingan kelompok biasanya&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;membahas masalah-masalah umum bagi peserta layanan. Jika suasana kelompok belum tercipta maka sulit bagi peserta layanan untuk mengungkapkan masalah pribadinya sehingga konseling kelompok agak sulit pelaksanaannya dibanding Bimbingan kelompok. Dari itu, Bimbingan kelompok sangat menentukan pelaksanaan konseling kelompok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span ms="" trebuchet="" style="line-height: 115%;font-size:9;" lang="SV" &gt;Pelaksanaan layanan dapat dilaksanakan dimana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saja asal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak mengganggu proses&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;layanan dimana dinamika kelompok berlagsung maksimal dalam mencapai tujuan &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;http://konselingindonesia.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-1109131842661455468?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/1109131842661455468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=1109131842661455468&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/1109131842661455468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/1109131842661455468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/03/layanan-bimbingan-krlompok.html' title='Layanan Bimbingan Kelompok'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-4029714445842502283</id><published>2009-03-12T20:58:00.000-07:00</published><updated>2009-03-12T21:00:26.217-07:00</updated><title type='text'>Kecerdasan Emosi II</title><content type='html'>Emosi adalah suatu perasaan yang amat mendalam.&lt;br /&gt;Pengenalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah sebenarnya kecerdasan emosi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan emosi adalah suatu himpunan kemampuan mental yang membantu&lt;br /&gt;kita mengenal pasti dan memahami perasaan kita dan perasaan orang lain. Kecerdasan&lt;br /&gt;emosi dapat meningkatkan kemampuan kita mengawal perasaan kita (Meyers, 1999).&lt;br /&gt;Ada dua bahagian dalam kecerdasan emosi. Bahagian pertama melibatkan emosi&lt;br /&gt;pemahaman intelek. Bahagian kedua melibatkan emosi yang menjangkau ke dalam&lt;br /&gt;sistem intelektual dan menyebabkan terhasilnya pemikiran dan ide kreatif. Bahagian&lt;br /&gt;kedua ini amat sukar ditentukan dalam makmal tetapi dipercayai wujud.&lt;br /&gt;Dapatkah kecerdasan emosi dipelajari?&lt;br /&gt;Sekiranya kecerdasan emosi itu sama seperti kemahiran yang lain maka ianya&lt;br /&gt;terbentuk sebahagiannya oleh genetik dan sebahagian lagi oleh persekitaran. Apa yang&lt;br /&gt;perlu diajarkan ialah apakah maksud ataupun maknanya perasaan yang pelbagai itu dan&lt;br /&gt;bagaimana ia ada kaitannya dengan diri kita dan orang lain.&lt;br /&gt;Permulaannya&lt;br /&gt;Sebelum munculnya konsep kecerdasan emosi (bermula sejak 1990) kecerdasan&lt;br /&gt;lazimya dikaitkan dengan suatu kemampuan yang semula jadi, yang dilahirkan bersama&lt;br /&gt;seseorang itu – yang lebih dikenali sebagai IQ (Intelligent Quotient). Dalam IQ apa&lt;br /&gt;yang diukur adalah kemampuan seseorang menyelesaikan masalah menurut kaedah&lt;br /&gt;pentaakulan (reasoning).&lt;br /&gt;Pada tahun 1990 Dr. John D. Mayer dan Dr. Peter Salovey telah menulis satu&lt;br /&gt;artikel mengenai kecerdasan emosi di mana mereka telah secara formal mendefinisikan&lt;br /&gt;kecerdasan emosi, dan buat pertama kalinya menunjukkan bahawa kemampuan&lt;br /&gt;melaksanakan sesuatu tugas dapat digunakan untuk mengukur kecerdeasan emosi.&lt;br /&gt;Berikutan dengan itu, pada tahun 1995 Dr. Daniel Goleman pula telah menulis&lt;br /&gt;sebuah buku berjudul Emotional Intelligence, dan ini telah menarik perhatian banyak&lt;br /&gt;orang sehingga menjadi popular dan dikaji oleh beberapa orang lain.&lt;br /&gt;MOZAIMI MOHAMAD Page 2/7 Ukuran Emosi dan Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;Beberapa artikel, buku dan program televisyen telah turut mempopularkan&lt;br /&gt;perkara ini – yang dianggap “sesuatu yang baru mucul dalam kehidupan manusia.”&lt;br /&gt;Majalah Time pula menyatakan bahawa kecerdasan emosi ini “mungkin menjadi&lt;br /&gt;peramal terbaik mengenai kejayaan pencapaian kehidupan seseorang.”&lt;br /&gt;Menurut buku Emotional Inelligence yang ditulis oleh Goleman itu, terdapat&lt;br /&gt;bukti kecerdasan emosi amat bekuasa bahkan lebih berkuasa daripada IQ dalam&lt;br /&gt;sebarang domain kehidupan manusia. Dengan ertikata lain kecerdasan emosi lebih&lt;br /&gt;mampu mencorakkan kehidupan manusia daripada kecerdasan azali (sedia ada).&lt;br /&gt;Dari sudut saintifiknya pula, Mayer J.D. (1997), dalam bukunya Emotional&lt;br /&gt;Development and Emotional Intelligence, telah mendefinisikan kecerdasan emosi&lt;br /&gt;(emotional intelligence) sebagai keupayaan untuk mentaakul dengan emosi dalam&lt;br /&gt;empat perkara: mempersepsi emosi, menyepadukan emosi dalam pemikiran,&lt;br /&gt;memahami emosi dan menguruskan emosi.&lt;br /&gt;(Mayer J. D., (1997), in his book Emotional Development and&lt;br /&gt;Emotional Intelligence, defined emotional intelligence (EI) as&lt;br /&gt;the capacity to reason with emotion in four areas: to perceive&lt;br /&gt;emotion, to integrate it in thought, to understand it and to&lt;br /&gt;manage it.)&lt;br /&gt;Bersama-sama dengan Dr. Salovey dan Dr. David Caruso, Dr. Mayer telah&lt;br /&gt;membina satu himpunan (set) 12 tugasan kemampuan yang digunakan untuk menilai&lt;br /&gt;empat model kecerdasan emosi. Di antaranya termasuklah menanyakan kepada orang&lt;br /&gt;untuk mengenal pasti emosi pada air muka (emotions in faces), dan mengenal pasti&lt;br /&gt;himpunan emosi mudah yang apabila digabungkan akan menyamai perasaan yang lebih&lt;br /&gt;kompleks. Dengan cara ini kecerdasan emosi dapat diukur secara sah, wujud sebagai&lt;br /&gt;satu kemampuan tunggal, dan berkait dengan, tetapi bebas daripada, kecerdasan yang&lt;br /&gt;standard.&lt;br /&gt;Pada hari ini apa yang dimaksudkan dengan kecerdasan emosi telah diperluaskan&lt;br /&gt;lagi dan didefinisikan oleh penulis popular dengan beberapa cara – biasanya sebagai&lt;br /&gt;suatu senarai ciri-ciri personaliti, seperti “kemahiran empathi, motivasi, persistence,&lt;br /&gt;MOZAIMI MOHAMAD Page 3/7 Ukuran Emosi dan Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;kemesraan dan sosial.” Dr. Salovey, Dr. Caruso dan Dr. Mayer mendefinisikannya&lt;br /&gt;sebagai “model bercapur-campur” (mixed model) kerana ia menghimpunkan pelbagai&lt;br /&gt;bahagian personaliti.&lt;br /&gt;Model popular kecerdasan emosi mempercayai bahawa kita dapat meramalkan&lt;br /&gt;hasil kehidupan utama dengan menggunakan senarai angkubah yang pelbagai (diverse&lt;br /&gt;list of variables).&lt;br /&gt;Sungguhpun terdapat perselisihan pendapat di antara kepercayaan popular dengan&lt;br /&gt;kepercayaan saintifik masih ada persetujuan di antara kedua pihak iaitu, meluaskan lagi&lt;br /&gt;pemahaman kita terhadap apa yang dimaksudkan sebagai bijak atau bestari (smart).&lt;br /&gt;Dr. Cary Cherniss (2001) pula mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai&lt;br /&gt;kemampuan melihat (perceive), melahirkan (express), dan menguruskan (managed)&lt;br /&gt;emosi diri sendiri dan emosi orang lain. Dia telah memberi contoh bagaimana Martin&lt;br /&gt;Luther King mampu menggembelengkan aktivis dan pemimpin masyarakat membantu&lt;br /&gt;menghasilkan perubahan sosial dan masyarakat yang lebih sihat melalui kecerdasan&lt;br /&gt;emosi.&lt;br /&gt;1. Hubungan di antara pengawalan emosi dengan kejayaan kerjaya.&lt;br /&gt;Sekiranya kita lihat diri kita sendiri dan mengaitkannya dengan kejaya kita dan&lt;br /&gt;organisasi tempat kita bekerja maka kita akan dapati peranan emosi kita amat besar.&lt;br /&gt;Kejayaan kita dan organisasi kita bergantung kepada kecekapan emosi dan sosial&lt;br /&gt;(emotional and social competencies) kita yang melaksanakan tugas yang&lt;br /&gt;diperanggungjawabkan kepada kita. Sejauh manakah kita mampu mempengaruhi&lt;br /&gt;orang lain dengan kesungguhan kita melaksanakan sesuatu tugas? Sejauh mana kita&lt;br /&gt;dapat menguruskan reaksi emosi kita sendiri terhadap frustrasi ataupun kekecewaan&lt;br /&gt;yang sukar dielakkan dan kegagalan yang berlaku. Semua ini bergantung kepada&lt;br /&gt;kemampuan kita menanganinya dengan kecerdasan emsoi.&lt;br /&gt;Bagaimana Emosi Terbentuk?&lt;br /&gt;Penulisan mengenai kecedasan emosi tidak ada membincangkan bagaimana&lt;br /&gt;emosi terbentuk. Walau bagaimanapun, menurut kajian psikologi emsoi terbentuk&lt;br /&gt;menurut perspektif keturunan ras, budaya setempat (termasuklah kepercayaan&lt;br /&gt;MOZAIMI MOHAMAD Page 4/7 Ukuran Emosi dan Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;keagamaan), dan budaya sejagat menurut amalan didikan yang dipengaruhi oleh bidang&lt;br /&gt;fenominologi (phenemenological fields) seseorang.&lt;br /&gt;Manusia bertingkah laku berasaskan kepada pengalaman hasil daripada jalinan&lt;br /&gt;pemikiran, perasaan dan tindakan. Lazimnya, apa yang difikirkan turut mempengaruhi&lt;br /&gt;perasaan dan tingkah laku. Sekiranya kita memikirkan sesuatu tugas itu susah maka&lt;br /&gt;perasaan kita juga turut terpengaruh – bagaimana penerimaan perasaan kita akan&lt;br /&gt;menentukan tindakan yang akan kita ambil. Sekiranya perasaan kita menerimanya&lt;br /&gt;sebagai suatu cabaran maka kita akan berusaha untuk mencari cara mengatasi kesulitan&lt;br /&gt;itu. Tetapi, sekiranya perasaan kita menerima kesulitan itu sebagai suatu tugas yang&lt;br /&gt;berat dan yang tidak mampu dilaksanakan maka kita akan menarik diri (mengelakkan)&lt;br /&gt;daripada melakukannya.&lt;br /&gt;Dalam hal ini pengalaman kita turut memainkan peranan utama. Sekiranya kita&lt;br /&gt;berjaya melakukan sesuatu maka pengalaman itu bersifat positif dan emosi kita&lt;br /&gt;terhadapnya menjadi stabil. Pengalaman yang menecewakan pula akan turut&lt;br /&gt;menimbulkan emosi ragu-ragu untuk melakukan sesuatu – bimbang akan gagal.&lt;br /&gt;Kebimbangan dan takut akan gagl itu adalah suatu emosi yang boleh menghasilkan&lt;br /&gt;tekanan.&lt;br /&gt;Emosi dikawal oleh pemikiran dan perasaan. Pemikiran positif lazimnya&lt;br /&gt;menghasilkan perasaan positif, dan sebaliknya, pemikiran yang negatif lazimnya&lt;br /&gt;menghasilkan perasaan negatif. Pemikiran positif dan perasaan positif lazimnya tidak&lt;br /&gt;menghasilkan tekanan dan sebailknya menghasilkan kestabilan emosi. Yang&lt;br /&gt;mempengaruhi emosi lazimnya disebabkan oleh perasaan negatif yang mengahasilkan&lt;br /&gt;tekanan. Apabila tertekan emosi akan meningkat.&lt;br /&gt;Dengan penjelasan ini maka jelaslah emosi itu boleh berbentuk stabil dan tidak&lt;br /&gt;ada ketegangan (tension) dan tekanan (stress), dan boleh berbentuk tidak stabil dan&lt;br /&gt;menghasilkan ketegangan dan tekanan—kerungsingan, kebimbangan dan kegelisahan.&lt;br /&gt;Apabila emosi tidak stabil maka tingkah laku seseorang itu juga turut tidak stabil.&lt;br /&gt;MOZAIMI MOHAMAD Page 5/7 Ukuran Emosi dan Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;Mempersepsi Emosi&lt;br /&gt;Cara kita mempersepsi emosi akan menentukan tahap interaksi kita dengan orang&lt;br /&gt;lain. Emosi dapat dikesan dengan dua cara utama, iaitu, (i) melalui bahasa lisan, dan (ii)&lt;br /&gt;melalui bahasa bukan lisan.&lt;br /&gt;Bahasa lisan termasuklah kata-kata yang digunakan, nada suara, dan metaphor&lt;br /&gt;(peribahasa). Umpamanya, “Bunuh jangan lepaskan dia” membawa makna yang&lt;br /&gt;berbeza apabila diungkapkan dengan gaya yang berbeza. Nada suara juga boleh&lt;br /&gt;ditafsirkan oleh klien menurut persepsinya. Oleh yang demikikan maka anda hendaklah&lt;br /&gt;berhati-hati memilih kata-kata dan menggunakan nada suara yang memperlihatkan&lt;br /&gt;anda memiliki emosi yang stabil dan dapat diterima baik oleh klien. Demikian juga&lt;br /&gt;sekiranya anda menggunakan metaphor — pilih dengan cermat sebelum&lt;br /&gt;menggunakannya kerana ada kalanya metaphor boleh disalahertikan oleh klien anda.&lt;br /&gt;Misalnya, apabila anda menggunakan peribahasa “menyediakan payung sebelum&lt;br /&gt;hujan”. Peribahasa ini boleh digunakan tetapi penggunaannya hendaklah dengan cermat&lt;br /&gt;dan dengan nada suara yang lembut kerana klien boleh menerimanya sebagai suatu&lt;br /&gt;cemuhan seolah-olah dia tidak membuat sebarang persediaan untuk masa akan&lt;br /&gt;datangnya. Jadi, eloklah beralas bila menggunakannya, dan cara menyampaikannya&lt;br /&gt;juga hendaklah kena gaya dan masanya.&lt;br /&gt;Bahasa bukan lisan ataupun bahasa jasmaniah (body language) juga perlu diberi&lt;br /&gt;perhatian. Klien kita melihat diri kita dari perspektif keseluruhan tubuh badan kita.&lt;br /&gt;Mimik muka kita, mata kita, gerak laku tangan kita, cara kita memandang dirinya, cara&lt;br /&gt;senyuman kita dan bahkan cara kita berjalan turut diperhatikan oleh klien kita.&lt;br /&gt;Pandangan pertama itu amat penting dan perlu diberi perhatian sepenuhnya. Di&lt;br /&gt;samping memakai pakaian yang kemas, bersih dan bergaya klien turut memerhatikan&lt;br /&gt;bahasa jasmaniah anda. Anak mata kita juga dapat dibaca dan ditafsir oleh klien, dan&lt;br /&gt;itulah sebabnya ada orang yang mengatakan “sekilas ikan diair, tahu jantan betinanya”.&lt;br /&gt;Ertinya apa yang dipamerkan di lura akan turut mencerminkan yang didalam diri kita.&lt;br /&gt;Anda harus ingat, bukan mudah orang yang pertama kali kita temui mempercayai diri&lt;br /&gt;anda.&lt;br /&gt;MOZAIMI MOHAMAD Page 6/7 Ukuran Emosi dan Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;Oleh yang demikian anda wajar mempamerkan bahasa lisan dan bahasa&lt;br /&gt;jasmaniah yang wajar dan dapat diterima oleh klien sebagai usaha untuk mendapatkan&lt;br /&gt;penerimaan dan respon yang terbaik lagi positif daripada klien. Ini dapat dicapai&lt;br /&gt;sekiranya anda mampu membina emsoi yang stabil. Emosi yang stabil dapat&lt;br /&gt;ditunjukkan melalui kata-kata dan nada suara—bahasa menunjukkan bangsa dan&lt;br /&gt;bahasa jasmaniah.&lt;br /&gt;Selainitu kita juga hendaklah mampu mempersepsi emosi orang lain – mereka&lt;br /&gt;yang berinteraksi dengan kita, iaitu, klien kita. Klien juga dapat dicerap melalui bahasa&lt;br /&gt;lisan dan bahasa jasmaniah mereka — sama juga dengan yang telah dihuraikan di atas.&lt;br /&gt;Beri perhatian sepenuhnya. Fahami klien anda menurut perspektif dirinya.&lt;br /&gt;Menyepadukan Emosi Dalam Pemikiran&lt;br /&gt;Setelah mengenal pasti dan menginsafi emosi kita sendiri maka kita hendaklah&lt;br /&gt;menyepadukan persepi itu bagi diri kita sendiri, dan seterusnya menyepadukan dengan&lt;br /&gt;persepsi emsoi mereka yang berinteraksi dengan kita.&lt;br /&gt;Memahami Emosi&lt;br /&gt;Apabila kita mampu memahami emosi kita sendiri yang telah disepadukan dan&lt;br /&gt;emosi orang lain maka akan terhasillah komunikasi (interaksi) yang bermakna dan&lt;br /&gt;mesra dengan orang lain.&lt;br /&gt;Dengan menguasai emosi yang stabil maka kita dapat menjalin hubungan yang&lt;br /&gt;berempathi.&lt;br /&gt;Berempathi bererti kita dapat merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang&lt;br /&gt;berinteraksi dengan kita.&lt;br /&gt;Perhubungan yang berempathi dapat menarik perhatian mereka yang berinteraksi&lt;br /&gt;dengan kita.&lt;br /&gt;Menguruskan Emosi.&lt;br /&gt;Memantapkan kestabilan emosi (Enhancing emotional stability)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MOZAIMI BIN MOHAMAD&lt;br /&gt;Pengurus Besar&lt;br /&gt;Tabung Amanah Pendidikan Negeri Melaka&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-4029714445842502283?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/4029714445842502283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=4029714445842502283&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/4029714445842502283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/4029714445842502283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/03/kecerdasan-emosi-ii.html' title='Kecerdasan Emosi II'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-6995589754599282300</id><published>2009-03-12T20:51:00.000-07:00</published><updated>2009-03-12T20:53:17.284-07:00</updated><title type='text'>kecerdasan Emosi</title><content type='html'>1. Pengertian Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan emosi atau dikenal dengan istilah Emotional Intelligence (EI) adalah kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi. Termasuk di dalamnya kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain di sekitarnya. EI ini tidak saling bertabrakan dengan IQ karena memang punya wilayah 'kekuasaan' yang berbeda. IQ umumnya berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis, dan diasosiasikan dengan otak kiri. Sementara, EI lebih banyak berhubungan dengan perasaan dan emosi (otak kanan). Kalau ingin mendapatkan tingkah laku yang cerdas maka kemampuan emosi juga harus diasah. Karena untuk dapat berhubungan dengan orang lain secara baik kita memerlukan kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi diri dan orang lain secara baik. Di sinilah fungsi dari kecerdasan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EI bukan merupakan bakat, tapi aspek emosi di dalam diri kita yang bisa dikembangkan dan dilatih. Jadi setiap orang sudah dianugerahi oleh Tuhan kecerdasan emosi. Tinggal sejauh mana pengembangannya, itu tergantung kemauan kita sendiri. Satu yang pasti, EI kita akan terbentuk dengan baik apabila dilatih dan dikembangkan secara intensif dengan cara, metode dan waktu yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lima wilayah utama dalam EI, yakni : mengenali emosi diri, mengendalikan emosi diri, memotivasi diri, mengenali emos orang lain dan membina hubungan dengan orang lain. EI yang baik akan mampu memaksimalkan prestasi kita. Kita bisa bekerja efektif dalam sebuah tim, bisa mengenali dan mengendalikan emosinya sendiri dan orang lain dengan tepat. Umumnya, orang yang memiliki EI tinggi akan terlihat bahagia dan produktif serta sehat jasmani dan rohani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Aspek-Aspek Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek - aspek kecerdasan emosi menurut Rakhmat, 1985 adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengelolaan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengandung arti bagaimana seseorang mengelola diri dan perasaan-perasaan yang dilaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kemampuan untuk memotivasi diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan ini berguna untuk mencapai tujuan jangka panjang, mengatasi setiap kesulitan yang dialami bahkan untuk melegakan kegagalan yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Empati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empati ini dibangun dari kesadaran diri dan dengan memposisikan diri senada, serasa dengan emosi orang lain akan membantu anda membaca dan memahami perasaan orang lain tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Ketrampilan sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan ketrampilan yang dapat dipelajari seseorang semenjak kecil mengenai pola-pola berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walgito (1993) membagi faktor yang mempengruhi pesepsi menjadi dua faktor yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Faktor Internal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor internal adalah apa yang ada dalam diri individu yang mempengaruhi kecerdasan emosinya. Faktor internal ini memiliki dua sumber yaitu segi jasmani dan segi psikologis. Segi jasmani adalah faktor fisik dan kesehatan individu, apabila fisik dan kesehatan seseorang dapat terganggu dapat dimungkinkan mempengaruhi proses kecerdasan emosinya. Segi psikologis mencakup didalamnya pengalaman, perasaan, kemampuan berfikir dan motivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Faktor Eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor ekstemal adalah stimulus dan lingkungan dimana kecerdasan emosi berlangsung. Faktor ekstemal meliputi: 1) Stimulus itu sendiri, kejenuhan stimulus merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam memperlakukan kecerdasan emosi tanpa distorsi dan 2) Lingkungan atau situasi khususnya yang melatarbelakangi proses kecerdasan emosi. Objek lingkungan yang melatarbelakangi merupakan kebulatan yang sangat sulit dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://teori-psikologi.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-6995589754599282300?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/6995589754599282300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=6995589754599282300&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/6995589754599282300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/6995589754599282300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/03/kecerdasan-emosi.html' title='kecerdasan Emosi'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-8945508423631100738</id><published>2009-03-09T20:25:00.000-07:00</published><updated>2009-03-13T20:27:21.728-07:00</updated><title type='text'>PSIKOLOGI DAN PENDIDIKAN : MASALAH APLIKASI DALAM PSIKOLOGI DAN PEMBALAJARAN</title><content type='html'>&lt;div class="content"&gt;     &lt;p&gt;PRINSIP PSIKOLOGI DAN PENERAPANNYA.&lt;br /&gt;Ini merupakan pendapat penulis bahwa persoalan terhadap kemampuan penerapan yang saat ini banyak didiskusika. Pada kenyataannya banyak yang masih belum paham, baik itu pendiidk maupun psikolog. Di buku ini kita akan membahas semuanya untuk mengklarifikasi persoalan ini dan untuk menunjukan bagaimana persengketaan berakhir.&lt;br /&gt;Pengaplikasian aturan dalam Pembelajaran terlalu sering dipermasalahkan dengan alas an yang tidak sesuai. Pada saat sekarang ini, mari kita letakan pada keadaan yang sebenarnya bhwa persoalan ini bukan persoalan baru dan bukanlah masalah yang penting bagi pendidikan. Disisi lain dimana persoalan diperdebatkan disaat kontroversi berakhir. Apakah Dimana psikologi dapat mempunyai peran utama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai suatu informasi atau menjadi ssuatu kewajiban tambahan untuk menyampaikan “ Pengetahuan untuk kepentingan pengetahuan “ menjadi sebuah prinsip-prinsip pelaksanaan. Intinya adalah ditekankan bahwa persoalan ini adalah masalah umum yang telah menjadi karakteristik psikologi itu sendiri.&lt;br /&gt;Psikologi sebagai ilmu pengetahuan dan teori&lt;br /&gt;Banyak pendidik dan psikologis yang kurang paham arti dari kenyataan bahwa psikologi mengarah kepada ilmu pengetahuan dan sangat baik sebagai suatu profesi. Dijaman sekarang mengenai masalah social umumnya dan pendidikan khususnya, semuanya seperti terlupakan bahwa banyak ahli psikologi yang belum menerapkan apa yang mereka cetuskan, sama anehnya jika pembaca tidak memahami bahwa beberapa psikolog menyatakan bahwa diri mereka sebagai dasar dari ilmu pengetahuan, seperti ahli biologi, ahli psikologi dan ahli fisika yang secara personal tidak terkait langsung dengan penerapan penemuan mereka.&lt;br /&gt;Beberapa ahli psikologi melihat konstribusi mereka pada masyaraakat dan peran mereka dalam penemuan pengetahuan tentang manusia dan hewan. Secara khusus, kita mempelajari teori belajar, kita akan menemukan kebanyakan orang telah memberikan konstribusi kepada pemahaman proses belajar yang menarik perhatian dalam proses pemberian materi. Bagai mana pun, maksudnya adalah bahwa sifat dasar dari rumusan teori mereka dan prinsip umumnya lebih sering diterapkan sebagai bahan pertimbangan dasar bagi ilmu pengetahuan dari pada praktek itu sendiri.&lt;br /&gt;Teori belajar dan penerapannya sebagai  masalah umum dalam psikologi.&lt;br /&gt;Banyak para ahli psikologi mengidentifikasi diri mereka dengan dasar sebagai ahli ilmu pengetahuan yang menyarankan bahwa pentingnya untuk mempunyai dasar teori ilmu pengetahuan psikologi yang luas sebelum melakukan penerapan diberbagai prinsip, sebagai contoh, penerapan psikologi dalam program latihan telah menjadi dasar pendapaat bahwa ahli psikologi yang nomor satu dan pendidikan itu sendiri nomor dua&lt;br /&gt;Dibuku ini kita akan meninjau kembali beberapa teori belajar yang memiliki nilai baik untuk penelitian stimulasi maupun untuk penggambungan tafsiran penemuan belajar itu sendiri.&lt;br /&gt;Mengenai pemakaian teori belajar, penjelasan dari beberapa orang telah tersedia pada poin ini. Pertama penulis menyatakan bahwa menurut aturan yang berlaku sepanjang abad ke 20 untuk mengangkat pertanyaan apakah ada teori psikologi yang cocok dipakai di pendidikan, dan jika ada begaimana penyempurnaannya. Terlihat jelas dari tulisan penulis betul-betul menyimpulkan keadaan bahwa praktek dapat bermanfaat bagi perkembangan psikologi pada proses belajar..&lt;br /&gt;Banyak psikolog dan pendidik menganggap teori psikologi itu hal yang biasa. Padaahal teori psikologi merupakan salah satu bagian dari dasar ilmu pengetahuan. Jadi didalam psikologi, teori dasar dari ilmu pengetahuan merupakan jalan dalam menciptakan kespesifikasian keadaan pendidikan.&lt;br /&gt;Jadi, perdebatan ini menjadi suatu kebiasaan, contohnya antara teori thorndike dan prinsip gestalt sama halnya dnegan seringnya mensejajarkan beberapa bagian teori neo behaviorisme melawan orientasi teori kognitif atau beberapa bagian dari psikologi humanistic.&lt;br /&gt;Jadi, dalam berbagai orientasi, belajar psikologi memberikan masukan kepada dasar dari penelitian dan penemuan. , contohnya hall dan lindzley didalam teori personal merekomendasikan agar pelajar psikologi membiasakan diri mereka dengan berbagai macam teori kepribadian. Dan dapat segera membentuk komitmen terhadap teori tersebut dan mendukung penelitiannya sertaa menggambungkan penemuannya kedalam konteks teori tersebut.&lt;br /&gt;Keadaan tersebut berlanjut menjadi sesuatu kepopuleran diantara ahli psikologi sebagai jalan yang baik untuk mendukung dasar program penelitiannya, juga bagi psikologi dan pendidik dalam penggunaan prinsip dan teori psikologi pada praktek pendidikan sebagai suatu hubungan yang positif&lt;br /&gt;Sedikitnya bagi mereka yang dibebankan dengan kewajiban didalam memecahkan kembali masalah dalam praktek pendidikan dan untuk membentuk pengalaman pendidkan yang efektif , tetapi tetap tidak boleh terbatas hanya pada satu teori saja., penting bagi pembaca untuk terus berlatih setiap dasar dari teori ilmu pengetahua yang manatelah dikembangkan oleh ahli psikologi. , agar dapat memilih berbagai prinsip dan konsep yang sangat bernilai terhadap suatu situasi praktek pendidikan. Kita juga akan melihat munculnya peran didalam teori instruksional dan proses pembentukan psikoeduvational dalam menceritakan teori belajar sebagai praktek pendidikan.&lt;br /&gt;Kita perlu untuk membuang cerita lain mengenai hubungan dasar ilmu pengetahuan dan resolusi masalah praktek. , pemahaman teori belajar yang tidak aempurna bisa saja tidak menjamin kesempurnaan penerapan teori dalam situasi yang lebih spesifik. , karena ada masalah mengenai hal ini, banyak pendidik dan pendidik psokilogi kecewa dalam menerapkan ilmu psikologi secara umum dan teori belajar secara khusus karena mereka tidak dibayar dalam peningkatan praktek pendidikan.&lt;br /&gt;Bagian dari alas an menulis buku ini untuk menunjukan bagaimana gambaran teori belajar bisa atau tidak biasa diharaapkan untuk menghasilkan petunjuk bagi pendidik, dimana mereka mungkin belum siap mencuptaka petunjuk untuk praktek pendidikan, meskipun demikian semua teori belajar dapat memberikan penilaian bagi pendidik bahwa mereka menyedaiakan jalan yang sistematis untuk konsep apa yang terjadi disalam situasi praktek dan situasi penelitian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aplikasi pendidik mengenai prinsip psikologi.&lt;br /&gt;Metode ilmiah telah didukung untuk digunakan pada ilmu pendidikan sama lamanya dengan psikologi, tetapi pendidik memiliki kebiasaan melihat psikologi sebagai sumber informasi. Dalam beberapa hal, pendidik telah menganggab psikologi sebagai ilmu yang mengawaki mereka dalam mengambil kesimpulan atau strategi untuk praktek pendidikan. Tetapi mereka melewatkan bahwa psikolog mempunyai kemampuan dasar disbanding yang diterapkan dan mereka mengasumsikan bahwa teori tersebut telah memberikan resep bagi dunia pendidikan , pada bagian ini kita akan menguji sebagian hubungan antara teori psikologi dan praktek bidang pendiidkan&lt;br /&gt;Mari kita pertimbangan suatu pertanyaan yang telah menjadi kritik tentang hubungan antara teori belajar dan teori pendiidkan . pada lanjutan text, berbagai pembicara memiliki pertanyaan apakah teori belajar psikologi, diperoleh dari penelitian serta disain khusus laboratorium dengan jadwal yang sering menggunakan subjek hewan. Daapat memiliki hubungan untuk praktek pendiidkan. Pendidik tidak mempunyai pilihan untuk mengumumkan factor yang dapat memudahkan dan menganggu belajar.&lt;br /&gt;Pendidik perlu untuk memutuskan prinsip mana dalam pendapatnya, sehingga terlihat menjadi deskripsi yang alami dan benar. Dan yang mana tampak lebih relevan terhadap bermacam pengalaman belajar yang telah dirancangnya.&lt;br /&gt;Pertama, hokum yang mengacu kepada prinsip dan peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang dipakai oleh orang hokum juga berasaal dari perundang undangan dan pengenalan keadilan yang juga ditetapkan adt dan polisi.&lt;br /&gt;Kedua hokum didalam ilmu pengetahuan mengacu kepada pernyataan hubungan antara dua kondisi tentang keadaan khusus dibawah kondisi yang spesifik untuk memperkuat kebenaran observasi ilmiah diperlukan hokum ini, hokum ini boleh dipergunakan atau tidak.&lt;br /&gt;Pendapat akhir mengenai penerapan teori psikologi . dari waktu ke waktu akan dibuat acuan tentnag prinsip atau aturan psikologi bagi pendidik. Hal itu penting untuk memperjelas apa yang akan dimanfaatkan. Karna pemanfaatan teori psikologi tidak akan 100 percen penuh. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;MENGAPA DIPERLUKAN TEORI PEMBELAJARAN.&lt;br /&gt;Disini kita akan memfokuskan aspek dasar dari psikologi yang mana memasukan pengetahuan, pemahaman, perkembangan, kepribadian dan lain lian. Bagi ahli psikologi tekanan pada teori pembelajaran dan dnegan penelitian yang utama dari fakta sejarahnya bahwa teori pembelajaran menempati tingkat utama dalam perkembangan ilmu pengetahuan psikologi semenjak awal abaad ini dimulai. Memang sejarah dari perkembangan teori pembelajaran ini adalah cabang dari psikologi yang dikenal hamper isomorphic dengan sejarah psikologi sebagai suatu keteraaturan yang terpisah.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui dan memahami teori pembelajaran dan untuk dapat mengerti masalah yang timbul di dalam perkembangan teori ini perlun adanya pemahaman yang baik terhadap persoalan utama dalam teori psikologi. Oleh karena itu banyak orang yang melihat dirinya sebagai seorang psikologis atau siapa saja yang berkeinginan menggunakan psikologi untuk beberapa tujua praktek haruslah paham dengan teori belajar. Ini secara tidak langsung bagi mereka teori belajar dianggap cukup untuk memecahkan masalah penting ketika dilihat dari teori psikologi lain yang terpisah&lt;br /&gt;Salah satu dari tujuan buku ini adalah untuk memberikan proses dan asas dari gagaasan teori belajar dan mengaharapkan pembaca akan mendaapat pemahamaan teori belajar sebagai salah satu aspek dasar teori ilmu pengetahuan psikologi yang mana terkait dengan pendidikan. Catataan penting bahwa orientasi ada dan sangat mempengaruhi hubungan antaraa psikologi dan pendiidkan.&lt;br /&gt;Dengan begitu untuk dua aasas berbeda ( satu dari psikologi dan satu lagi dari pendidikan ) penulis memilih focus pada penerapan teori belajar dalam praktek pendidikan sebagai penemuan yang berharga bagi dan tentang dirinya sendiri sperti hanya suatu contoh hubungan yang umum antara psikologi dan pendidikan. Ini adalah pengalaman penulis bahwa teori belajar dan khususnya pendidikan memberikan murid murid pelajaran psikologi sebagai mana sama baiknya dengan pendidikan. Agar mereka memiliki konsep yang berbeda sebagai dasar dalam membicarakan rangkaian pelajaran. Demikianlah dirasakan sangat penting bahwa pembaca mengenal adanya dua orientasi yang berbeda antara teori belajar dan pendidikan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;MENGAPA DIPERLUKAN TEORI INSTRUKSIONAL&lt;br /&gt;Teori ini beberapa berasal dari teori belajar, yang kemudian disebut sebagai teori instruksional. Mereka mewakili usaha untuk mengembangkan teori dengan lebih memperhatikan penerapannya, seperti kemunculan dari teori instruksional ini baru saja mewakili perbandingan perkembangan didalam hubungannya antara teori belajar dan praktek pendidikan.&lt;br /&gt;Letika pada usaha masa lampau untuk menggunkan teori belajar sebagai dasar untuk membangkitkan prinsip penerapanya, dimana beberapa prinsip menjadi perhatian kedua, ini jenis yang baru dari teoritikus bahwa lebih sedikit fokus kepada prinsip dasar tingkah laku dan lebih banyak perhatian kepada prinsip instruksi untuk menunjang tercapainya objek pendidikan. Teoritis biasanya menceritakan satu atau lebih dasar teori ilmu pengetahuan psikologi untuk orientasi yang mendasari mereka.&lt;br /&gt;Pada poin ini , murid secara khas mengankat pertanyaan dimana teori instruksional berbeda dari metode pendidikan atau garis besar prosedur didalam rencana pembelajaran. Hal inn sangat penting untuk mengenal bahwa kita sendang membicarakan tentang prinsip yang agak umum yang tidak membatasi terhadap pengal;aman belajar yang khususs didalam kelas atau situasi pendidikan yang lain.&lt;br /&gt;Sepanjang decade masa lampau, berbagai macam pemimpin pendidikan (beuchamp, 1961 : getzels, 1952) telah menegaskan tentaang pemecahan secara relative dan dengan cara yang tidak sitematis yang mana kita membuat ketegasan mengenai praktek pendiidkan.&lt;br /&gt;Teori instruksional muncul didalam usahanya untuk menyediakan rencana yang lebih sistematis didalam pengajaran, masih berdasarkan prinsip yang telah diuji secara ilmiah. Yang lain yang diperhatikan adalah perbedaan antara teori belajar dan teori instruksional, dalam penjelasan yang singkat, teori pembelajaran yang ideal haruslah komnprehensih , karena itulah kenapa dating perubahan dalam treori belajar, tetapi bisa jadi tidak lengkap untuk praktek pengaplikasian bagi pendidik. Teori instruksional ideal haruslah komprehensif agar mudah dilaksanakan.&lt;br /&gt;Mungkin baarang kalai lebih bermanfaat jika kita membedakan alurnya dimana pendidik diharapkan menggunakan teori instruksional dengan alurnya yang mana telah dicobakan sebelumnya pada teori belajar. Yang perlu ditekankan dalam teori instruksional ini adalah prosedur yang langsung yang telah dibuktikan dan cocok dengan konsepsi social didalam pengalaman pendidikan.&lt;br /&gt;Tetapi pengarang yang berbeda (siegel) yang menentang bahwa teori instruksional didapat dari teori belajar “ selengkapnya yang harus dipatuhi bahwa keberhasilan belajar dinyatakan karena berhasilnya instuksi (pengajaran)&lt;br /&gt;Satu lagi masalah yang terakhir, kita harus mempertimbangkan hubunga antara teori instruksional dan teori pendidikan yang lain (Gordon, 1968) mendefinisikan bahwa teori iinstruksional lebih luas dan banyak diterima, bahwa serangkaian pernyataan didasari dengan penelitian yang dapat dijawab atau ditemukan jawaabanya akan menjadi suatu yang dapat meramalkan perubahan yang khusus didalam lingkungan pendidikan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;PSYCHOEDUCATIONAL DESAIN&lt;br /&gt;Tinjauan ulang mengenai teori belajar dan teori instruksional menunjukan bahwa keduanya belum bias dikatakan teori ilmiah yang valid dan konsisten untuk saat sekarang, walaupun pantas dipertimbangkan untuk kemajuan.&lt;br /&gt;Sebagai pengganti keberadaan teori yang sesuai terutama tentang teori instruksional&lt;br /&gt;Apa yang dapat dilakukan oleh praktisi bidan pendidikan dan psikologi pendidikan untuk meningkatkan praktek di bidang pendidikan , atas dasar ini muncul teori di bidang psikologi dan di bidang pendidikan. Bagaimana kta merancang bentuk hubungan antara psikologi dan pendidikan, terutama antara learning teori dan instructional &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertentangan tersebut membutuhkan jalan tengah antara peneliti psikologi dengan praktisi pendidikan. Para ahli mendukung kesepakatan akan perbaikan dasar dari praktek pendidikan, yang sesuai dengan masukan dari colaborati berbagai ahli professional, seperti…….., ahli menggambarkan penelitian tersebut dap roses perkembangannya dari maukan yang benar benar dibutuhkan untuk memperbaiki proses pembelajaran , dan akan memberikan peran lebih kepada ahli psikologi sebagai psychoeducational disain. Para ahli akhirnya mempertimbangkan beberapa implikasi akan pendekatan psikoedutional disain untuk psikolog , guru dan praktisi pendiidkan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedikit penjelasan terlihat pada pendiidk yang sedang mencari resep instruktinal dalam praktek pendiidkan . tujuanya adalah untuk mengenalkan pendidik dengan beberapa teori psikologi yang baru baru ini muncul dalam bidang pendiidkan dan pelaksanaan pengamalannya bagi bidang pendidikan, dikarenakan banyak siswa ingin melihat bentuk praktis tatcara seseorang dalam mengajar. Kebalikannya, masalah yang dihadapi penulis bahwa kita harus memberikan penekanan lebig besar atas pengembangan yang rasional terhadap act mengajar dari pada metode mencawan dalam pelajaran di kelas &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini adlh keyakinan penulis bhw skrg kita dapat melakukan pengembangan materi dalam pendidikan dan psikilogi yang mana akan berguna bg pendidik, dan juga riset pd jaman ini serta langkah perkembangan ; inilah yang dimaksud dari proses pembentukan psikoedu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Objek utamanya adalah untuk memberikan berbagai pemahaman bg penddk akan pentingnya latihan dan pilihan yg ada utk lbh memahami proses dr knsp instruksional. Dan untuk merencanakan lbh spesifik akan pengalaman penddikan.&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://one.indoskripsi.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-8945508423631100738?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/8945508423631100738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=8945508423631100738&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/8945508423631100738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/8945508423631100738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/03/psikologi-dan-pendidikan-masalah.html' title='PSIKOLOGI DAN PENDIDIKAN : MASALAH APLIKASI DALAM PSIKOLOGI DAN PEMBALAJARAN'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-9164434589389232933</id><published>2009-03-09T06:08:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T06:13:22.005-07:00</updated><title type='text'>Landasan Konseling agama</title><content type='html'>Penderita gangguan jiwa sering tidak menyadari apa yang sebenarnya&lt;br /&gt;sedang melanda dirinya. Ia gelisah, cemas, tak bersemangat, terkadang&lt;br /&gt;takut, ragu-ragu, tak percaya diri, tetapi ia sendiri tidak tahu&lt;br /&gt;persis apa sebenarnya yang menyebabkan keadaan-keadaan tersebut. Di&lt;br /&gt;kalangan masyarakat, ada yang menyarankan agar penderita itu dibawa&lt;br /&gt;kepada dukun, karena gejala itu ada hubungannya dengan gangguan&lt;br /&gt;makhluk halus. Di sisi yang lain, ada yang menganjurkan agar penderita&lt;br /&gt;dibawa kepada kepada dokter jiwa karena ia dianggap sakit jiwa.&lt;br /&gt;Fenomena itu menunjukkan bahwa masyarakat belum memahami fungsi&lt;br /&gt;bimbingan dan konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun di sekolah sudah ada guru BP yang menangani masalah kesulitan&lt;br /&gt;belajar bagi siswa-siswa bermasalah, tetapi pada umumnya masyarakat&lt;br /&gt;belum bisa membedakan tugas dan fungsi guru BP dengan guru lainya.&lt;br /&gt;Layanan Bimbingan dan Konseling kejiwaan pada umumnya baru tumbuh pada&lt;br /&gt;masyarakat perkotaan, terutama-kota-kota besar, karena hiruk pikuk&lt;br /&gt;kehidupan manusia di kota besar dengan segala permasalahannya sangat&lt;br /&gt;memungkinkan timbulnya gang­guan jiwa bagi orang yang tidak siap&lt;br /&gt;mental atau yang terlalu berat beban mentalnya dalam mengatasi&lt;br /&gt;problema kehidupan yang dialaminya. Meskipun belum ada data penelitian&lt;br /&gt;lapangan, nampaknya pengguna jasa layanan Bimbingan dan Konseling&lt;br /&gt;kejiwaan masih terbatas pada kalangan menengah ke atas, dan pada&lt;br /&gt;kelompok yang relatip tidak dekat dengan agama. Di kalangan masyarakat&lt;br /&gt;santri, jika ada seseorang yang merasa bermasalah biasanya lebih suka&lt;br /&gt;sowan kepada kyai untuk minta doa dan berkahnya agar sembuh dari&lt;br /&gt;gangguan jiwa itu. Apa yang dilakukan oleh para kyai terhadap tamu&lt;br /&gt;yang mohon di doakan dan diberkahi itu sebenarnya memang merupakan&lt;br /&gt;jenis layanan konseling, meski paradigmanya berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat dakwah di Indonesia pada umumnya masih berkutat di seputar&lt;br /&gt;tabligh, yakni sekedar menyampaikan seruan atau informasi tentang&lt;br /&gt;Islam. Usaha mensosiali­sasikan Islam dengan persuasip masih merupakan&lt;br /&gt;teori yang dipelajari di bangku kuliah atau di diskusikan dalam&lt;br /&gt;seminar-seminar, belum menjadi perencanaan apalagi program aksi yang&lt;br /&gt;terkordinasi. Orientasi dakwah di Indonesia pada umunya masih monoton,&lt;br /&gt;normatip dan idealistik. Para da’i pada umumnya belum tertarik dengan&lt;br /&gt;penelitian dakwah sehingga apa yang menjadi kebutuhan masyarakat mad’u&lt;br /&gt;tidak diketahui secara empirik, dan para da’i dalam dakwahnya hanya&lt;br /&gt;memberikan apa yang mereka punyai, bukan memberikan apa yang&lt;br /&gt;dibutuhkan. Kelompok masyarakat bermasalah termasuk yang belum&lt;br /&gt;diteliti oleh para da’i sehingga merekapun tidak tahu persis apa yang&lt;br /&gt;dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi masyarakat dakwah yang sedemikian itu maka logis jika&lt;br /&gt;bentuk Bimbingan dan Konseling Agama belum menarik perhatian para&lt;br /&gt;da’i. meskipun masyarakat sebenarnya sudah membutuhkan. Dewasa ini,&lt;br /&gt;bentuk pemberian layanan Bimbingan dan Konseling Agama mestinya sudah&lt;br /&gt;menjadi agenda dakwah, yakni dakwah yang bersifat khusus. Kenyataannya&lt;br /&gt;hanya sedikit da’i yang memusatkan perhatian dakwahnya kepada kelompok&lt;br /&gt;orang bermasalah , dan itupun masih bersifat improfisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ekaliezh.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-9164434589389232933?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/9164434589389232933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=9164434589389232933&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/9164434589389232933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/9164434589389232933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/03/landasan-konseling-agama.html' title='Landasan Konseling agama'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-725897844926286591</id><published>2009-03-09T05:08:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T05:10:36.230-07:00</updated><title type='text'>Pengertian Konseling</title><content type='html'>Pengertian Konseling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara Etimologi berasal dari bahasa Latin “consilium “artinya “dengan” atau bersama” yang dirangkai dengan “menerima atau “memahami” . Sedangkan dalam Bahasa Anglo Saxon istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti”menyerahkan” atau “menyampaikan”&lt;br /&gt;…interaksi yang(a)terjadi antara dua orang individu ,masing-masing disebut konselor dan klien ;(b)terjadi dalam suasana yang profesional (c)dilakukan dan dijaga sebagai alat untuk memudah kan perubahan-perubahan dalam tingkah laku klien. (Pepinsky 7 Pepinsky ,dalan Shertzer &amp;amp; Stone,1974)&lt;br /&gt;…suatu proses dimana konselor membantu konseli membuat interprestasi-interprestasi tetang fakta-fakta yang berhubungan dengn pilihan,rencana,atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuat.&lt;br /&gt;(Smith,dalam Shertzer &amp;amp; Stone,1974)&lt;br /&gt;Konseling merupakan suatu proses untuk memebantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap waktu. (Division of Conseling Psychologi)&lt;br /&gt;…suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kapadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinyasendiri dan lingkungan. (Mc. Daniel,1956)&lt;br /&gt;Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan potensi-potensi yang yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketige hal tersebut. (Berdnard &amp;amp; Fullmer ,1969)&lt;br /&gt;Hal-hal pokok yang terdapat pada pengertian Konseling menurut ahli yang tersebut diatas adalah:&lt;br /&gt;Rumusan (Pepinsky &amp;amp; Pepinsky,dalam Shertzer &amp;amp; Stone,1974)&lt;br /&gt;1. Konseling adalah suatu proses interaksi antara dua orang individu,masing-masing disebut konselor dan klien.&lt;br /&gt;2. Dilakukan dalam suasana yang profesionalBertujuan dan berfungsi sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku klien.&lt;br /&gt;Rumusan (Smith,dalam Shertzer &amp;amp; Stone,1974)&lt;br /&gt;1. Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan&lt;br /&gt;2. Bantuan diberikan dengan meng interpreswtasikan fakta-fakta atau data,baik mengenai individu yang dibimbing sendiri maupun lingkungannya,khususnya menyangkut pilihan-pilihan,dan rencana-rencana yang dibuat.&lt;br /&gt;Rumusan (Division of Conseling Psychologi)&lt;br /&gt;1. Konseling merupakan proses pemberian bantuan&lt;br /&gt;2. Bantuan diberikan kepada individu-individu yang sedang mengalami hambatan atau gangguan dalam proses perkembangan.&lt;br /&gt;Rumusan (Mc. Daniel,1956)&lt;br /&gt;1. Konseling merupakan rangkaian pertemuan antara konselor dengan klien.&lt;br /&gt;2. Dalam pertemuan itu konselor membantu klien mengatasi kesulitan-kesulitanyang dihadapi.&lt;br /&gt;3. Tujuan pemberian bantuan itu adalah agar klien dapat menyesuaiaknnya dirinya,baik dengan diri maupun dengan lingkungan.&lt;br /&gt;Berdasarkan Rumusan diatas maka yang dimaksud dengan Konseling adalah:&lt;br /&gt;“Proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara Konseling oleh seorang ahli (disebut Konselor) kepada individu yang sedang mengalami masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dialami oleh klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser_2%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C04%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://eko13.wordpress.com/2008/05/04/pengertian-konseling/"&gt;http://eko13.wordpress.com/2008/05/04/pengertian-konseling/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-725897844926286591?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/725897844926286591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=725897844926286591&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/725897844926286591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/725897844926286591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/03/pengertian-konseling.html' title='Pengertian Konseling'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-4041066979549078397</id><published>2009-03-09T05:03:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T05:05:37.645-07:00</updated><title type='text'>Pengertian Bimbingan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser_2%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h2 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-outline-level:2; 	font-size:18.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	font-weight:bold;} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;Pengertian Bimbingan&lt;br /&gt;&lt;p&gt; Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang yang ahli, namun tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian dari bimbingan. Pengertian tetang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya sejak awal abad ke-20, yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu muncul rumusan tetang bimbingan sesuai dengan perkembangan pelayanan bimbingan, sebagai suatu pekerjaan yang khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya. Pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli memberikan pengertian yang saling melengkapi satu sama lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka untuk memahami pengertian dari bimbingan perlu mempertimbangkan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut :&lt;span id="more-16"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih,mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya” (Frank Parson ,1951).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Frank Parson merumuskan pengertian bimbingan dalam beberapa aspek yakni bimbingan diberikan kepada individu untuk memasuki suatu jabatan dan mencapai kemajuan dalam jabatan. Pengertian ini masih sangat spesifik yang berorientasi karir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Bimbingan membantu individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri” (Chiskolm,1959).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pengertian bimbingan yang dikemukan oleh Chiskolm bahwa bimbingan membantu individu memahami dirinya sendiri, pengertian menitik beratkan pada pemahaman terhadap potensi diri yang dimiliki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Bimbingan merupakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan realisasi pribadi setiap individu” (Bernard &amp;amp; Fullmer ,1969).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pengertian yang dikemukakan oleh Bernard &amp;amp; Fullmer bahwa bimbingan&lt;br /&gt;dilakukan untuk meningkatakan pewujudan diri individu. Dapat dipahami bahwa bimbingan membantu individu untuk mengaktualisasikan diri dengan lingkungannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Bimbingan sebagai pendidikan dan pengembangan yang menekankan proses belajar yang sistematik” (Mathewson,1969).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mathewson mengemukakan bimbingan sebagai pendidikan dan pengembangan yang menekankan pada proses belajar. Pengertian ini menekankan bimbingan sebagai bentuk pendidikan dan pengembangan diri, tujuan yang diinginkan diperoleh melalui proses belajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari beberapa pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli maka dapat diambil kesimpulan tentang pengertian bimbingan yang lebih luas, bahwa bimbingan adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkunganya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wordpress.com/tag/bimbingan/" title="View all posts in Bimbingan"&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://eko13.wordpress.com/2008/05/04/pengertian-konseling/"&gt;http://eko13.wordpress.com/2008/05/04/pengertian-konseling/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-4041066979549078397?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/4041066979549078397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=4041066979549078397&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/4041066979549078397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/4041066979549078397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/03/pengertian-bimbingan.html' title='Pengertian Bimbingan'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-4846439074249724231</id><published>2009-03-08T06:29:00.000-07:00</published><updated>2009-03-08T06:30:28.393-07:00</updated><title type='text'>Kecerdasan Emosional</title><content type='html'>Pengertian Kecerdasan Emosional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin diri dan lingkungan sekitarnya. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada anak-anak. Orang-orang yang dikuasai dorongan hati yang kurang memiliki kendali diri, menderita kekurangmampuan pengendalian moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goleman (1997), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman (1997) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain. Menurut Harmoko (2005) Kecerdasan emosi dapat diartikan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain. Jelas bila seorang indiovidu mempunyai kecerdasan emosi tinggi, dapat hidup lebih bahagia dan sukses karena percaya diri serta mampu menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Dio (2003), dalam konteks pekerjaan, pengertian kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengetahui yang orang lain rasakan, termasuk cara tepat untuk menangani masalah. Orang lain yang dimaksudkan disini bisa meliputi atasan, rekan sejawat, bawahan atau juga pelanggan. Realitas menunjukkan seringkali individu tidak mampu menangani masalah–masalah emosional di tempat kerja secara memuaskan. Bukan saja tidak mampu memahami perasaan diri sendiri, melainkan juga perasaan orang lain yang berinteraksi dengan kita. Akibatnya sering terjadi kesalahpahaman dan konflik antar pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan pemahaman negatif masyarakat tentang emosi yang lebih mengarah pada emosionalitas sebaiknya pengertian emosi dalam lingkup kecerdasan emosi lebih mengarah pada kemampuan yang bersifat positif. Didukung pendapat yang dikemukakan oleh Cooper (1999) bahwa kecerdasan emosi memungkinkan individu untuk dapat merasakan dan memahami dengan benar, selanjutnya mampu menggunakan daya dan kepekaan emosinya sebagai energi informasi dan pengaruh yang manusiawi. Sebaliknya bila individu tida memiliki kematangan emosi maka akan sulit mengelola emosinya secara baik dalam bekerja. Disamping itu individu akan menjadi pekerja yang tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan, tidak mampu bersikap terbuka dalam menerima perbedaan pendapat , kurang gigih dan sulit berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa pendapat diatas dapatlah dikatakan bahwa kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. 3 (tiga) unsur penting kecerdasan emosional terdiri dari : kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri); kecakapan sosial (menangani suatu hubungan) dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rujukan buku :&lt;br /&gt;Atkinson, R. L. dkk. 1987. Pengantar Psikologi I. Jakarta : Penerbit Erlangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cooper Cary &amp;amp; Makin Peter, 1995. Psikologi Untuk Manajer. Jakarta: Arcan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goleman, Daniel. 1997. Emotional Intelligence. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harmoko, R., Agung, 2005. Kecerdasan Emosional. Binuscareer.com&lt;br /&gt;http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2008/11/19/pengertian-kecerdasan-emosional/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-4846439074249724231?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/4846439074249724231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=4846439074249724231&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/4846439074249724231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/4846439074249724231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/03/kecerdasan-emosional.html' title='Kecerdasan Emosional'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-1390436999916752482</id><published>2009-03-08T06:12:00.000-07:00</published><updated>2009-03-08T06:35:07.560-07:00</updated><title type='text'>Pengertian Emosi</title><content type='html'>1. Pengertian Emosi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini para ahli tampaknya masih beragam dalam memberikan rumusan tentang emosi dengan orientasi teoritis yang bervariasi pula. Kita mencatat beberapa beberapa teori tentang emosi dengan sudut pandang yang berbeda, diantaranya: teori Somatic dari William James, teori Cannon-Bard, teori Kogntif Singer-Schachter, teori neurobiological dan teori evolusioner Darwin. Perbedaan kerangka teori inilah yang menyebabkan kesulitan tersendiri untuk merumuskan tentang emosi secara tunggal dan universal. Terdapat sekitar 550 sampai 600 kata dalam bahasa Inggris yang memiliki makna yang sama dengan kata emosi, baik itu dalam bentuk kata kerja, kata benda, kata sifat, dan kata keterangan (Averil, 1975; Johnson Laird &amp;amp; Oatley, 1989; Storm &amp;amp; Storm, 1987). Meski tidak didapati rumusan emosi yang bersifat tunggal dan universal, tetapi tampaknya masih bisa ditemukan persesuaian umum bahwa keadaan emosional merupakan satu reaksi kompleks yang berkaitan dengan kegiatan dan perubahan-perubahan secara mendalam yang dibarengi dengan perasaan kuat atau disertai dengan keadaan afektif (J.P.Chaplin. 2005). English and English (Syamsu Yusuf, 2003) menyebut emosi ini sebagai “A complex feeling state accompanied by characteristic motor and grandular activities”. Menurut Abin Syamsuddin Makmun (2003) bahwa aspek emosional dari suatu perilaku, pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel, yaitu: (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus); (2) perubahan–perubahan fisiologis yang terjadi pada individu; dan (3) pola sambutan. Dalam situasi tertentu, pola sambutan yang berkaitan dengan emosi seringkali organisasinya bersifat kacau dan mengganggu, kehilangan arah dan tujuan. Berkenaan dengan perubahan jasmaniah yang terjadi terkait dengan emosi seseorang, Syamsu Yusuf (2003) memberikan penjelasan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpesona&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi elektris pada kulit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peredaran darah bertambah cepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkejut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denyut jantung bertambah cepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernafas panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit marah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupil mata membesar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air liur mengering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdiri bulu roma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terganggu pencernaan, otot tegang dan bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dia mengemukakan pula tentang ciri-ciri emosi, yaitu: (1) lebih bersifat subyektif daripada peristiwa psikologis lainnnya seperti pengamatan dan berfikir; (2) bersifat fluktuatif atau tidak tetap, dan (3) banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera dan subyektif. Lebih jauh, Nana Syaodih Sukmadinata (2005) mengemukakan empat ciri emosi, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengalaman emosional bersifat pribadi dan subyektif. Pengalaman seseorang memegang peranan penting dalam pertumbuhan rasa takut, sayang dan jenis-jenis emosi lainnya. Pengalaman emosional ini kadang–kadang berlangsung tanpa disadari dan tidak dimengerti oleh yang bersangkutan kenapa ia merasa takut pada sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu ditakuti. Lebih bersifat subyektif dari peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berfikir (Syamsu Yusuf, 2003)&lt;br /&gt;2. Adanya perubahan aspek jasmaniah. Pada waktu individu menghayati suatu emosi, maka terjadi perubahan pada aspek jasmaniah. Perubahan-perubahan tersebut tidak selalu terjadi serempak, mungkin yang satu mengikuti yang lainnya. Seseorang jika marah maka perubahan yang paling kuat terjadi debar jantungnya, sedang yang lain adalah pada pernafasannya, dan sebagainya.&lt;br /&gt;3. Emosi diekspresikan dalam perilaku. Emosi yang dihayati oleh seseorang diekspresikan dalam perilakunya, terutama dalam ekspresi roman muka dan suara/bahasa. Ekspresi emosi ini juga dipengaruhi oleh pengalaman, belajar dan kematangan.&lt;br /&gt;4. Emosi sebagai motif. Motif merupakan suatu tenaga yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan. Demikian juga dengan emosi, dapat mendorong sesuatu kegiatan, kendati demikian diantara keduanya merupakan konsep yang berbeda. Motif atau dorongan pemunculannya berlangsung secara siklik, bergantung pada adanya perubahan dalam irama psikologis, sedangkan emosi tampaknya lebih bergantung pada situasi merangsang dan arti signifikansi personalnya bagi individu Menurut J.P. Chaplin (2005), motif lebih berkenaan pola habitual yang otomatis dari pemuasan, sementara reaksi emosional tidak memiliki pola atau cara-cara kebiasaan reaktif yang siap pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, Fehr &amp;amp; Russel (1984) Shaver, Schwarts, Kirson &amp;amp; O’Connor (1987) menyebutkan, emosi memiliki tiga bentuk, yaitu passivity, intentionality, dan subjectivity. Passivity berasal dari kata Yunani kuno abad ke-18 yaitu “pathe”, artinya sama dengan “nafsu” atau “hasrat”. Makna dasar dari passivity adalah berubah secara drastis, terutama berubah menjadi sangat buruk. Kata “pasif” seringkali digunakan dalam menerangkan kata-kata emosi. Sehingga kata-kata semacam “jatuh cinta”, “terjebak amarah” dikonotasikan sebagai tindakan pasif. Artinya, emosi hanyalah tindakan refleks sebagai hasil pengalaman sensoris sederhana, yang berada di bawah kontrol pribadi. Padahal sejatinya, manusia hidup memiliki kontrol yang lebih tidak sekadar emosinya, sehingga emosi tidak sekadar pasif. Intentionality (kesengajaan) masih sering dikaitkan dengan “nafsu”, tapi bisa bermakna yang sama sekali berbeda dengan passivity jika diterapkan dalam pengertian sehari-hari. Intentionality maksudnya, bahwa emosi terjadi karena suatu kesengajaan. Misalnya, orang tidak marah secara tiba-tiba, tanpa sebab musabab tetapi selalu ada sesuatu yang membuat dia marah, atau takut terhadap sesuatu, senang terhadap sesuatu, dan seterusnya. Sesuatu itu adalah objek kesengajaan dari emosi, sebagai hasil dari evaluasi dari sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya. Subjectivity. Biasanya, emosi selalu dikaitkan dengan perbuatan subjektif sebagai akibat dari sebuah pengalaman diri terhadap objek eksternal. Meski demikian, emosi juga bersifat objektif, karena bisa dinilai sebagai baik atau buruk; bermanfaat atau berbahaya, bergantung kepada penilaian pribadi terhadap emosi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan dan emosi pada dasarnya merupakan dua konsep yang berbeda tetapi tidak bisa dilepaskan. Perasaan selalu saja menyertai dan menjadi bagian dari emosi. Perasaan (feeling) merupakan pengalaman yang disadari yang diaktifkan oleh rangsangan dari eksternal maupun internal (keadaan jasmaniah) yang cenderung lebih bersifat wajar dan sederhana. Demikian pula, emosi sebagai keadaan yang terangsang dari organisme namun sifatnya lebih intens dan mendalam dari perasaan. Menurut Nana Syaodih Sukadinata (2005), perasaan menunjukkan suasana batin yang lebih tenang, tersembunyi dan tertutup ibarat riak air atau hembusan angin sepoy-sepoy sedangkan emosi menggambarkan suasana batin yang lebih dinamis, bergejolak, dan terbuka, ibarat air yang bergolak atau angin topan, karena menyangkut ekspresi-ekspresi jasmaniah yang bisa diamati. Contoh: orang merasa marah atas kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, dalam konteks ini, marah merupakan perasaan yang wajar, tetapi jika perasaan marahnya menjadi intens dalam bentuk angkara murka yang tidak terkendali maka perasaan marah tersebut telah beralih menjadi emosi. Orang merasa sedih karena ditinggal kekasihnya, tetapi jika kesedihannya diekspresikan secara berlebihan, misalnya dengan selalu diratapi dan bermuram durja, maka rasa sedih itu sebagai bentuk emosinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan dan emosi seseorang bersifat subyektif dan temporer yang muncul dari suatu kebiasaan yang diperoleh selama masa perkembangannya melalui pengalaman dari orang-orang dan lingkungannya. Perasaan dan emosi seseorang membentuk suatu garis kontinum yang bergerak dari ujung yang yang paling postif sampai dengan paling begatif, seperti: senang-tidak senang (pleasant-unpleasent), suka-tidak suka (like-dislike), tegang-lega (straining-relaxing), terangsang-tidak terangsang (exciting-subduing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Syamsu Yusuf (2003) emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu: emosi sensoris dan emosi psikis. Emosi sensoris yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang dan lapar. Emosi psikis yaitu emosi yang mempunyai alasan-alasan kejiwaan, seperti : (1) perasaan intelektual, yang berhubungan dengan ruang lingkup kebenaran; (2) perasaan sosial, yaitu perasaan yang terkait dengan hubungan dengan orang lain, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok; (3) perasaan susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika (moral); (4) perasaan keindahan, yaitu perasaan yang berhubungan dengan keindahan akan sesuatu, baik yang bersifat kebendaan maupun kerohanian; dan (5) perasaan ke-Tuhan-an, sebagai fitrah manusia sebagai makhluk Tuhan (Homo Divinas) dan makhluk beragama (Homo Religious)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Nana Syaodih Sukadinata (2005) mengetengahkan tentang macam-macam emosi individu, diantaranya: (1) takut, cemas dan khawatir. Ketiga macam emosi ini berkenaan dengan rasa terancam oleh sesuatu; (2) marah dan permusuhan, yang merupakan suatu perayaan yang dihayati seseorang atau sekelompok orang dengan kecenderungan untuk menyerang; (3) rasa bersalah dan duka, yang merupakan emosi akibat dari kegagalan atau kesalahan dalam melakukan perbuatan yang berkenaan norma; dan (4) cinta, yaitu jenis emosi yang menurut Erich Fromm berkembang dari kesadaran manusia akan keterpisahannya dengan yang lain, dan kebutuhan untuk mengatasi kecemasan karena keterpisahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang memiliki pola emosional masing-masing yang berupa ciri-ciri atau karakteristik dari reaksi-reaksi perilakunya. Ada individu yang mampu menampilkan emosinya secara stabil yang ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengontrol emosinya secara baik dan memiliki suasana hati yang tidak terlau variatif dan fluktuatif. Sebaliknya, ada pula individu yang kurang atau bahkan sama sekali tidak memiliki stabilitas emosi, biasanya cenderung menunjukkan perubahan emosi yang cepat dan tidak dapat diduga-duga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kematangan emosi (emotional maturity) seseorang dapat ditunjukkan melalui reaksi dan kontrol emosinya yang baik dan pantas, sesuai dengan usianya. Adalah hal yang wajar bagi seorang anak kecil usia 3-5 tahun, apabila dia merasa kecewa ketika tidak dipenuhi keinginannya untuk dibelikan permen coklat atau mainan anak-anak dan kemudian mengekspresikan emosinya dengan cara menangis dan berguling-guling di lantai. Tetapi, akan menjadi hal yang berbeda, jika hal itu terjadi pada seorang remaja atau dewasa dan jika hal itu benar-benar terjadi maka jelas dia belum menunjukkan kematangan emosinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas telah dikemukakan di atas bahwa pola sambutan emosional seringkali organisasinya kacau-balau dan hal ini sangat tampak pada mereka yang mengalami gangguan kekacauan emosional (emotional disorder) yaitu sejenis penyakit mental dimana reaksi emosionalnya tidak tepat dan kronis serta sangat menonjol atau menguasai kepribadian yang bersangkutan. Untuk kasus-kasus kekacauan emosi yang sangat ekstrem biasanya diperlukan terapi tersendiri dengan bantuan ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sifatnya yang dinamis, bisa dipelajari dan lebih mudah diamati, maka para ahli dan peneliti psikologi cenderung lebih tertarik untuk mengkaji tentang emosi daripada unsur-unsur perasaan. Daniel Goleman salah seorang ahli psikologi yang banyak menggeluti tentang emosi yang kemudian melahirkan konsep Kecerdasan Emosi, yang merujuk pada kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan usianya, emosi seorang individu pun akan terus mengalami perkembangan, mulai dari. Dengan mengutip pendapat Bridges, Loree (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak, sebagai berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-Ciri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat dilahirkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi, cahaya, temperatur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0 – 3 bln&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 – 6 bln&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan, kebencian dan ketakutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 – 12 bln&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18 bulan pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 th&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 th&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu, cemas dan kecewa sedangkan kesenangan berdiferensiasi ke dalam harapan dan kasih sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memelihara Emosi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi sangat memegang peranan penting dalam kehidupan individu, akan memberi warna kepada kepribadian, aktivitas serta penampilannya dan juga akan mempengaruhi kesejahteraan dan kesehatan mentalnya. Agar kesejahteraan dan kesehatan mental ini tetap terjaga, maka individu perlu melakukan beberapa usaha untuk memelihara emosi-emosinya yang konstruktif. Dengan merujuk pada pemikiran James C. Coleman (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005), di bawah ini dikemukakan beberapa cara untuk memelihara emosi yang konstruktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bangkitkan rasa humor. Yang dimaksud rasa humor disini adalah rasa senang, rasa gembira, rasa optimisme. Seseorang yang memiliki rasa humor tidak akan mudah putus asa, ia akan bisa tertawa meskipun sedang menghadapi kesulitan.&lt;br /&gt;2. Peliharalah selalu emosi-emosi yang positif, jauhkanlah emosi negatif. Dengan selalu mengusahakan munculnya emosi positif, maka sedikit sekali kemungkinan individu akan mengalami emosi negatif. Kalaupun ia menghayati emosi negatif, tetapi diusahakan yang intensitasnya rendah, sehingga masih bernilai positif.&lt;br /&gt;3. Senatiasa berorientasi kepada kenyataan. Kehidupan individu memiliki titik tolak dan sasaran yang akan dicapai. Agar tidak bersifat negatif, sebaiknya individu selalu bertolak dari kenyataan, apa yang dimiliki dan bisa dikerjakan, dan ditujukan kepada pencapaian sesuatu tujuan yang nyata juga.&lt;br /&gt;4. Kurangi dan hilangkan emosi yang negatif. Apabila individu telah terlanjur menghadapi emosi yang negatif, segeralah berupaya untuk mengurangi dan menghilangkan emosi-emosi tersebut. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui: pemahaman akan apa yang menimbulkan emosi tersebut, pengembangan pola-pola tindakan atau respons emosional, mengadakan pencurahan perasaan, dan pengikisan akan emosi-emosi yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calvin S. Hall &amp;amp; Gardner Lidzey (editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis). Jakarta : Kanisius&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chaplin, J.P. (terj. Kartini Kartono).2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hurlock, Elizabeth B. 1980. Developmental Phsychology. New Yuork : McGraw-Hill Book Company&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumadi Suryabrata. 1984. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Rajawali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syamsu Yusuf LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/06/09/memahami-emosi-individu/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-1390436999916752482?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/1390436999916752482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=1390436999916752482&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/1390436999916752482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/1390436999916752482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/03/1.html' title='Pengertian Emosi'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-1064146912492556790</id><published>2009-03-08T05:50:00.000-07:00</published><updated>2009-03-08T05:53:01.378-07:00</updated><title type='text'>Cara Mengatasi Emosi</title><content type='html'>Ketika emosi dan amarah memuncak maka segala sifat buruk yang ada dalam diri kita akan sulit dikendalikan dan rasa malu pun kadang akan hilang berganti dengan segala sifat buruk demi melampiaskan kemarahannya pada benda, binatang, orang lain, dll di sekitarnya.&lt;br /&gt;Banyak orang bilang kalau menyimpan emosi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat pecah sewaktu-waktu dan bisa melakukan hal-hal yang lebih parah dari orang yang rutin emosian. Oleh sebab itu sebaiknya bila ada rasa marah atau emosi sebaiknya segera dihilangkan atau disalurkan pada hal-hal yang tidak melanggar hukum dan tidak merugikan manusia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ciri-ciri orang yang tidak mampu mengandalikan emosinya :&lt;br /&gt;1. Berkata keras dan kasar pada orang lain.&lt;br /&gt;2. Marah dengan merusak atau melempar barang-barang di sekitarnya.&lt;br /&gt;3. Ringan tangan pada orang lain di sekitarnya.&lt;br /&gt;4. Melakukan tindak kriminal / tindak kejahatan.&lt;br /&gt;5. Melarikan diri dengan narkoba, minuman keras, pergaulan bebas, dsb.&lt;br /&gt;6. Menangis dan larut dalam kekesalan yang mendalam.&lt;br /&gt;7. Dendam dan merencanakan rencana jahat pada orang lain. dsb…&lt;br /&gt;Cara lainnya :&lt;br /&gt;1. Rasakan Yang Orang Lain Rasakan&lt;br /&gt;Cobalah bayangkan apabila kita marah kepada orang lain. Nah, sekarang tukar posisi di mana anda menjadi korban yang dimarahi. Bagaimana kira-kira rasanya dimarahi. Kalau kemarahan sifatnya mendidik dan membangun mungkin ada manfaatnya, namun jika marah membabi buta tentu jelas anda akan cengar-cengir sendiri.&lt;br /&gt;2. Tenangkan Hati Di Tempat Yang Nyaman&lt;br /&gt;Jika sedang marah alihkan perhatian anda pada sesuatu yang anda sukai dan lupakan segala yang terjadi. Tempat yang sunyi dan asri seperti taman, pantai, kebun, ruang santai, dan lain sebagainya mungkin tempat yang cocok bagi anda. Jika emosi agak memuncak mingkin rekreasi untuk penyegaran diri sangat dibutuhkan.&lt;br /&gt;3. Mencari Kesibukan Yang Disukai&lt;br /&gt;Untuk melupakan kejadian atau sesuatu yang membuat emosi kemarahan kita memuncak kita butuh sesuatu yang mengalihkan amarah dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan dan dapat membuat kita lupa akan masalah yang dihadapi. Contoh seperti mendengarkan musik, main ps2 winning eleven, bermain gitar atau alat musik lainnya, membaca buku, chating, chayang-chayangan dengan kekasih pujaan hati, menulis artikel, nonton film box office, dan lain sebagainya. Hindari perbuatan bodoh seperti merokok, make narkoba, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;4. Curahan Hati / Curhat Pada Orang Lain Yang Bisa Dipercaya&lt;br /&gt;Menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri kita mungkin dapat sedikit banyak membantu mengurangi beban yang ada di hati. Jangan curhat pada orang yang tidak kita percayai untuk mencegah curhatan pribadi kita disebar kepada orang lain yang tidak kita inginkan. Bercurhatlah pada sahabat, pacar / kekasih, isteri, orang tua, saudara, kakek nenek, paman bibi, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;5. Mencari Penyebab Dan Mencari Solusi&lt;br /&gt;Ketika pikiran anda mulai tenang, cobalah untuk mencari sumber permasalahan dan bagaimana untuk menyelesaikannya dengan cara terbaik. Untuk memudahkan gunakan secarik kertas kosong dan sebatang pulpen untuk menulis daftar masalah yang anda hadapi dan apa saja kira-kira jalan keluar atau solusi masalah tersebut. Pilih jalan keluar terbaik dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada. Mungkin itu semua akan secara signifikan mengurangi beban pikiran anda.&lt;br /&gt;6. Ingin Menjadi Orang Baik&lt;br /&gt;Orang baik yang sering anda lihat di layar televisi biasanya adalah orang yang kalau marah tetap tenang, langsung ke pokok permsalahan, tidak bermaksud menyakiti orang lain dan selalu mengusahakan jalan terbaik. Pasti anda ingin dipandang orang sebagai orang yang baik. Kalau ingin jadi penjahat, ya terserah anda.&lt;br /&gt;7. Cuek Dan Melupakan Masalah Yang Ada&lt;br /&gt;Ketika rasa marah menyelimuti diri dan kita sadar sedang diliputi amarah maka bersikaplah masa bodoh dengan kemarahan anda. Ubah rasa marah menjadi sesuatu yang tidak penting. Misalnya dalam hati berkata : ya ampun…. sama yang kayak begini aja kok bisa marah, nggak penting banget sich…&lt;br /&gt;8. Berpikir Rasional Sebelum Bertindak&lt;br /&gt;Sebelum marah kepada orang lain cobalah anda memikirkan dulu apakah dengan masalah tersebut anda layak marah pada suatu tingkat kemarahan. Terkadang ada orang yang karena diliatin sama orang lain jadi marah dan langsung menegur dengan kasar mengajak ribut / berantem. Masalah sepele jangan dibesar-besarkan dan masalah yang besar jangan disepelekan.&lt;br /&gt;9. Diversifikasi Tujuan, Cita-Cita Dan Impian Hidup&lt;br /&gt;Semakin banyak cita-cita dan impian hidup anda maka semakin banyak hal yang perlu anda raih dan kejar mulai saat ini. Tetapkan impian dan angan hidup anda setinggi mungkin namun dapat dicapai apabila dilakukan dengan serius dan kerja keras. Hal tersebut akan membuat hal-hal sepele tidak akan menjadi penting karena anda terlalu sibuk dengan rajutan benang masa depan anda. Mengikuti nafsu marah berarti membuang-buang waktu anda yang berharga.&lt;br /&gt;10. Kendalikan Emosi Dan Jangan Mau Diperbudak Amarah&lt;br /&gt;Orang yang mudah marah dan cukup membuat orang di sekitarnya tidak nyaman sudah barang tentu sangat tidak baik. Kehidupan sosial orang tersebut akan buruk. Ikrarkan dalam diri untuk tidak mudah marah. Santai saja dan cuek terhadap sesuatu yang tidak penting. Tujuan hidup anda adalah yang paling penting. Anggap kemarahan yang tidak terkendali adalah musuh besar anda dan jika perlu mintalah bantuan orang lain untuk mengatasinya.&lt;br /&gt;11. Untuk meredam amarah orang lain sebaiknya kita tidak ikut emosi ketika menghadapi orang yang sedang dilanda amarah agar masalah tidak menjadi semakin rumit. Cukup dengarkan apa yang ingin ia sampaikan dan jangan banyak merespon. Tenang dan jangan banyak hiraukan dan dimasukkan dalam hati apa pun yang orang marah katakan. Cukup ambil intinya dan buang sisanya agar kita tidak ikut emosi atau menambah beban pikiran kita.&lt;br /&gt;12. Jika marahnya karena sesuatu yang kita perbuat maka kalau bukan kesalahan kita jelaskanlah dengan baik, tapi kalau karena kesalahan kita minta maaf saja dan selesaikanlah dengan baik penuh ketenangan batin dan kesabaran dalam mengatasi semua kemarahannya. Lawan api dengan air, jangan lawan api dengan api. Semoga berhasil menjinakkan emosi rasa marah anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By:http://www.die-silver.co.cc/2009/03/pasti-back-link-di-sini.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-1064146912492556790?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/1064146912492556790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=1064146912492556790&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/1064146912492556790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/1064146912492556790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/03/cara-mengatasi-emosi.html' title='Cara Mengatasi Emosi'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-2816167027447429660</id><published>2009-03-08T05:33:00.000-07:00</published><updated>2009-03-08T05:42:27.948-07:00</updated><title type='text'>Pemicu Emosi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Emosi adalah Reaksi terhadap masalah yang tampak dan sangat pentingbagi kesejahteraan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi sering kali terjadi sangat cepat tanpa kita sadari prosesnya dalam diri kitahingga emosi kita keluar/mencuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemicu Emosi :&lt;br /&gt;1. Seleksi Alam             Penilain otomatis (melakukan penilaian terhdaap pemicu Emosi)                data base penilaian emosional&lt;br /&gt;2. Pemicu Emosi spesifik pada masing-masing individu&lt;br /&gt;3. Pemicu Spesifik bersifat universal&lt;br /&gt;4. Pemicu berupa pristiwa/suasana/tema&lt;br /&gt;5. Ancaman            takut, marah&lt;br /&gt;6. kehilangan             Sedih, Kecewa&lt;br /&gt;7. Penilaian Reflektif            Mempertimbangkan apaa yang terjadi ketika tidak tahu apa maksudnya&lt;br /&gt;8. Mengingat kembali emosi di masa lalu&lt;br /&gt;9. Imajinasi&lt;br /&gt;10. Membicarakan pengalaman emosional masa lalu&lt;br /&gt;11. Empati/menyaksikanpengalaman emosi orang lain&lt;br /&gt;12. Instruksi orang lain mengenai emosional&lt;br /&gt;13. Kekerasan norma social&lt;br /&gt;14. Membuat penampakan /ekspresi tertentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efektifitas Upaya Mengurangi Pemicu Emosi&lt;br /&gt;1. Kedekatan Tema yang berkembang&lt;br /&gt;2. Peristiwa pemicu menyerupai pemicu asli&lt;br /&gt;3. Semakin awal pemicu dipelajari&lt;br /&gt;4. Beban emosional pada pembelajaran awal&lt;br /&gt;5. kepadatan (sering dialami, berulang)&lt;br /&gt;6. Gaya emosi             Memang mudah terpicu emosinya atau tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku Emosi&lt;br /&gt;1. Sinyal           Ekspresi, suara&lt;br /&gt;2. Aksi              marah bias memukul, bias muntah&lt;br /&gt;3. Perubahan Internal            Orang yang stress lama mengalami perubahan hormon&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-2816167027447429660?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/2816167027447429660/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=2816167027447429660&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/2816167027447429660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/2816167027447429660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/03/pemicu-emosi.html' title='Pemicu Emosi'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6952015092144030483.post-109332560604988712</id><published>2009-02-24T23:48:00.000-08:00</published><updated>2009-03-08T05:56:26.654-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bimbingan Konseling'/><title type='text'>Fungsi, Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling</title><content type='html'>Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah :&lt;br /&gt;1. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;3. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.&lt;br /&gt;4. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.&lt;br /&gt;5. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.&lt;br /&gt;6. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.&lt;br /&gt;7. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.&lt;br /&gt;8. Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.&lt;br /&gt;9. Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.&lt;br /&gt;10. Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli&lt;br /&gt;&lt;!--–[if !supportLists]–--&gt; Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan, baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. Prinsip-prinsip itu adalah:&lt;br /&gt;1. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual).&lt;br /&gt;2. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.&lt;br /&gt;3. Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.&lt;br /&gt;4. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.&lt;br /&gt;5. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.&lt;br /&gt;6. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.&lt;br /&gt;Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut.&lt;br /&gt;1. Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.&lt;br /&gt;2. Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.&lt;br /&gt;3. Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.&lt;br /&gt;4. Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.&lt;br /&gt;5. Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.&lt;br /&gt;6. Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.&lt;br /&gt;7. Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;8. Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;9. Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.&lt;br /&gt;10. Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.&lt;br /&gt;11. Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6952015092144030483-109332560604988712?l=rmfatihah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rmfatihah.blogspot.com/feeds/109332560604988712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6952015092144030483&amp;postID=109332560604988712&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/109332560604988712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6952015092144030483/posts/default/109332560604988712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rmfatihah.blogspot.com/2009/02/fungsi-prinsip-dan-asas-bimbingan-dan.html' title='Fungsi, Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling'/><author><name>eka lisdiana</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_OFNRt5Q8i74/S71TVthDKHI/AAAAAAAAABQ/sZ_j1LZfbD4/S220/ekalis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
